Monday, November 3, 2025
dingin
Monday, March 10, 2025
hangat
Pada tanggal ini, biasanya, pagi-pagi Ambu menelpon untuk mengucapkan selamat ulang tahun, yang selalu kurespon dengan canggung. Sepertinya itu salah satu alasan kenapa aku tidak suka ulang tahun: perasaan canggung saat diberi ucapan. Entahlah, yang jelas, pagi tadi tidak ada telepon dari Ambu, dan itu membuatku lumayan sedih.
Ngomong-ngomong, dua hari lalu, Ning bilang ia mendoakan Ambu sehabis salat Isya. Aku tanya, Ning mendoakan apa. "Berdoa supaya Ambu hidup lagi," katanya.
Aku bilang, coba pikirkan doa yang lain, karena jika doa itu dikabulkan, Ambu akan hidup lagi dan datang sebagai zombie, dan ia kemungkinan besar akan ketakutan.
Setelah itu, aku jadi merenung; betapa lemah manusia saat berhadapan dengan kematian. Manusia tahu dan sadar dengan sepenuh hati bahwa kematian adalah keniscayaan, sebuah antrian di mana semua orang sedang menunggu giliran. Tapi, ketika ujung usia itu datang menghampiri orang terdekatnya, manusia tetap gelagapan. Sedih, kaget, hancur.
Lalu, ketika perasaan tak menyenangkan itu pelan-pelan memudar, manusia mencoba menerka apa yang akan terjadi ketika kematian itu bisa dibatalkan. Tak hanya menerka, kukira, tapi juga berharap. Bukan hanya Ning, sepertinya kami semua pernah berpikir hal serupa: bagaimana kalau Ambu tidak meninggal 8 bulan lalu? Bagaimana kalau kematian itu tidak pernah datang dan besok pagi Ambu ada di rumah, dengan wajah dan tubuh yang segar bugar sedang menyiram tanaman?
Sungguh imajinasi yang menyenangkan, meski kami kerap lupa bahwa itu pikiran yang cukup egois. Kehilangan tetap menyakitkan, tapi berharap takdir bisa dibelokkan tak memberikan dampak apa pun selain hati yang semakin nelangsa. Ambu sudah meninggal, dan itu tentu saja yang terbaik. Tidak sakit lagi, tidak batuk lagi, dan diselimuti ketenangan entah di mana pun Ambu berada saat ini.
Ambu, umurku tiga puluh enam. Tidak muda lagi. Aku tidak tahu kapan ujung usia itu akan tiba, tapi tentu semakin dekat. Aku tidak tahu apa-apa soal hidup pasca kematian. Namun, saat hari itu tiba, semoga kita semua bisa berkumpul lagi. Semua orang ada di rumah, menonton sinetron di ruang tengah, makan tempe goreng atau martabak keju, dan minum teh tubruk hangat bersama-sama dari gelas yang besar itu.
Saturday, December 23, 2023
kompas
Sunday, August 7, 2022
apakah tidak sebaiknya menyerah saja dan terima bahwa kita sesungguhnya memang tidak tahu apa-apa?
Ia jenis orang yang tidak pernah memikirkan apa pun. Namun, malam itu ia memikirkan sesuatu yang membuatnya gelisah. Ia memikirkan kematian.
Membayangkan ketiadaan, kekosongan, dan hal-hal lain yang tak mampu ia petakan pasca seseorang mati membuatnya merasa bingung dan sedikit takut. Ia membuka laptop, menyetel musik, dan merenungkan betapa aneh dan tidak masuk akalnya bahwa pada suatu titik semua orang akan mati lalu memasuki kegelapan abadi dan meninggalkan segala hal yang mereka miliki, kenali, ketahui, benci, idamkan, perjuangkan, dan cintai.
Kemudian ia membuka kulkas, mengambil alpukat yang tinggal separuh lalu menaburkan gula di atasnya dan memakannya dengan sendok. Sembari mengunyah, ia bertanya-tanya mengapa kematian, sebagai sebuah fenomena alam, masih saja menerbitkan perasaan yang kurang menyenangkan bagi manusia. Ia bertanya-tanya mengapa manusia, dengan proses pembelajarannya yang begitu panjang selama ribuan tahun tidak bisa menempatkan kematian sebagai sesuatu yang biasa-biasa saja seperti bangun pagi atau menggoreng telur atau rapat RT atau mencabut uban.
Tiga jam kemudian, ia mulai lelah --atau mungkin bosan-- memikirkan kematian. Ia menutup laptop, mematikan lampu, menyalakan kipas, berbaring di kasur, menarik selimut, dan bertanya pada dirinya sendiri, "Dari tadi sibuk memikirkan kematian, memangnya kau pernah benar-benar hidup?"
Wednesday, October 6, 2021
omong kosong 4.0 #9
Sebelum pukul empat biasanya anak-anak telah menunggu di samping pos kamling. Ada yang sudah mandi dan rapi jali dengan bedak masih jelas di muka, ada pula yang baru selesai bermain dengan baju berlumur lumpur dan muka berdebu.
Mereka menunggu Paman Odong-odong. Saban hari, setiap pukul empat sore, ia tiba di tempat itu. Melayani anak-anak yang berniat menebus bungah dengan selembar lima ribu rupiah.
Pukul empat tepat, Paman Odong-odong belum datang. Anak-anak itu masih terlihat santai. Telat beberapa menit saja tak masalah, pikir mereka.
Lima menit berlalu, belum ada tanda-tanda kehadirannya.
Sepuluh menit, lagu-lagu anak dari speaker odong-odong yang biasanya nyaring terdengar sampai ujung gang, belum kunjung muncul.
Lima belas menit, beberapa anak mulai gelisah.
"Ada yang aneh, tidak seperti biasanya."
"Betul, Paman Odong-odong tak pernah terlambat barang sedetik pun."
"Mungkin ada suatu keperluan yang masih ia lakukan."
"Keperluan apa?"
"Ya, tidak tahu. Makan di warung, numpang merokok di pangkalan ojek, membeli sayur, mengurus anak, apa pun."
"Memang ia masih melakukan itu semua?"
"Tidak tahu, aku hanya mengira-ngira saja."
"Tapi tetap saja ini aneh, selama bertahun-tahun ia selalu datang tepat waktu."
"Bagaimana jika hari ini dia tidak datang?"
"Tidak mungkin! Paman Odong-odong pasti datang!"
"Ya, kita tidak boleh secepat itu kehilangan harapan. Ia bukan Godot. Penantian kita takkan sia-sia."
Setengah jam.
Empat puluh menit.
Hanya ada kesunyian.
Sebagian besar anak sudah lesu. Keteguhan hati mereka mulai rapuh. Satu per satu memutuskan untuk pulang. Kekecewaan dan perut lapar bukanlah kombinasi yang menyenangkan.
Baru beberapa langkah berjalan, mereka mendengar sesuatu dari ujung gang. Bukan lagu anak-anak, tapi sebuah letusan senapan.
Sontak mereka berlari ke arah keributan. Di ujung gang, mereka melihat sepasukan bersenjata lengkap, menggiring seorang pria dari dalam rumah.
Di antara pasukan itu, anak-anak melihat satu sosok yang sangat mereka kenal. Kali ini, alih-alih mengayuh odong-odong, sosok itu menenteng senjata laras panjang. Ia mengedipkan sebelah mata ke arah mereka kemudian berlalu pergi sebelum orang-orang kampung berhamburan keluar.
omong kosong 4.0 #8
Monday, October 4, 2021
omong kosong 4.0 #7
Sejak tempat produksi minuman kerasnya tutup lantaran digerebek polisi, Badrun kini menganggur. Ia tak memiliki keahlian apa pun selain meracik alkohol, sesuatu yang diwariskan kakek dan bapaknya, yang juga hanya mampu melakukan itu sepanjang hidupnya.
Di sela-sela waktunya (yang tentu saja selalu sela), Badrun memiliki hobi baru: menonton orang bermain tenis di lapangan sebelah alun-alun setiap Minggu pagi. Seumur hidup ia belum pernah bermain tenis. Menurutnya, tenis adalah olahraga milik orang berduit, serupa dengan golf. Badminton, sepakbola, catur, semua orang bisa melakukannya di mana saja, bahkan di gang atau lapangan dekat sawah dengan peralatan seadanya. Sementara tenis, memerlukan persyaratan-persyaratan yang tidak bisa ditebus oleh orang sepertinya.
Maka begitulah, setiap Minggu pagi ia duduk di trotoar, menyaksikan pejabat, orang berpengaruh, pengusaha, dan kolega mereka yang entah siapa mengayunkan raket dari balik kawat besi.
Istri Badrun awalnya tidak senang dengan hobi suaminya.
“Mas, kowe ki timbangane ra ono gawean mending golek duit.”
Badrun bergeming. Ocehan istrinya tak lebih dari angin lalu. Setiap Minggu pagi, ia tetap berangkat ke lapangan. Lama-lama istrinya jengah juga. Biarlah, pikirnya, mungkin itu rekreasi bagi suaminya. Mungkin Badrun sangat ingin bermain tenis dan sudah cukup puas dengan hanya menontonnya.
Tapi, yang tidak diketahui istrinya adalah ini: setiap orang-orang itu memukul bola, Badrun membayangkan bola-bola sebagai kepala pejabat, orang berpengaruh, pengusaha, dan kolega mereka yang entah siapa itu. Ia membayangkan kepala mereka dihantam raket ke lapangan yang keras, memantul, untuk kemudian dihantam lagi berkali-kali.
Ia membayangkan wajah memar, gigi rontok, mata bonyok, dan batok kepala pecah menghamburkan otak dan darah.
Menyaksikan itu, Badrun tak hanya tergelak, kadang ia juga tertawa begitu nyaring, begitu nyaring sampai ia tersedak.
“Ini baru hiburan,” katanya.
omong kosong 4.0 #6
Kampungku banjir lagi, kali kedua di tahun ini. Tak separah yang pertama, hanya dua meter. Tempo hari bagian rumahku yang tidak terendam hanya antena tivi, kali ini lumayan, lampu di atap tidak kena air jadi bapak tidak perlu pusing lagi berutang lampu baru di warung Wak Soleh. Pagi tadi beberapa wartawan datang meliput. Sebagian langganan ke sini, sebagian baru sekali kulihat. Mereka mengajukan pertanyaan-pertanyaan standar tentang apa yang kami rasakan melihat kampung kebanjiran, apa harapan kami terhadap pemerintah untuk menangani banjir, dan seterusnya. Salah seorang wartawan, yang baru pertama kali kulihat, bertanya kenapa kami tidak pindah saja dari sini, toh kampung ini setiap tahun langganan banjir. Kujawab kami tidak keberatan dengan banjir karena kami memiliki insang. Ia tertawa canggung. Kuulangi, kami tidak keberatan dengan banjir karena kami memiliki insang. Ia tak lagi tertawa, mungkin menganggapku kurang waras lalu pergi mewawancarai petugas BPBD yang sedang mendistribusikan sembako. Malamnya para wartawan dan relawan pergi. Kampung kembali sunyi, dan kami semua kembali ke rumah masing-masing, lelap tertidur di dasar air.
Monday, October 12, 2020
omong kosong 4.0 #5
Sesaat sebelum melemparkan molotov ke arah gedung itu, Budi tiba-tiba teringat kehidupan masa kecilnya bersama kawan-kawan di kampung. Bermain yoyo, merebus bekicot menggunakan kaleng sarden bekas, mencoret-coret boks telepon umum menggunakan obeng, mencari kodok di sawah kemudian mengikatnya pada mrecon, jajan batagor, dan mengaji saban sore di masjid. Ah, seru juga masa kecilku, gumamnya sembari menyaksikan kekacauan yang mungkin tak akan reda sampai besok lusa.
omong kosong 4.0 #4
Sate kambing yang sedang ia santap sore itu rasanya tak sesedap biasanya. Agak getir di lidah dan aromanya seperti kematian. Ia protes pada penjualnya dan meminta untuk diganti dengan sepiring sate yang baru. "Mohon maaf, kami kehabisan stok daging kambing akibat serbuan serigala minggu lalu. Supaya tetap bisa berjualan, kami menggunakan mayat-mayat keluarga dan tetangga kami yang belum sempat dibakar secara massal di alun-alun. Mohon maaf sekali lagi, karena situasi ini, kami beri es teh gratis." Ia mengangguk mengerti, kemudian minta tambah nasi.
Tuesday, June 16, 2020
fuck you and your woke opini demi konten
Malam itu, setelah turun dari mobil, seperti biasa Kirana langsung berlari ke arah perosotan dan ayunan. Di sana sudah ada beberapa anak yang sedang bermain, kira-kira seumuran anak TK. Kirana, yang saat itu masih berumur 3 tahun, mendekat, ikut mengantri di belakang mereka. Saya berdiri mengawasi tak jauh dari situ sambil membuka ponsel. Beberapa menit kemudian, saya lihat ia masih berdiri di tempatnya semula, belum juga mendapat giliran. Saya amati, anak-anak itu tampak sengaja tidak memberinya kesempatan untuk ikut bermain.
Kemudian, seorang anak perempuan, yang tampaknya paling tua di antara mereka datang mendekat, sambil menunjuk wajah Kirana, ia berseru pada kawan-kawannya, "Anak ini jangan diajak main ya, karena mukanya hitam!"
Saya terperanjat, dan selama beberapa detik tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Beberapa orang dewasa yang ada di situ, yang sebagian pasti adalah orang tua dari anak-anak ini, hanya tersenyum canggung. Satu orang di antaranya bahkan terkekeh menyaksikan kejadian yang sungguh tak elok itu.
Kirana tampak murung. Saat itu, ia belum paham dengan konsep warna kulit dan bingung kenapa tidak boleh ikut bermain. Saya langsung mengajaknya menunggu di mobil. Untuk menghiburnya, saya membiarkannya menonton video youtube, sementara saya berusaha mengatur emosi. Kejadian itu membangkitkan ingatan tentang berbagai pengalaman pahit yang saya rasakan karena berkulit gelap, terutama saat masih kecil.
Saya sepenuhnya sadar bahwa anak kecil tadi tidak jahat dan ucapan serta pikiran seperti itu tidak datang begitu saja dari langit, tapi diajarkan oleh lingkungan dan orang-orang terdekat. Namun tetap saja, saya tidak bisa menahan segala perasaan marah, sedih, dan kecewa untuk hadir. Saat istri saya selesai praktik, masuk mobil, dan bertanya kenapa muka saya masam, jawaban saya adalah, "Baru kali ini aku ingin membakar anak kecil hidup-hidup."
Rasisme adalah salah satu hal buruk yang tumbuh subur dalam kepala orang Indonesia, dan sekarang mereka semua tiba-tiba peduli dengan hal itu? Eat fucking shit.
Sunday, April 19, 2020
gelisah
(Klik pada gambar untuk mengunduh)
Sunday, March 22, 2020
meringkuk dalam gua
Apa lagi, saya bekerja dalam divisi kehumasan. Nyaris tak ada yang bisa dikerjakan belakangan ini, baik di kantor maupun di rumah. Pekerjaan saya sebagian besar berhubungan dengan orang lain, pekerjaan yang mensyaratkan interaksi yang kini dibatasi. Beberapa program bulanan dibatalkan, roadshow ke berbagai daerah yang menjadi agenda rutin sepanjang bulan Ramadan dibatalkan, liputan berita untuk media internal dibatasi, media gathering dibatalkan. Ini semua terasa seperti weekend super panjang yang kurang menyenangkan. Ganjil sekali, hari-hari belakangan ini saya justru rindu bekerja.
Bukankah menakjubkan, betapa tatanan sosial, ekonomi, politik, dan entah apa lagi yang selama ini terasa mapan mampu dijungkirbalikkan oleh makhluk kecil ini? Betapa kita ternyata sangat rapuh dan segala pencapaian yang kita raih dalam ribuan tahun episode peradaban seolah tak ada apa-apanya di hadapan sebuah virus. Betapa kita sesungguhnya tak berbeda dari manusia purba yang meringkuk ketakutan di dalam gua saat geledek menyambar di malam buta, tak peduli secanggih apa pun teknologi yang tertanam pada segala perangkat di sekeliling kita.
Kita takut dan bersedia melepaskan apa pun yang kita punya agar selamat dari pandemi ini. Setiap grafik, setiap data, setiap temuan atas fenomena ini membuat kita semakin cemas, membuat kita rajin memanjatkan doa agar petaka ini kalau bisa hanya menimpa orang asing di seberang lautan sana, dan bukan tetangga apa lagi diri kita. Kita meletakkan jarak sekian hasta dari orang lain dengan harapan tak ada nasib buruk yang diam-diam menyusup ke saku baju atau lubang hidung. Ribuan tahun kemudian, kita kembali meringkuk di lantai gua masing-masing.
Seolah segala keterasingan ini belum cukup gloomy, hidup kita juga masih harus dibumbui dengan berbagai macam hal yang membuat kita mengurut dada: omong kosong milik para buzzer, para politikus yang perilaku dan congornya sama-sama mengkhawatirkan, penimbun masker dan hand sanitizer, ambruknya pasar modal, serbuan informasi yang tak jelas kebenarannya di grup chat, serta bayangan suram tentang perantau yang kemungkinan tidak bisa berlebaran di kampung halaman.
Tapi, separah apa pun keadaan hari ini, semua akan lewat belaka. Hidup akan kembali normal serupa sedia kala. Vaksin akan ditemukan, yang sakit akan sembuh, ekonomi akan membaik, dan kota akan kembali diisi hiruk pikuk. Manusia adalah spesies paling tangguh dan keras kepala yang pernah berjalan di atas planet ini. Sepandir apa pun kita, kita mampu untuk membangun kembali rumah dari puing terakhir yang ditinggalkan oleh bencana sebesar apa pun. Kita tak akan punah jika bukan kita sendiri yang berinisiatif melakukan bunuh diri massal.
Tenang saja, kita telah dikutuk untuk berumur panjang.
Thursday, January 2, 2020
omong kosong 4.0 #3
Tuesday, November 19, 2019
omong kosong 4.0 #2
omong kosong 4.0 #1
Monday, November 5, 2018
kelindan
Atas nama nostalgia, saya mengajak Zizi dan Kirana menyusuri jalan-jalan yang dulu sering saya lalui di kota ini. Seperti biasa, banyak yang berubah. Dulu, ia hanya bagian kecil dari Kabupaten Bandung yang sering dianggap pinggiran oleh penduduk Bandung. Orang Cimahi yang bersekolah di Bandung pasti kenyang diolok-olok (gurauan, tentu saja) karena tinggal di sini. Tampaknya, sekarang ia sudah jadi kota betulan.
Dari Pasar Baros, melaju ke arah Dustira, Pasar Antri, Bioskop Rio yang sekarang telah berubah jadi toko ponsel, Pasar Atas, Cibabat, Cimindi, dan putar balik ke arah alun-alun. Melewati beberapa gerai restoran waralaba baru, reruntuhan depot tempat bermain ding-dong, taman, stasiun kereta, tukang bakso langganan, warnet, kios rokok, tempat les Bahasa Inggris, telepon umum, bubur ayam di depan Alfamart, dan toko baju yang masih buka sejak puluhan tahun lalu dan entah kapan akan tutup.
Di perjalanan, bayangan tentang orang-orang yang pernah saya kenal di sini tentu bermunculan. Bersama si A makan di warung itu, bersama si B dan si C main Counter Strike di tempat itu, naik kereta ke Stadion Siliwangi untuk nonton Persib dengan si D, E, dan seterusnya. Beberapa dari mereka, saat ini masih tetap berkontak dan menjadi kawan baik saya. Tapi sebagian besar, sedihnya, saya tidak tahu lagi bagaimana kabarnya.
Hidup itu ternyata aneh juga. Di suatu waktu, rute hidup kita pernah berkelindan dengan jalan hidup orang lain. Kita mengisi waktu bersama, bercengkerama, berkawan akrab, berkomunikasi intens. Tapi kemudian, karena satu dan lain hal, kelindan itu terurai. Kita dan mereka kembali menjadi orang asing. Sementara kelindan hidup itu terus terjadi, berulang-ulang menjadi siklus.
"Bapak, Nana laparrrr," katanya tiba-tiba, membuyarkan lamunan. Saya bawa mereka ke arah McDonald's di daerah Sangkuriang yang konon baru dibuka. Kemajuan pesat ada McD di Cimahi, batin saya. Sembari mengunyah cheeseburger, saya mengamati wajah anak saya yang luar biasa polos itu. Mulut dan pipinya belepotan saos tomat dan bumbu kentang goreng. Lucu sekali.
Suatu hari nanti, apakah saya akan menjadi orang asing baginya?
Thursday, November 9, 2017
tentang sebuah ruangan di dalam kepala yang kelak akan lapuk dan berdebu dan pelan-pelan ditinggal pergi penghuninya
Menjadi orangtua membuat saya semakin tersadar bahwa proses pendewasaan dan aliran usia sungguh tak bisa dibendung. Kesimpulan itu tentu saja saya dapat dari hasil pengamatan terhadap pertumbuhan anak saya. Ia bertumbuh pesat, baik secara fisik maupun psikis.
Kemarin sore, saat ia sedang asyik menikmati teh hangat yang sebenarnya dibikinkan untuk saya oleh ibunya, saya menatap lekat wajahnya. Mukanya tak lagi sama. Meski secara garis besar masih berbentuk wajah bayi, tapi sedikit demi sedikit mulai muncul garis-garis tanda kedewasaan. Tanda bahwa ia, sama seperti saya dan ibunya, juga bertambah tua. Tubuhnya juga semakin tinggi dan gerakan motoriknya semakin mantap.
Bocah yang rasanya minggu kemarin belum diciptakan itu, kini juga sudah bisa melakukan banyak hal yang sepertinya makin banyak saja kian hari.
Jika menginginkan sesuatu, sekarang ia sudah bisa mengutarakannya secara verbal: "Ibu, Nana mau bobok," jika ia sudah suntuk main atau sekadar ingin menyusu. Atau "Bapak, Nana mau tabak," jika tiba-tiba saja muncul hasratnya untuk melahap martabak keju susu kesukaannya.
Saat di mobil, ia juga sudah bisa request lagu apa yang ingin didengarnya dari audio player. Jika ia bilang "bidubidam" artinya ingin lagu Du Di Dam dari Eno Lerian. "Nananana" berarti Ode Buat Kota-nya Bangkutaman. Sedangkan, kalau yang meluncur dari mulutnya adalah "taayaaaang", sudah pasti ia ingin dengar Sayang yang dibawakan oleh NDX A.K.A.
Saya dan ibunya sering kali hanya berpandangan dan menahan tawa saat ia melakukan hal-hal ajaib. Seperti saat ia bilang "ga papa ... ga papa..." seolah ingin menenangkan kami waktu terdengar suara kucing berantem di luar rumah, padahal sudah jelas yang ketakutan adalah dia sendiri. Atau sama-sama terharu dan bersyukur dalam hati waktu ia suka tiba-tiba saja memeluk kami dari belakang.
Pengamatan-pengamatan itu membawa suatu pertanyaan: jika dalam kurun waktu dua tahun anak saya telah bertumbuh pesat dan mempelajari banyak hal, pertumbuhan apa saja yang telah saya lalui dan pembelajaran seperti apa yang saya peroleh dalam waktu yang sama? Selain kompetensi yang berhubungan dengan titel baru sebagai seorang bapak, saya kira tak banyak.
Kemampuan menulis saya begini-begini saja. Wawasan saya tentang dunia juga tak banyak berubah. Jika alasan dari hal-hal itu adalah sesimpel karena intensitas membaca buku, menonton film, atau berdiskusi saya memang jauh berkurang dibanding dahulu, tentu tidak membuat saya terlalu khawatir. Kuantitas hal-hal semacam itu bisa dipompa kapan saja.
Yang saya khawatirkan adalah bagaimana jika saya berhenti bertumbuh. Bahwa saya sudah selesai, bahwa otak saya sudah tak lagi mampu menampung pengetahuan baru dan tubuh saya menolak mempelajari kemampuan anyar.
Saya yakin, pada satu titik, manusia akan berhenti bertumbuh. Ia akan menghabiskan sisa hidupnya dengan stok pengetahuannya saat itu, sebelum kemudian seluruh pengetahuan itu pun memudar, mengalami degradasi, dan akhirnya hanya menyisakan ruang hampa di dalam tubuh yang semakin renta.
Namun, pasca menyelami mata anak saya, mau tak mau optimisme tumbuh lagi. Saya belum sampai di titik itu. Ini hanya fase jenuh yang mesti terus disuntik dengan berbagai kegelisahan yang produktif. Tentu saya akan mencapai titik itu, dan juga anak saya kelak. Namun, saat ini, jalannya masih sangat panjang, pilihannya masih sangat banyak.
Saya akan mengawalnya, menggandeng tangannya, menggendongnya di pundak, dengan sebaik-sebaiknya.





