Monday, November 3, 2025

dingin

Dari jendela kamar sayup-sayup terdengar lagu Haddad Alwi & Sulis. Entah dari corong masjid sebelah mana, suaranya timbul tenggelam bersama angin. Lagu itu salah satu yang kami, bocah-bocah pengajian, nyanyikan dalam pentas 17-an di kampung hampir 3 dekade yang lalu. Kami berlatih di masjid selama beberapa minggu untuk mempersiapkan penampilan. Jadwal naik panggung sore hari, diselingi pengumuman para pemenang lomba yang tak habis-habis itu. Selepas Isya giliran biduan dangdut tampil. Barisan depan diisi bapak-bapak dan para pemuda yang mulutnya menguarkan bau alkohol. Tempat saya tumbuh besar bisa dibilang salah satu daerah terkelam di Cimahi; sarang preman, kriminalitas, dan etalase sisi terburuk manusia. Namun di sisi lain, para pemuka agama dan alim ulama juga tinggal di sana. Mungkin itu adalah ciri khas kampung kota di mana pun: ambivalensi. Ambivalensi itulah yang membuat saya bersyukur tumbuh di sana. Ia mengajarkan saya untuk merengkuh dualitas dan sebisa mungkin tidak memandang dunia secara biner. 

Kasur terasa dingin dan suara itu masih terdengar, persis suasana di kamar orangtua saya dulu. Ah, betapa hidup sudah berjalan sejauh ini.

Monday, March 10, 2025

hangat

Ambu, hari ini ulang tahunku yang ketiga puluh enam. Sejak dulu aku tidak pernah suka ulang tahun, karena seharian hatiku akan diselimuti mendung. Aku tidak tahu dengan pasti apa sebabnya.

Pada tanggal ini, biasanya, pagi-pagi Ambu menelpon untuk mengucapkan selamat ulang tahun, yang selalu kurespon dengan canggung. Sepertinya itu salah satu alasan kenapa aku tidak suka ulang tahun: perasaan canggung saat diberi ucapan. Entahlah, yang jelas, pagi tadi tidak ada telepon dari Ambu, dan itu membuatku lumayan sedih.

Ngomong-ngomong, dua hari lalu, Ning bilang ia mendoakan Ambu sehabis salat Isya. Aku tanya, Ning mendoakan apa. "Berdoa supaya Ambu hidup lagi," katanya.

Aku bilang, coba pikirkan doa yang lain, karena jika doa itu dikabulkan, Ambu akan hidup lagi dan datang sebagai zombie, dan ia kemungkinan besar akan ketakutan.

Setelah itu, aku jadi merenung; betapa lemah manusia saat berhadapan dengan kematian. Manusia tahu dan sadar dengan sepenuh hati bahwa kematian adalah keniscayaan, sebuah antrian di mana semua orang sedang menunggu giliran. Tapi, ketika ujung usia itu datang menghampiri orang terdekatnya, manusia tetap gelagapan. Sedih, kaget, hancur.

Lalu, ketika perasaan tak menyenangkan itu pelan-pelan memudar, manusia mencoba menerka apa yang akan terjadi ketika kematian itu bisa dibatalkan. Tak hanya menerka, kukira, tapi juga berharap. Bukan hanya Ning, sepertinya kami semua pernah berpikir hal serupa: bagaimana kalau Ambu tidak meninggal 8 bulan lalu? Bagaimana kalau kematian itu tidak pernah datang dan besok pagi Ambu ada di rumah, dengan wajah dan tubuh yang segar bugar sedang menyiram tanaman?

Sungguh imajinasi yang menyenangkan, meski kami kerap lupa bahwa itu pikiran yang cukup egois. Kehilangan tetap menyakitkan, tapi berharap takdir bisa dibelokkan tak memberikan dampak apa pun selain hati yang semakin nelangsa. Ambu sudah meninggal, dan itu tentu saja yang terbaik. Tidak sakit lagi, tidak batuk lagi, dan diselimuti ketenangan entah di mana pun Ambu berada saat ini.

Ambu, umurku tiga puluh enam. Tidak muda lagi. Aku tidak tahu kapan ujung usia itu akan tiba, tapi tentu semakin dekat. Aku tidak tahu apa-apa soal hidup pasca kematian. Namun, saat hari itu tiba, semoga kita semua bisa berkumpul lagi. Semua orang ada di rumah, menonton sinetron di ruang tengah, makan tempe goreng atau martabak keju, dan minum teh tubruk hangat bersama-sama dari gelas yang besar itu.

Saturday, December 23, 2023

kompas

Dari balkon kamar hotel di lantai 18, sepetak Jakarta Barat terasa begitu riuh. Di ketinggian, kita bisa menyimak banyak hal meski serba subtil. Pengeras suara masjid di arah utara dan barat saling bersahutan. Suara ceramah dari seorang ustad dan bocah-bocah berebut mikrofon melantunkan doa bergantian sampai ke telinga tertiup angin. Kembang api meluncur dari balik salah satu atap rumah. Deru knalpot motor dan mobil. Lampu-lampu berpendar sepersekian detik cahaya. Gemuruh. Botol bir di lantai. Apa yang akan dipikirkan diriku 25 tahun yang lalu jika melihatku hari ini? Apakah ia akan gembira, bangga, atau merasa asing dengan dirinya? Suara dari masjid yang lain. Rasa nasi bebek yang diantar pengemudi ojol sore tadi masih terasa di mulutku. Betapa canggihnya manusia. Jika hidup memang tidak memiliki makna, mengapa kita membuat semua ini? Membangun gedung, menancapkan tiang listrik, memupuk dan menumbuhkan kota. Beberapa anak kecil bermain skuter listrik. Mau ke mana mereka? Mau ke mana kita semua? Apakah kompas di tangan kita masih berfungsi untuk menunjukkan jalan pulang?

Sunday, August 7, 2022

apakah tidak sebaiknya menyerah saja dan terima bahwa kita sesungguhnya memang tidak tahu apa-apa?

Ia jenis orang yang tidak pernah memikirkan apa pun. Namun, malam itu ia memikirkan sesuatu yang membuatnya gelisah. Ia memikirkan kematian.

Membayangkan ketiadaan, kekosongan, dan hal-hal lain yang tak mampu ia petakan pasca seseorang mati membuatnya merasa bingung dan sedikit takut. Ia membuka laptop, menyetel musik, dan merenungkan betapa aneh dan tidak masuk akalnya bahwa pada suatu titik semua orang akan mati lalu memasuki kegelapan abadi dan meninggalkan segala hal yang mereka miliki, kenali, ketahui, benci, idamkan, perjuangkan, dan cintai.

Kemudian ia membuka kulkas, mengambil alpukat yang tinggal separuh lalu menaburkan gula di atasnya dan memakannya dengan sendok. Sembari mengunyah, ia bertanya-tanya mengapa kematian, sebagai sebuah fenomena alam, masih saja menerbitkan perasaan yang kurang menyenangkan bagi manusia. Ia bertanya-tanya mengapa manusia, dengan proses pembelajarannya yang begitu panjang selama ribuan tahun tidak bisa menempatkan kematian sebagai sesuatu yang biasa-biasa saja seperti bangun pagi atau menggoreng telur atau rapat RT atau mencabut uban.

Tiga jam kemudian, ia mulai lelah --atau mungkin bosan-- memikirkan kematian. Ia menutup laptop, mematikan lampu, menyalakan kipas, berbaring di kasur, menarik selimut, dan bertanya pada dirinya sendiri, "Dari tadi sibuk memikirkan kematian, memangnya kau pernah benar-benar hidup?"

Wednesday, October 6, 2021

omong kosong 4.0 #9

Sebelum pukul empat biasanya anak-anak telah menunggu di samping pos kamling. Ada yang sudah mandi dan rapi jali dengan bedak masih jelas di muka, ada pula yang baru selesai bermain dengan baju berlumur lumpur dan muka berdebu.

Mereka menunggu Paman Odong-odong. Saban hari, setiap pukul empat sore, ia tiba di tempat itu. Melayani anak-anak yang berniat menebus bungah dengan selembar lima ribu rupiah.

Pukul empat tepat, Paman Odong-odong belum datang. Anak-anak itu masih terlihat santai. Telat beberapa menit saja tak masalah, pikir mereka.

Lima menit berlalu, belum ada tanda-tanda kehadirannya.

Sepuluh menit, lagu-lagu anak dari speaker odong-odong yang biasanya nyaring terdengar sampai ujung gang, belum kunjung muncul.

Lima belas menit, beberapa anak mulai gelisah.

"Ada yang aneh, tidak seperti biasanya."

"Betul, Paman Odong-odong tak pernah terlambat barang sedetik pun."

"Mungkin ada suatu keperluan yang masih ia lakukan."

"Keperluan apa?"

"Ya, tidak tahu. Makan di warung, numpang merokok di pangkalan ojek, membeli sayur, mengurus anak, apa pun."

"Memang ia masih melakukan itu semua?"

"Tidak tahu, aku hanya mengira-ngira saja."

"Tapi tetap saja ini aneh, selama bertahun-tahun ia selalu datang tepat waktu."

"Bagaimana jika hari ini dia tidak datang?"

"Tidak mungkin! Paman Odong-odong pasti datang!"

"Ya, kita tidak boleh secepat itu kehilangan harapan. Ia bukan Godot. Penantian kita takkan sia-sia."

Setengah jam.

Empat puluh menit.

Hanya ada kesunyian.

Sebagian besar anak sudah lesu. Keteguhan hati mereka mulai rapuh. Satu per satu memutuskan untuk pulang. Kekecewaan dan perut lapar bukanlah kombinasi yang menyenangkan.

Baru beberapa langkah berjalan, mereka mendengar sesuatu dari ujung gang. Bukan lagu anak-anak, tapi sebuah letusan senapan.

Sontak mereka berlari ke arah keributan. Di ujung gang, mereka melihat sepasukan bersenjata lengkap, menggiring seorang pria dari dalam rumah.

Di antara pasukan itu, anak-anak melihat satu sosok yang sangat mereka kenal. Kali ini, alih-alih mengayuh odong-odong, sosok itu menenteng senjata laras panjang. Ia mengedipkan sebelah mata ke arah mereka kemudian berlalu pergi sebelum orang-orang kampung berhamburan keluar.

omong kosong 4.0 #8

"Jika kau tidak menyukai posisimu sekarang, pindahlah, kau bukan pohon." 

Setiap mendengar kalimat itu, aku suka meringis. Bukannya tidak suka. Itu kalimat yang bagus, memberi semangat pada manusia untuk terus bergerak, terus berubah. Masalahnya, aku bukan manusia, aku adalah sebatang pohon! Aku tidak menyukai posisiku sekarang, tapi aku tidak bisa berpindah tempat. 

Aku tumbuh di sebuah taman buatan di tengah kota. Sebenarnya, kehidupan di sini sama sekali tidak buruk. Tidak ada penebang liar, tidak ada beruang yang suka menancapkan cakar mereka, dan nyaris tidak ada kemungkinan terjadi kebakaran seperti yang menimpa pohon-pohon di pulau seberang. 

Yang mengganggu pikiranku adalah aku merasa tidak berguna. Batangku sangat kurus. Saking kurusnya, pernah suatu hari ada seorang anak kecil  bersembunyi di balik badanku ketika bermain petak umpet dan ia ketahuan kurang dari dua detik. 

Daunku tidak lebat, berbeda dengan pohon di sebelahku yang rimbun. Orang-orang senang bernaung di bawahnya sembari mengerjakan berbagai hal. Membaca buku, tiduran, tidur betulan, berciuman, atau sekadar duduk bengong. Sementara aku, bahkan dikencingi gelandangan pun belum pernah. 

Aku ingin sekali pindah ke suatu tempat di mana aku merasa berguna. Tempat di mana pohon sepertiku memiliki kesempatan untuk bersinar. Kira-kira sejak lima tahun lalu, itu doa yang kupanjatkan setiap malam. 

*** 

Segala sukacita bagi si pohon. Besok, Dewi Artemis akan mengabulkan doanya. Tepat pada tengah hari, langit akan mengirim dua orang penagih utang yang lari ke arah taman karena dikejar orang-orang yang marah. 

Karena habis akal, dua penagih utang itu akan memanjat batang si pohon meski ia bertubuh kurus dan berdaun jarang.

Tidak, si pohon tidak akan ambruk. Dua penagih utang itu akan sampai ke ujung tubuhnya dengan selamat, disusul orang-orang yang marah beberapa menit kemudian. 

Orang-orang yang marah itu kemudian akan bergantian berjaga di bawah pohon, mengabaikan dua penagih utang yang memohon-mohon untuk diampuni, namun kita tentu tahu itu hal yang sia-sia. 

Si pohon akan menjadi saksi kedua penagih utang itu dibakar matahari dan diguyur badai berhari-hari hingga keduanya mati dan orang-orang marah yang menunggu di bawah pulang dengan hati riang. 

Mulai besok, si pohon akan merasa berguna.

Monday, October 4, 2021

omong kosong 4.0 #7

Sejak tempat produksi minuman kerasnya tutup lantaran digerebek polisi, Badrun kini menganggur. Ia tak memiliki keahlian apa pun selain meracik alkohol, sesuatu yang diwariskan kakek dan bapaknya, yang juga hanya mampu melakukan itu sepanjang hidupnya.

Di sela-sela waktunya (yang tentu saja selalu sela), Badrun memiliki hobi baru: menonton orang bermain tenis di lapangan sebelah alun-alun setiap Minggu pagi. Seumur hidup ia belum pernah bermain tenis. Menurutnya, tenis adalah olahraga milik orang berduit, serupa dengan golf. Badminton, sepakbola, catur, semua orang bisa melakukannya di mana saja, bahkan di gang atau lapangan dekat sawah dengan peralatan seadanya. Sementara tenis, memerlukan persyaratan-persyaratan yang tidak bisa ditebus oleh orang sepertinya.

Maka begitulah, setiap Minggu pagi ia duduk di trotoar, menyaksikan pejabat, orang berpengaruh, pengusaha, dan kolega mereka yang entah siapa mengayunkan raket dari balik kawat besi.

Istri Badrun awalnya tidak senang dengan hobi suaminya.

“Mas, kowe ki timbangane ra ono gawean mending golek duit.”

Badrun bergeming. Ocehan istrinya tak lebih dari angin lalu. Setiap Minggu pagi, ia tetap berangkat ke lapangan. Lama-lama istrinya jengah juga. Biarlah, pikirnya, mungkin itu rekreasi bagi suaminya. Mungkin Badrun sangat ingin bermain tenis dan sudah cukup puas dengan hanya menontonnya.

Tapi, yang tidak diketahui istrinya adalah ini: setiap orang-orang itu memukul bola, Badrun membayangkan bola-bola sebagai kepala pejabat, orang berpengaruh, pengusaha, dan kolega mereka yang entah siapa itu. Ia membayangkan kepala mereka dihantam raket ke lapangan yang keras, memantul, untuk kemudian dihantam lagi berkali-kali.

Ia membayangkan wajah memar, gigi rontok, mata bonyok, dan batok kepala pecah menghamburkan otak dan darah.

Menyaksikan itu, Badrun tak hanya tergelak, kadang ia juga tertawa begitu nyaring, begitu nyaring sampai ia tersedak.

“Ini baru hiburan,” katanya.

omong kosong 4.0 #6

Kampungku banjir lagi, kali kedua di tahun ini. Tak separah yang pertama, hanya dua meter. Tempo hari bagian rumahku yang tidak terendam hanya antena tivi, kali ini lumayan, lampu di atap tidak kena air jadi bapak tidak perlu pusing lagi berutang lampu baru di warung Wak Soleh. Pagi tadi beberapa wartawan datang meliput. Sebagian langganan ke sini, sebagian baru sekali kulihat. Mereka mengajukan pertanyaan-pertanyaan standar tentang apa yang kami rasakan melihat kampung kebanjiran, apa harapan kami terhadap pemerintah untuk menangani banjir, dan seterusnya. Salah seorang wartawan, yang baru pertama kali kulihat, bertanya kenapa kami tidak pindah saja dari sini, toh kampung ini setiap tahun langganan banjir. Kujawab kami tidak keberatan dengan banjir karena kami memiliki insang. Ia tertawa canggung. Kuulangi, kami tidak keberatan dengan banjir karena kami memiliki insang. Ia tak lagi tertawa, mungkin menganggapku kurang waras lalu pergi mewawancarai petugas BPBD yang sedang mendistribusikan sembako. Malamnya para wartawan dan relawan pergi. Kampung kembali sunyi, dan kami semua kembali ke rumah masing-masing, lelap tertidur di dasar air.

Monday, October 12, 2020

omong kosong 4.0 #5

Sesaat sebelum melemparkan molotov ke arah gedung itu, Budi tiba-tiba teringat kehidupan masa kecilnya bersama kawan-kawan di kampung. Bermain yoyo, merebus bekicot menggunakan kaleng sarden bekas, mencoret-coret boks telepon umum menggunakan obeng, mencari kodok di sawah kemudian mengikatnya pada mrecon, jajan batagor, dan mengaji saban sore di masjid. Ah, seru juga masa kecilku, gumamnya sembari menyaksikan kekacauan yang mungkin tak akan reda sampai besok lusa.

omong kosong 4.0 #4

Sate kambing yang sedang ia santap sore itu rasanya tak sesedap biasanya. Agak getir di lidah dan aromanya seperti kematian. Ia protes pada penjualnya dan meminta untuk diganti dengan sepiring sate yang baru. "Mohon maaf, kami kehabisan stok daging kambing akibat serbuan serigala minggu lalu. Supaya tetap bisa berjualan, kami menggunakan mayat-mayat keluarga dan tetangga kami yang belum sempat dibakar secara massal di alun-alun. Mohon maaf sekali lagi, karena situasi ini, kami beri es teh gratis." Ia mengangguk mengerti, kemudian minta tambah nasi.

Tuesday, June 16, 2020

fuck you and your woke opini demi konten

Di halaman klinik tempat istri saya bekerja, ada sebuah perosotan dan ayunan kecil yang terbuat dari plastik. Keduanya biasa digunakan oleh anak-anak yang sedang mengantar keluarganya berobat. Jika kami sedang menunggu ibunya praktik, Kirana selalu main di situ. Kadang sendirian, kadang bersama anak lain yang entah siapa.

Malam itu, setelah turun dari mobil, seperti biasa Kirana langsung berlari ke arah perosotan dan ayunan. Di sana sudah ada beberapa anak yang sedang bermain, kira-kira seumuran anak TK. Kirana, yang saat itu masih berumur 3 tahun, mendekat, ikut mengantri di belakang mereka. Saya berdiri mengawasi tak jauh dari situ sambil membuka ponsel. Beberapa menit kemudian, saya lihat ia masih berdiri di tempatnya semula, belum juga mendapat giliran. Saya amati, anak-anak itu tampak sengaja tidak memberinya kesempatan untuk ikut bermain.

Kemudian, seorang anak perempuan, yang tampaknya paling tua di antara mereka datang mendekat, sambil menunjuk wajah Kirana, ia berseru pada kawan-kawannya, "Anak ini jangan diajak main ya, karena mukanya hitam!"

Saya terperanjat, dan selama beberapa detik tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Beberapa orang dewasa yang ada di situ, yang sebagian pasti adalah orang tua dari anak-anak ini, hanya tersenyum canggung. Satu orang di antaranya bahkan terkekeh menyaksikan kejadian yang sungguh tak elok itu.

Kirana tampak murung. Saat itu, ia belum paham dengan konsep warna kulit dan bingung kenapa tidak boleh ikut bermain. Saya langsung mengajaknya menunggu di mobil. Untuk menghiburnya, saya membiarkannya menonton video youtube, sementara saya berusaha mengatur emosi. Kejadian itu membangkitkan ingatan tentang berbagai pengalaman pahit yang saya rasakan karena berkulit gelap, terutama saat masih kecil.

Saya sepenuhnya sadar bahwa anak kecil tadi tidak jahat dan ucapan serta pikiran seperti itu tidak datang begitu saja dari langit, tapi diajarkan oleh lingkungan dan orang-orang terdekat. Namun tetap saja, saya tidak bisa menahan segala perasaan marah, sedih, dan kecewa untuk hadir. Saat istri saya selesai praktik, masuk mobil, dan bertanya kenapa muka saya masam, jawaban saya adalah, "Baru kali ini aku ingin membakar anak kecil hidup-hidup."

Rasisme adalah salah satu hal buruk yang tumbuh subur dalam kepala orang Indonesia, dan sekarang mereka semua tiba-tiba peduli dengan hal itu? Eat fucking shit.

Sunday, April 19, 2020

gelisah

Zine ini adalah upaya untuk menghadirkan kembali kegelisahan, gejolak-gejolak dan badai dalam kepala yang menggerakkan tangan untuk mengambil bolpen, kamera, tanah liat, spatula, kuas, laptop, bongkahan kayu, atau apa pun itu untuk membuat sesuatu. Suatu ikhtiar dalam membangkitkan kembali dorongan untuk mencipta yang telah lama mati suri di ruang-ruang tergelap, tersingkirkan oleh rutinitas, deadline pekerjaan, hasrat menjadi keyboard warrior, anggaran belanja bulanan, rapat RT, cegukan yang tak kunjung reda, atau target kurang masuk akal untuk memiliki saldo 1 M sebelum umur tiga lima. Bahwa setiap orang memiliki kegelisahan untuk perihal yang berbeda-beda, itu tak jadi soal. Yang utama ialah kesadaran untuk menerima kegelisahan itu sendiri, merawatnya, dan kemudian merayakannya dengan sebaik mungkin. Tabik.

(Klik pada gambar untuk mengunduh)

https://drive.google.com/open?id=15Owd3fcNCwhOYlzmci8E_JYl1bFlciV-

Sunday, March 22, 2020

meringkuk dalam gua

Hari kesepuluh semenjak dikeluarkannya memorandum terkait pencegahan corona di tempat kerja, kantor terasa semakin lengang. Beberapa poin perihal social distancing yang awalnya saya anggap agak berlebihan, saat ini menjadi hal yang biasa. Karyawan diimbau untuk sesedikit mungkin bertemu dengan orang lain. Belum ada arahan untuk work from home secara total memang, tapi ada batasan untuk jumlah karyawan yang boleh datang ke kantor. Sepi sekali rasanya.

Apa lagi, saya bekerja dalam divisi kehumasan. Nyaris tak ada yang bisa dikerjakan belakangan ini, baik di kantor maupun di rumah. Pekerjaan saya sebagian besar berhubungan dengan orang lain, pekerjaan yang mensyaratkan interaksi yang kini dibatasi. Beberapa program bulanan dibatalkan, roadshow ke berbagai daerah yang menjadi agenda rutin sepanjang bulan Ramadan dibatalkan, liputan berita untuk media internal dibatasi, media gathering dibatalkan. Ini semua terasa seperti weekend super panjang yang kurang menyenangkan. Ganjil sekali, hari-hari belakangan ini saya justru rindu bekerja.

Bukankah menakjubkan, betapa tatanan sosial, ekonomi, politik, dan entah apa lagi yang selama ini terasa mapan mampu dijungkirbalikkan oleh makhluk kecil ini? Betapa kita ternyata sangat rapuh dan segala pencapaian yang kita raih dalam ribuan tahun episode peradaban seolah tak ada apa-apanya di hadapan sebuah virus. Betapa kita sesungguhnya tak berbeda dari manusia purba yang meringkuk ketakutan di dalam gua saat geledek menyambar di malam buta, tak peduli secanggih apa pun teknologi yang tertanam pada segala perangkat di sekeliling kita.

Kita takut dan bersedia melepaskan apa pun yang kita punya agar selamat dari pandemi ini. Setiap grafik, setiap data, setiap temuan atas fenomena ini membuat kita semakin cemas, membuat kita rajin memanjatkan doa agar petaka ini kalau bisa hanya menimpa orang asing di seberang lautan sana, dan bukan tetangga apa lagi diri kita. Kita meletakkan jarak sekian hasta dari orang lain dengan harapan tak ada nasib buruk yang diam-diam menyusup ke saku baju atau lubang hidung. Ribuan tahun kemudian, kita kembali meringkuk di lantai gua masing-masing.

Seolah segala keterasingan ini belum cukup gloomy, hidup kita juga masih harus dibumbui dengan berbagai macam hal yang membuat kita mengurut dada: omong kosong milik para buzzer, para politikus yang perilaku dan congornya sama-sama mengkhawatirkan, penimbun masker dan hand sanitizer, ambruknya pasar modal, serbuan informasi yang tak jelas kebenarannya di grup chat, serta bayangan suram tentang perantau yang kemungkinan tidak bisa berlebaran di kampung halaman.

Tapi, separah apa pun keadaan hari ini, semua akan lewat belaka. Hidup akan kembali normal serupa sedia kala. Vaksin akan ditemukan, yang sakit akan sembuh, ekonomi akan membaik, dan kota akan kembali diisi hiruk pikuk. Manusia adalah spesies paling tangguh dan keras kepala yang pernah berjalan di atas planet ini. Sepandir apa pun kita, kita mampu untuk membangun kembali rumah dari puing terakhir yang ditinggalkan oleh bencana sebesar apa pun. Kita tak akan punah jika bukan kita sendiri yang berinisiatif melakukan bunuh diri massal.

Tenang saja, kita telah dikutuk untuk berumur panjang.

Thursday, January 2, 2020

omong kosong 4.0 #3

Beberapa hari lalu gigi geraham sebelah kananmu terasa sakit, begitu sakit sehingga kau berpikir betapa selama puluhan tahun kau kurang menghargai hidup tanpa sakit gigi. Kata dokter, gigi bungsumu tidak kebagian tempat untuk tumbuh, sehingga ia hadir dengan posisi yang ganjil; miring ke dalam dan hanya muncul sebagian ke permukaan gusi. Posisi yang ganjil ini menyebabkan sisa makanan menumpuk dan sulit dibersihkan, dus, muncullah infeksi. Kenapa rasanya banyak orang yang bermasalah dengan gigi yang telat tumbuh ini, ya? Pencarian google memberimu jawaban: nenek moyang manusia memiliki rahang dan gigi yang kuat untuk mengunyah segala jenis makanan, namun apa yang dimakan keturunannya semakin lama semakin lunak, sehingga proses evolusi melemahkan rahang dan gigi geraham paling bontot itu. Menarik. Lalu kau berpikir begini: jika kita membuat eksperimen dengan memodifikasi tubuh seseorang (misal, memotong telinga kirinya), kemudian kita lakukan hal yang sama pada keturunannya, dan hal yang sama pada keturunannya lagi, kira-kira perlu berapa generasi sampai muncul spesies manusia yang lahir dengan satu telinga? Kau dulu anak IPS, tidak tahu banyak tentang biologi (dan sejujurnya, tidak tahu banyak tentang ilmu sosial juga), sementara pencarian google tidak memberikan hasil yang memuaskan. Sudahlah, mau bagaimana lagi. Ngomong-ngomong, sekarang sudah waktunya minum antibiotik dan asam mefenamatmu, kau tentu tidak mau memiliki keturunan yang mengalami sakit gigi seumur hidupnya gara-gara nenek moyangnya luput minum obat, bukan?

Tuesday, November 19, 2019

omong kosong 4.0 #2

"Bagaimana sebetulnya cara dunia bekerja?" tanyamu, padahal kita sama-sama tahu tidak pernah ada jawaban yang memuaskan dari pertanyaan semacam itu. Toh, itu juga bukan pertanyaan sungguhan, melainkan ekspresi kegelisahan dan kekecewaan yang telah kau pendam selama ratusan tahun. Cukup lama, jadi wajar saja jika suatu hari rasa getir itu akan terasa lebih banal dibanding perdebatan tentang siapa yang lebih luhur antara pengguna Twatter dan Instagrim. Mungkin suatu hari kita perlu bantuan Marie Kondo untuk membuang semua pengetahuan dari laci kepala manusia dan mengembalikan masa kejayaan bakteri di muka bumi. Tak ada lagi omong kosong tentang perdamaian dunia, tak ada lagi nubuat suci yang terbuat dari saripati diskografi band indie. Yang tersisa hanyalah piala Oscar dari ruang kerja Raffi Ahmad dan gunungan sedotan stainless steel di seluruh penjuru Jakarta. Jika itu semua terasa membosankan, tak perlu khawatir, sekarang kau bisa membeli tiket menuju ruang hampa menggunakan poin Traveloka, plus bonus sarapan gratis dengan menu-menu menggiurkan di dasar Atlantis. Jangan lupakan seperangkat panduan untuk membuatmu senantiasa bahagia 24/7. Baterai dijual terpisah.

omong kosong 4.0 #1

Pada mulanya adalah keheningan, lalu kita terbangun dan mendapati ini semua ternyata hanyalah mati suri yang teramat panjang. Mungkin saja harapan sesungguhnya selalu ada namun kita terlalu papa untuk menebusnya. Percuma saja, semua kota pada akhirnya akan terbakar menyusul Alengka dan Wakanda. Hari ini hanya ada dua pilihan aktivitas untuk menunggu saldo 1 M sebelum umur tiga lima: menanam umpatan atau Netflix and chill bersama arwah Sigmund Freud. Tak ada lagi yang disuguhkan linimasa selain aneka rupa kedunguan yang diproduksi kubu kanan dan kiri dan lelucon karakter fiksi paslon tandingan yang tak begitu lucu dan sudah selayaknya berakhir di kuburan massal meme-meme usang. Sempatkan bertamasya ke tempat pemujaan dengan sesaji berupa lembaran kumal dari saku celana, keringat buruh, kegelisahan akhir pekan, dan tumbal anak haram hasil persetubuhan manusia dengan manekin toserba yang reruntuhannya empat ribu tahun lagi masih akan tetap mengeluarkan cahaya. Para perantau yang berenang menyeberangi Laut Jawa sebab harga perjalanan udara lebih tinggi dari Menara Babel. Para pejantan alfa yang kecanduan menghirup asap dari pembakaran buku-buku sitaan. Tak ada lagi yang mengejutkan. Semuanya wajar, semuanya normal, termasuk momen ketika anakmu tiba-tiba bertanya di suatu malam buta, "Bapak, realitas itu apa?"

Monday, November 5, 2018

kelindan

Seminggu setelah Idul Fitri kemarin saya pulang ke Cimahi. Ah, kata pulang rasanya tidak terlalu tepat. Orangtua saya sudah tidak lagi tinggal di sana. Rumah tempat saya menghabiskan masa kecil hingga remaja juga sudah dijual. Saya hanya menumpang sekelebat di rumah kakak yang masih tinggal di sana.

Atas nama nostalgia, saya mengajak Zizi dan Kirana menyusuri jalan-jalan yang dulu sering saya lalui di kota ini. Seperti biasa, banyak yang berubah. Dulu, ia hanya bagian kecil dari Kabupaten Bandung yang sering dianggap pinggiran oleh penduduk Bandung. Orang Cimahi yang bersekolah di Bandung pasti kenyang diolok-olok (gurauan, tentu saja) karena tinggal di sini. Tampaknya, sekarang ia sudah jadi kota betulan.

Dari Pasar Baros, melaju ke arah Dustira, Pasar Antri, Bioskop Rio yang sekarang telah berubah jadi toko ponsel, Pasar Atas, Cibabat, Cimindi, dan putar balik ke arah alun-alun. Melewati beberapa gerai restoran waralaba baru, reruntuhan depot tempat bermain ding-dong, taman, stasiun kereta, tukang bakso langganan, warnet, kios rokok, tempat les Bahasa Inggris, telepon umum, bubur ayam di depan Alfamart, dan toko baju yang masih buka sejak puluhan tahun lalu dan entah kapan akan tutup.

Di perjalanan, bayangan tentang orang-orang yang pernah saya kenal di sini tentu bermunculan. Bersama si A makan di warung itu, bersama si B dan si C main Counter Strike di tempat itu, naik kereta ke Stadion Siliwangi untuk nonton Persib dengan si D, E, dan seterusnya. Beberapa dari mereka, saat ini masih tetap berkontak dan menjadi kawan baik saya. Tapi sebagian besar, sedihnya, saya tidak tahu lagi bagaimana kabarnya.

Hidup itu ternyata aneh juga. Di suatu waktu, rute hidup kita pernah berkelindan dengan jalan hidup orang lain. Kita mengisi waktu bersama, bercengkerama, berkawan akrab, berkomunikasi intens. Tapi kemudian, karena satu dan lain hal, kelindan itu terurai. Kita dan mereka kembali menjadi orang asing. Sementara kelindan hidup itu terus terjadi, berulang-ulang menjadi siklus.

"Bapak, Nana laparrrr," katanya tiba-tiba, membuyarkan lamunan. Saya bawa mereka ke arah McDonald's di daerah Sangkuriang yang konon baru dibuka. Kemajuan pesat ada McD di Cimahi, batin saya. Sembari mengunyah cheeseburger, saya mengamati wajah anak saya yang luar biasa polos itu. Mulut dan pipinya belepotan saos tomat dan bumbu kentang goreng. Lucu sekali.

Suatu hari nanti, apakah saya akan menjadi orang asing baginya?

Thursday, November 9, 2017

tentang sebuah ruangan di dalam kepala yang kelak akan lapuk dan berdebu dan pelan-pelan ditinggal pergi penghuninya


Menjadi orangtua membuat saya semakin tersadar bahwa proses pendewasaan dan aliran usia sungguh tak bisa dibendung. Kesimpulan itu tentu saja saya dapat dari hasil pengamatan terhadap pertumbuhan anak saya. Ia bertumbuh pesat, baik secara fisik maupun psikis.

Kemarin sore, saat ia sedang asyik menikmati teh hangat yang sebenarnya dibikinkan untuk saya oleh ibunya, saya menatap lekat wajahnya. Mukanya tak lagi sama. Meski secara garis besar masih berbentuk wajah bayi, tapi sedikit demi sedikit mulai muncul garis-garis tanda kedewasaan. Tanda bahwa ia, sama seperti saya dan ibunya, juga bertambah tua. Tubuhnya juga semakin tinggi dan gerakan motoriknya semakin mantap.

Bocah yang rasanya minggu kemarin belum diciptakan itu, kini juga sudah bisa melakukan banyak hal yang sepertinya makin banyak saja kian hari.

Jika menginginkan sesuatu, sekarang ia sudah bisa mengutarakannya secara verbal: "Ibu, Nana mau bobok," jika ia sudah suntuk main atau sekadar ingin menyusu. Atau "Bapak, Nana mau tabak," jika tiba-tiba saja muncul hasratnya untuk melahap martabak keju susu kesukaannya.

Saat di mobil, ia juga sudah bisa request lagu apa yang ingin didengarnya dari audio player. Jika ia bilang "bidubidam" artinya ingin lagu Du Di Dam dari Eno Lerian. "Nananana" berarti Ode Buat Kota-nya Bangkutaman. Sedangkan, kalau yang meluncur dari mulutnya adalah "taayaaaang", sudah pasti ia ingin dengar Sayang yang dibawakan oleh NDX A.K.A.

Saya dan ibunya sering kali hanya berpandangan dan menahan tawa saat ia melakukan hal-hal ajaib. Seperti saat ia bilang "ga papa ... ga papa..." seolah ingin menenangkan kami waktu terdengar suara kucing berantem di luar rumah, padahal sudah jelas yang ketakutan adalah dia sendiri. Atau sama-sama terharu dan bersyukur dalam hati waktu ia suka tiba-tiba saja memeluk kami dari belakang.

Pengamatan-pengamatan itu membawa suatu pertanyaan: jika dalam kurun waktu dua tahun anak saya telah bertumbuh pesat dan mempelajari banyak hal, pertumbuhan apa saja yang telah saya lalui dan pembelajaran seperti apa yang saya peroleh dalam waktu yang sama? Selain kompetensi yang berhubungan dengan titel baru sebagai seorang bapak, saya kira tak banyak.

Kemampuan menulis saya begini-begini saja. Wawasan saya tentang dunia juga tak banyak berubah. Jika alasan dari hal-hal itu adalah sesimpel karena intensitas membaca buku, menonton film, atau berdiskusi saya memang jauh berkurang dibanding dahulu, tentu tidak membuat saya terlalu khawatir. Kuantitas hal-hal semacam itu bisa dipompa kapan saja.

Yang saya khawatirkan adalah bagaimana jika saya berhenti bertumbuh. Bahwa saya sudah selesai, bahwa otak saya sudah tak lagi mampu menampung pengetahuan baru dan tubuh saya menolak mempelajari kemampuan anyar.

Saya yakin, pada satu titik, manusia akan berhenti bertumbuh. Ia akan menghabiskan sisa hidupnya dengan stok pengetahuannya saat itu, sebelum kemudian seluruh pengetahuan itu pun memudar, mengalami degradasi, dan akhirnya hanya menyisakan ruang hampa di dalam tubuh yang semakin renta.

Namun, pasca menyelami mata anak saya, mau tak mau optimisme tumbuh lagi. Saya belum sampai di titik itu. Ini hanya fase jenuh yang mesti terus disuntik dengan berbagai kegelisahan yang produktif. Tentu saya akan mencapai titik itu, dan juga anak saya kelak. Namun, saat ini, jalannya masih sangat panjang, pilihannya masih sangat banyak.

Saya akan mengawalnya, menggandeng tangannya, menggendongnya di pundak, dengan sebaik-sebaiknya.

Tuesday, October 31, 2017

Bromo, September 2017

Lomo LCA - Fuji C200

Jakarta, September 2017

Lomo LCA - Kodak ColorPlus 200