Monday, June 22, 2015

pada suatu hari ketika aku sedang berjalan-jalan dan tidak sengaja menemukan sebuah catatan milik orang mati

Dua minggu yang lalu aku mati. Serangan jantung, tepat ketika aku baru keluar kamar mandi, menyelesaikan ritual pagi. Meski agak tak lazim mendapat serangan jantung di usiaku yang masih terbilang muda (umurku dua puluh enam ketika mati), aku tidak merasa heran. Pola hidupku tidak sehat; merokok, jarang makan sayur atau buah, dan hanya olahraga setahun sekali. Setiap tanggal 1 Januari, di mana aku mencanangkan resolusi hidup sehat, sebelum melupakannya keesokan harinya.

Tak lama setelah aku dikubur dan orang terakhir meninggalkan kuburanku, dua malaikat menjemputku. Penampilan mereka jauh dari bayanganku selama hidup. Alih-alih memakai pakaian serba putih dan bercahaya, mereka memakai setelan formal yang necis. Memakai jas hitam, kemeja putih, dasi biru, celana kain hitam, dan sepatu pantofel kinclong, dengan rambut yang disisir rapi dengan minyak rambut. Keduanya tampak seperti dua orang lelaki pebisnis atau salesman, seandainya mereka punya wajah. Ya, wajah mereka berdua polos seperti porselen Cina.

Ngomong-ngomong, aku tahu bahwa mereka malaikat karena mereka sendiri yang bilang padaku. “Halo. Kami malaikat,” kata salah satunya, seperti bisa membaca pertanyaanku.

“Sudah siap?”

“Siap untuk apa?”

“Untuk pergi.”

“Siap saja sih. Memang pergi ke mana?”

“Nanti kau akan tahu. Santai saja.”

Kemudian masing-masing dari mereka memegang tanganku. Dibawanya aku (atau jiwaku lebih tepatnya, karena aku bisa melihat jasadku yang telanjang dalam peti mati itu tetap terbaring seperti orang mati) terbang. Menembus kuburku yang tanahnya masih basah itu. Terus ke atas hingga aku bisa melihat iring-iringan mobil keluarga dan kerabatku yang pergi ke rumah masing-masing. Lebih tinggi lagi, hingga aku bisa melihat seluruh kota kecilku. Dan lebih tinggi lagi, menembus awan, menembus atmosfir, menjauhi Bumi, aku bisa melihat bintang-bintang dan bulan dan matahari terlihat begitu jelas, hingga kami masuk ke dalam cahaya yang begitu benderang.

Cahaya itu sangat menyilaukan, hingga aku sepertinya tak sadarkan diri. Beberapa waktu kemudian, ada suara yang berseru di telingaku, “hey! Bangun! Sudah sampai!”

Aku membuka mata, berkedip beberapa kali, berusaha beradaptasi dengan kondisi ini. Setelah kesadaranku sudah penuh, aku tersadar, aku berada di depan sebuah gedung aula yang sangat besar berwarna abu-abu. Ribuan orang, atau mungkin lebih, sibuk lalu-lalang di depanku. Mereka semua memakai pakaian yang sama. Yang laki-laki memakai setelan formal nan necis seperti yang dipakai oleh kedua malaikatku, sementara yang perempuan memakai dandanan formal untuk perempuan, dengan rok, blazer, dan sebagainya.

Mereka semua berjalan menuju ke pintu gedung aula itu. Kulihat, orang-orang itu memiliki wajah sepertiku. Hanya beberapa yang kulihat tak memiliki wajah, sebagian berbaur di antara rombongan ribuan orang itu, dan beberapa kulihat berjaga di depan pintu gedung aula, semacam petugas keamanan yang menertibkan situasi.

Kedua malaikat necis tadi masih berada di sampingku. “Di mana aku?” tanyaku. “Tentu saja di dunia pasca-kematian, di mana lagi menurutmu?”

Belum habis pertanyaanku, baru kusadari ternyata aku tidak lagi telanjang. Aku sudah memakai setelan formal nan necis seperti kedua malaikat itu dan ribuan orang lainnya. Aku tidak tahu bagaimana caranya mereka memakaikan baju ini kepadaku, sepertinya di dunia pasca-kematian ini banyak hal ajaib, aku harus mulai membiasakan diri.

“Kami tahu kau bingung, masuklah ke gedung aula itu, nanti kau akan paham sendiri. Kami tak punya cukup waktu untuk menjelaskan, ada orang mati lain yang harus dijemput.”

Baiklah. Kuucapkan terima kasih kepada kedua malaikatku. Tidak masalah, jawab mereka. Kemudian aku bergabung dengan rombongan orang yang akan masuk ke gedung aula. Petugas keamanan yang ada di pintu beberapa kali berteriak, menyuruh rombongan untuk berbaris dengan rapi. Masih saja ada orang yang tidak mau mengantri. Aku heran, kebiasaan buruk macam itu masih saja dibawa mati.

Di dalam, terdapat banyak sekali pintu dengan nomor-nomor tertentu tertulis di sebuah layar monitor di atasnya. Beberapa meter dari pintu masuk, ada beberapa malaikat yang membagikan selembar kartu bertuliskan sederet angka. “Ini nomor antrianmu. Nanti jika giliranmu tiba, kartu ini akan menuntunmu menuju pintu yang sesuai.”

Disediakan bangku-bangku sangat panjang dan camilan berbentuk awan-awan putih (aku curiga ini awan betulan) untuk mereka yang menunggu. Beberapa waktu kemudian, kartu di tanganku berkedip-kedip. Ia menarikku ke suatu arah, seperti tertarik suatu daya magnet. Aku mengikutinya, hingga sampai di sebuah pintu. Layar monitor di atas pintu itu menunjukkan nomor antrianku. Kuketuk pintunya dua kali sebelum aku masuk.

Di dalam, ada dua malaikat duduk di balik meja. “Silakan duduk,” kata mereka setelah menyalamiku. “Selamat datang di dunia pasca-kematian. Semoga perjalanan Anda menyenangkan. Anda harus melewati tahap wawancara ini sebelum ditentukan akan dimasukkan ke mana.”

Wah, dunia pasca-kematian rupanya mirip tes kerja!

“Ini riwayat hidup Anda. Isinya merangkum segala perbuatan yang pernah Anda lakukan di dunia. Nanti kami akan menanyakan hal-hal yang berkaitan dengan daftar riwayat hidup Anda tersebut. Hasil dari wawancara ini akan menentukan posisi dan jabatan Anda di perusahaan ini.”

Perusahaan, katanya! Ini bukan hanya mirip tes kerja, ini adalah tes kerja betulan!

“Ada pertanyaan sebelumnya?”

“Ada. Pertama, kalian punya riwayat hidup saya, kenapa kalian masih repot-repot melakukan wawancara? Baca saja berkasnya. Kedua, saya kan sudah mati, untuk apa pula saya bekerja?”

“Pertama, berkas riwayat hidup ini hanya berisi daftar perbuatan yang Anda lakukan. Perbuatan, tanpa niatan atau motif yang tercatat. Wawancara ini menggali motif Anda dalam melakukan perbuatan-perbuatan tersebut. Motif itulah yang menentukan kualitas Anda. Kedua, kenapa Anda, seperti seluruh orang mati lainnya, harus bekerja? Tentu saja agar alam semesta tetap berjalan sebagaimana mestinya.”

Begitulah, selanjutnya aku harus menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka. Aku diberi tahu, perusahaan ini memiliki banyak sekali posisi dan jabatan untuk diisi. Jika berkas riwayat hidup dan hasil wawancara seseorang buruk, ia akan ditempatkan di posisi dengan pekerjaan yang menyebalkan, beban pekerjaan yang berat, bos yang galak dan seenaknya, waktu istirahat yang minim, dan tidak ada kudapan. Sebaliknya, mereka yang dianggap berkualitas baik, akan ditempatkan di posisi yang sangat menyenangkan. Dengan atasan yang baik, jam kerja yang fleksibel, jenis pekerjaan yang sesuai hobi, kudapan dan makanan enak melimpah ruah, dan seterusnya.

Aku tidak tahu akan diterima di posisi mana. Pengumuman hasil wawancara itu memakan waktu berbulan-bulan, tidak beda dengan proses rekrutmen perusahaan di dunia. Sementara menunggu panggilan, kami para orang mati biasanya mengisi waktu dengan bergentayangan di dunia. Memandangi orang-orang yang kami sayangi, atau iseng mengganggu orang-orang yang tidak kami sukai ketika hidup.

Atau, kalau tidak, ya menulis catatan semacam ini. Pokoknya, apa pun yang bisa digunakan untuk membunuh waktu lah.

Monday, June 15, 2015

pada suatu hari ketika dua orang asing hendak melakukan hal buruk kepadaku

Pukul lima sore. Jalan yang kulewati ini tampak semakin sepi. Biasanya jalan itu memang selalu sepi. Hanya segaris jalur sempit penghubung dua jalan besar di tengah kota yang murung ini. Hari ini mendung, mungkin membuat orang malas keluar rumah, membuat jalan ini makin sepi.

Aku hampir sampai di ujung jalan ini ketika sebuah sepeda motor tiba-tiba saja menyeruduk dari belakang, memepet motorku, hingga akhirnya berhenti melintang tepat di depanku. Pengemudinya dua orang dengan helm tertutup, satu menggunakan jaket kulit, satu mengenakan jaket jeans lusuh. 

Yang dibonceng, mengenakan jaket jeans lusuh, bergegas turun dan menghampiriku dengan pisau di tangannya.

Celaka! Begal!

“Serahkan tasmu!” kata si begal dengan jaket jeans lusuh, sambil mengacungkan pisau yang berkilat di tangannya dengan canggung.

Aku tidak sedang berminat berkelahi, apalagi dengan situasi yang tidak mendukung seperti ini. Jalan sempit nan sepi, tidak ada orang yang bisa membantuku. Lagi pula, ini yang paling penting, aku jauh lebih sayang nyawaku daripada tasku, meskipun apa yang ada di dalamnya mungkin bisa membuatku tetap bisa makan selama beberapa waktu ke depan.

Kuserahkan tas punggungku pelan-pelan. Si begal buru-buru meraihnya, kemudian sedikit tersungkur menanggung berat tasku.

“Buset, berat banget! Apa isinya?” seru si begal berjaket jeans lusuh.

“Senja,” jawabku.

“Apa?”

“Senja.”

“Hah?!” kedua begal itu terdengar bingung.

“Itu sepotong senja, untuk bahan tulisanku.”

“Kau penulis?” tanya si begal berjaket kulit dari motornya.

“Ya, penulis cerpen, kadang puisi juga,” jawabku.

“Pasti kau miskin,” katanya lagi.

“Dari mana kau tahu?” tanyaku. Padahal aku sudah sebisa mungkin memoles penampilanku agar selalu terlihat dandy, meski saldo di rekeningku sebenarnya minus, karena sudah lama tak ada surat kabar yang mau memuat tulisanku.

“Bung,” kata si begal berjaket jeans lusuh, kali ini pisau di tangannya tidak lagu teracung padaku, “sewaktu Seno Gumira menuliskannya bertahun-tahun yang lalu, senja memang sesuatu yang sangat seksi. Tapi hari ini, senja telah jadi super klise. Bahkan mendengar kata itu saja aku jadi sebal. Jangan gunakan benda itu lagi jika kau ingin tulisanmu laku.”

“Apa lagi yang ada di dalam tasmu?” tanya si begal berjaket kulit.

“Hujan, kopi, dan hubungan jarak jauh.”

Kedua begal itu lalu berpandangan. Terdengar helaan nafas mereka berdua dari balik helm, seakan baru saja mendengar sesuatu yang mengecewakan. Si begal berjaket jeans lusuh mengembalikan tasku dengan hati-hati. Ia merogoh kantong celananya, mengeluarkan selembar lima puluh ribuan, dan memberikannya padaku.

“Ini, belilah makanan, kau ternyata lebih miskin dari kami. Saranku, sebaiknya kau cari pekerjaan lain saja. Hati-hati di jalan,” katanya dengan nada prihatin.

Kedua begal (atau kedua orang itu, berhubung mereka tidak jadi membegalku) pergi secepat mereka datang, meninggalkanku sendirian di tengah jalan yang sempit dan sepi ini, dengan langit yang semakin mendung, dan perutku yang keroncongan. Sial, aku lapar.

Saturday, April 11, 2015

dan lalu...

Setelah ledakan besar yang terjadi dulu, dulu, dulu, dulu, dulu, dulu sekali, semesta memproduksi segala sesuatu yang bisa ia bayangkan, dan kita adalah salah satunya. Kita merasa menari bersama debu angkasa. Padahal, sesungguhnya kita adalah debu angkasa itu sendiri. Melayang-layang di ruang hampa, berusaha menggapai apa pun dan memberinya nama dan makna. Jadi, apa artinya kebahagiaan bagi sebutir debu angkasa? Menciptakan karya. Karya berupa debu-debu angkasa yang lain, yang akan melanjutkan peranmu untuk terus menari, menamai, dan memaknai. Delapan bulan lagi, saya akan menjadi sebutir debu angkasa yang paling bahagia.

Tuesday, November 25, 2014

catatan sekian dimensi: waktu


Pagi tadi, ratusan sayap laron berserakan di halaman belakang mess saya. Ini adalah sisa-sisa invasi ribuan serangga tadi malam, mereka datang dari hutan yang gelap gulita di belakang mess. Konon, rata-rata umur laron hanya satu hari. Mereka adalah rayap yang menumbuhkan sayap, keluar dari tanah, beterbangan mencari pasangan, kawin, dan sebagian besar mati keesokan harinya.

Menurut standar hidup manusia yang puluhan tahun, siklus hidup para laron terasa amat sangat singkat. Dalam sehari, tidak banyak yang bisa dilakukan manusia. Namun bagi laron, sehari adalah seumur hidup. Bagi laron, dua puluh empat jam serupa tujuh puluh tahun.

Bagi mereka, keluar dari tanah, terbang di sekitar lampu-lampu, mencari pasangan, dan bercinta semalaman adalah kegiatan dalam rentang waktu yang mendekati keabadian. Umur manusia yang puluhan tahun tentu terasa sangat mencengangkan bagi mereka; melebihi keabadian.

Sebaliknya, umur manusia terasa amat singkat bagi beberapa jenis hewan laut yang dapat hidup hingga ratusan tahun. Umur beberapa jenis hewan laut ini juga hanya sekejap mata jika dilihat dari kacamata posidonia oceanica, sejenis rumput laut yang di laut Mediterania yang dapat hidup sampai ribuan tahun. Begitu seterusnya.

Singkatnya, kita adalah laron berumur pendek bagi makhluk lain, dan rumput laut berumur panjang bagi makhluk lainnya. Menakjubkan, betapa relativitas waktu benar-benar nyata jika kita memikirkannya.

***

Baru-baru ini saya nonton dua film yang bertema sama; Edge of Tomorrow dan The Girl Who Leapt Through Time (Toki wo Kakeru Shōjo). Keduanya sama-sama berkisah tentang orang yang dapat memutar waktu dan mengulang kembali hari mereka sesuka hati, sehingga mereka dapat mengalami berbagai versi dari hidup mereka, dengan posibilitas yang tidak terbatas.

Tema semacam itu sudah kelewat sering diangkat dalam film, buku, musik, atau karya apapun, tapi tetap saja, kita selalu rindu untuk membahasnya. Mengendalikan waktu sepertinya adalah kemampuan dambaan semua orang, terutama manusia modern yang selalu merasa tidak pernah memiliki cukup waktu. Masalahnya, apakah dengan mengendalikan waktu, kita akan lebih bahagia?

Toh, kedua tokoh utama dari film di atas sadar, sehebat apapun mereka dapat mengembalikan waktu, kehidupan tidak lantas jadi lebih mudah.

Dalam Edge of Tomorrow, Cage adalah seorang prajurit yang dikirim ke medan perang yang selalu menemukan dirinya terbangun tepat sehari sebelumnya jika ia terbunuh. Kemampuannya ini ia dapat setelah tersemprot darah alien yang ditembaknya. Ratusan kali ia mati, ratusan kali ia terbangun di hari sebelumnya. Ratusan kali pula, Cage mengalami kesulitan untuk menyelamatkan Rita, cinta lokasinya di medan perang.

Makoto, tokoh utama dalam The Girl Who Leapt Through Time, adalah seorang siswi biasa dari sekolah biasa, yang tiba-tiba memiliki kemampuan untuk berpindah waktu, setelah ia mengalami kecelakaan di laboratorium sekolah. Ia bisa dengan sesuka hati berpindah ke waktu yang ia inginkan di masa lalu. Tapi, kemampuan yang awalnya ia banggakan setengah mati ini malah menciptakan gumpalan-gumpalan masalah yang semakin membesar seperti bola salju.

Cage dan Makoto akhirnya menyadari, kemampuan mengendalikan waktu terlalu berat untuk disandang sesosok makhluk bernama manusia. Sesosok makhluk yang tidak abadi, seonggok daging yang punya waktu kadaluarsa.

Kita semua tahu kisah tentang nenek moyang manusia. Konon, nenek moyang kita itu diciptakan Tuhan untuk menjadi makhluk abadi. Namun keabadiannya dicabut ketika ia memakan buah dari pohon terlarang. Pencabutan keabadian itu, tentu saja, adalah hukuman dan kutukan. Kita dikutuk untuk menjadi makhluk rapuh yang punya jaminan untuk mati.

Namun, saya memiliki pemaknaan lain dari hukuman itu. Jika dipikir, ketidakabadian sesungguhnya adalah anugerah, dan keabadian di satu titik justru adalah kutukan itu sendiri. Hidup justru terasa lebih berharga karena kita tahu itu akan berakhir.

Pada akhirnya, kita harus menerima, waktu adalah sungai, dan kita semua; manusia, laron, ataupun rumput laut, hanyalah batang-batang kayu yang hanyut di atasnya. Sekuat apapun kita berusaha, kita tidak bisa menambah kecepatan, berenang mundur, atau melompat ke tepian. Kita tidak memiliki daya apapun untuk mengendalikan hanyutan sungai yang terasa deras bagi satu makhluk, dan terasa lamban bagi makhluk yang lain ini. Yang bisa kita lakukan hanyalah mengunyah baik-baik setiap momen dalam perjalanan ini, pahitnya, manisnya, dan semua rasanya yang lain.

Mengunyahnya perlahan, sampai kita sampai pada ujung perjalanan kita masing-masing...

Tuesday, July 22, 2014

gagal

Ini bulan Juli, berarti tepat setahun yang lalu saya merasakan patah hati. Ceritanya begini:

Setelah diwisuda pada akhir 2012 dan bersenang-senang selama beberapa lama dengan stok waktu saya sebagai pengangguran yang sepertinya tidak terbatas, akhirnya datang juga perasaan tidak enak nan klasik itu: kecemasan akan karir dan masa depan. Ditambah, beberapa teman dekat saya sudah mendapat pekerjaan, makin terasa beratlah status pengangguran ini.

Akhirnya, secara brutal saya mengirimkan CV yang berisi gombalan-gombalan intelektual dan surat lamaran kerja yang luar biasa menyebalkan ke berbagai perusahaan. Tragisnya, tidak ada satu pun dari perusahaan-perusahaan itu, baik yang terang-benderang berskala internasional maupun yang ecek-ecek berskala lokal dengan gaji yang mungkin hanya cukup digunakan untuk makan dan beli rokok mau menerima saya.

Teman-teman saya makin banyak yang terbebas dari status pengangguran dan bermigrasi dari Jogja, makin paniklah saya. Hingga akhirnya, di tengah-tengah kepanikan tersebut, muncul sebuah suara di kepala saya, "mungkin kamu memang tidak ditakdirkan untuk bekerja, tapi untuk melakukan sesuatu yang lain." Benar juga, pikir saya. Akhirnya saya memutuskan untuk ikut seleksi penerimaan S2. Saya memutuskan untuk menjadi psikolog.

Maka, saya menghabiskan waktu sebulan penuh untuk kembali membaca materi kuliah. Saya lahap kembali buku-buku dan catatan-catatan kuliah dari semester pertama, yang ajaibnya kebanyakan tidak saya ingat sama sekali. Bukan hanya membaca, saya juga rutin melakukan simulasi FGD bersama pacar saya yang juga ikut mendaftar dan beberapa kakak tingkat yang sudah menjadi psikolog.

Jujur saja, saya belum pernah memiliki ambisi sebesar itu dalam hal akademis. Di jenjang sebelumnya, di pendaftaran SMP, SMA, ataupun kuliah, saya selalu menghadapinya dengan santai, bahkan cenderung tidak peduli. Tapi untuk tes S2 ini, saya total mengeluarkan seluruh energi yang saya punya. Untuk cita-cita mulia: menjadi psikolog sekaligus terbebas dari kehidupan pengangguran yang useless.

Singkat cerita, saya sudah lebih dari siap untuk menghadapi tes penerimaan. Tapi semesta berkata lain; tepat dua hari sebelum hari tes, saya kena tifus. Setelah mengonsumsi banyak sekali obat sebagai pengganti cairan infus (saya memohon-mohon kepada dokter di rumah sakit supaya tidak dirawat inap), akhirnya saya memaksakan diri datang ke kampus untuk mengikuti tes, dengan perasaan sakit yang luar biasa di perut.

Dengan keadaan fisik yang tidak fit seperti itu, saya merasa masih bisa menjalani tes dengan maksimal. Tes tertulis saya isi dengan cukup percaya diri. Tes dinamika kelompok saya lewati dengan bersemangat, meskipun sambil menahan sakit di perut. Tes FGD dan wawancara pun saya lalui dengan penuh keyakinan.

Sebulan kemudian, di bulan Juli, hari itu akhirnya datang, hari pengumuman. Hari yang saya tunggu selama sebulan yang terasa berabad-abad lamanya. Saya selalu menganggap pengumuman ini menentukan hidup saya ke depan: sukses menjadi calon psikolog atau kembali berkubang dalam genangan waktu super luang yang suram.

Saya masih ingat detilnya. Selepas maghrib, saya sengaja mencari tempat yang sepi di sebuah sudut kampus. Lewat ponsel, pelan-pelan saya memasukkan nomor pendaftaran di website pendaftaran. Detak jantung saya tidak karuan saat itu. Lalu sebuah kalimat di layar seperti mengangkat setengah nyawa saya: "Maaf, Anda tidak diterima".

Saya patah hati. Usaha dan energi yang saya keluarkan selama ini sia-sia saja. Bayangan kehidupan yang suram selama beberapa bulan ke depan kembali menghantui saya. Patah hati saya semakin parah ketika tahu pacar saya lolos tes. Seorang perempuan calon psikolog dan pacarnya yang pengangguran. Itu bayangan yang sungguh mengerikan.

Tapi untunglah, lagi-lagi semesta berkata lain. Ketakutan saya tidak terbukti. Hanya berselang beberapa minggu dari hari pengumuman itu, saya mendapat kabar gembira. Saya mendapat panggilan kerja.

Maka inilah saya sekarang, bekerja di perusahaan batu bara terbesar di Indonesia, melakukan pekerjaan yang sesuai dengan impian saya (menulis dan jalan-jalan), dengan pendapatan yang cukup. Tapi, jika kejadian di tahun kemarin itu saya ingat lagi, saya masih merasa sedih. Selalu ada sedikit nyeri yang terasa.

Tapi untunglah, hari ini saya belajar sesuatu. Sebuah trik, sebuah cara, untuk mengurangi kekecewaan dan rasa sakit hati saya. Dan meskipun kejadian yang mengecewakan saya itu sudah lewat setahun, saya tetap akan mempraktekannya sekarang. Karena lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali, bukan? Apa yang akan saya lakukan? Saya akan membuat pernyataan sikap. Ini dia:
DENGAN INI SAYA MENYATAKAN MENARIK DIRI DARI SELEKSI PENERIMAAN MAHASISWA S2 YANG DISELENGGARAKAN OLEH PROGRAM MAGISTER PROFESI FAKULTAS PSIKOLOGI UGM PADA TAHUN 2013, DAN SEKALIGUS MENOLAK HASIL SELEKSI TERSEBUT.
Fiuh, itu dia pernyataan sikap saya. Benar juga, setelah mengucapkan kata-kata itu saya jadi merasa lebih baik... sedikit.

Saturday, June 28, 2014

guncangan

Jam delapan malam lewat beberapa belas menit. Pesawat yang akan saya tumpangi baru mendarat. Sedikit terlambat. Meski cuma beberapa belas menit, tetap saja terlambat. Tapi toh saya (dan saya yakin sebagian besar penumpang lainnya) tidak begitu peduli. Telat beberapa menit tidak berarti apa-apa di sini. Mungkin karena keterlambatan sudah menjadi sesuatu yang terintegrasi dengan hidup kita, sehingga kita terbiasa dengan itu.

Tak lama kemudian, panggilan diumumkan lewat pengeras suara: "Penumpang pesawat jurusan Jogja-Banjarmasin silakan masuk ke pesawat lewat gate 3". Saya melangkah keluar, berjalan ke arah pesawat yang terparkir cukup jauh. Langit Jogja terlihat cukup cerah malam itu, tapi di utara terlihat mendung sedikit menggantung.

Di dalam pesawat, saya segera mengenakan sabuk keselamatan sebelum pramugari bersuara sengau itu menginstrusikan tata-cara pemasangan sabuk dan prosedur keselamatan lainnya. Majalah maskapai tersebut sudah terbaca nyaris setengahnya sebelum pesawat lepas landas. Aneh, betapa manusia senang untuk berlambat-lambat dalam satu hal, tapi terburu-buru dalam hal lain. Membaca majalah yang seharusnya menjadi hiburan ketika terbang, menghabiskan pop corn sebelum film bioskop dimulai, dll.

Di belakang saya duduk rombongan ibu-ibu yang ramai mengobrol. Beberapa baris di depan, seorang anak kecil tidak bisa berhenti menangis. Ibunya terdengar kewalahan membujuknya agar diam.

"Para penumpang, kita akan segera melakukan lepas landas. Untuk alasan keamanan, lampu di dalam kabin akan kami matikan," kata si pramugari bersuara sengau. Saya sedikit mencengkeram pinggiran kursi. Waktu lepas landas adalah momen yang paling saya benci ketika terbang. Nomor duanya adalah ketika mendarat.

Pesawat lepas landas. Lima menit, lampu di dalam kabin masih belum dinyalakan. Tanda kenakan sabuk pengaman masih menyala. Sepuluh menit. Aneh, tidak biasanya mode lepas landas berlangsung selama ini. Jendela tertutupi oleh awan putih yang pekat, saya tidak bisa melihat ke luar.

Pesawat berguncang pelan, seperti mobil ketika melintasi jalan berlobang. Cengkeraman saya pada pinggiran kursi semakin kencang. Sebagai pengidap fobia ketinggian, aktivitas naik pesawat memang bukan hal yang menyenangkan. Meskipun selama ini penerbangan yang saya ikuti selalu baik dan nyaman-nyaman saja.

Pesawat berguncang semakin kencang. Barang-barang di dalam bagasi kabin menggeretuk seperti gigi yang menggigil. Dari jendela, awan putih tampak semakin pekat, diselingi berkali-kali kilatan petir yang membuat suasana sama sekali tidak menenangkan.

Guncangan semakin kencang. Rasanya seperti sedang berada di dalam bis yang melaju kencang di jalanan berbatu. Rasa takut menguar dan berputar-putar di dalam kabin. Keadaan gelap, tapi saya jelas bisa merasakan kepanikan dan ketegangan dari penumpang lain.

Kicauan rombongan ibu-ibu di belakang saya hilang, digantikan oleh isak tangis tertahan dari mereka. Suara tangisan anak kecil di depan saya tak terdengar lagi, mungkin dia tertidur, atau syok sampai tidak bisa mengeluarkan suara, saya tidak tahu pasti. Yang saya tahu, pesawat sedang diguncang oleh turbulensi.

Hingga beberapa waktu kemudian, pesawat berhenti berguncang selama 1 detik, sebelum kemudian amblas. Turun. Terjun bebas. Rasanya persis seperti berada di puncak wahana roller coaster. Kesunyian yang mencekam pecah oleh teriakan dan takbir penumpang. Dalam hati, saya merapalkan semua doa yang bisa saya ingat. Saya sudah membayangkan kematian menari-nari di atas kepala saya, siap menelan kapan saja.

***

Dalam film Hannah and Her Sisters, Woody Allen berperan sebagai Mickey, seorang produer acara TV yang mengidap hipokondria, sebuah gangguan psikologis yang membuat penderitanya percaya dirinya mengidap penyakit serius.

Suatu hari, Mickey mengalami masalah dengan pendengarannya. Seperti biasa, ia segera konsultasi ke dokternya (yang telah terbiasa mendengar segala keluhan fisik Mickey yang paranoid itu). Berbeda dengan biasanya, kali ini si dokter menyimpulkan sesuatu yang menakutkan: Mickey kemungkinan mengidap tumor otak.

Dunia seakan runtuh bagi Mickey. Ini pertama kalinya dokternya satu suara dengan ketakutannya. Semalaman dia tidak bisa tidur, menunggu serangkaian tes dan pindai otak yang akan dilakukan besok pagi. Dia sudah membayangkan kematian menari-nari di atas kepalanya, siap menelannya kapan saja.

***

Pesawat mendarat di Banjarmasin. Kaki saya lemas sekali, sedikit susah untuk berdiri. Kelegaan yang teramat sangat tampak jelas pada wajah para penumpang. Beberapa dari mereka bahkan masih menangis, entah tangisan bahagia atau sisa ketakutan tadi. Ucapan syukur dari para penumpang masih terdengar sampai saya berjalan ke luar bandara.

Di mobil travel jurusan Banjarmasin-Tanjung, saya kebetulan duduk bersebelahan dengan penumpang pesawat yang saya naiki barusan. Dia bercerita, selama 11 tahun dia melakukan perjalanan Jogja-Banjarmasin, penerbangan ini adalah penerbangan paling mengerikan yang pernah dia ikuti. "Tadi pesawat udah miring banget, Mas," katanya.

Kaki saya masih lemas. Saya masih tidak percaya, saya baru saja lolos dari maut.

***

Mickey duduk di ruang dokternya dengan sangat gelisah, menunggu hasil pindai otak yang merupakan jawaban dari semuanya. "It's over. I'm face to face with eternity. Not later, but now," katanya dalam hati. Dokter datang. Hasil pindainya tidak menunjukkan masalah apapun. Dirinya tidak mengidap tumor otak.

Mickey berlari keluar dari rumah sakit. Belum pernah dia merasa segembira itu. Mickey berlari dengan riang di trotoar, langkahnya begitu ringan. Orang-orang melihatnya dengan heran. Sesekali dia melompat sembari bertepuk tangan di udara. Musik jazz mengalun dengan riang. Hari terasa sangat cerah saat itu. Sebelum tiba-tiba dia berhenti berlari. Mickey mematung selama beberapa saat, dan entah dari mana datangnya, muncul pikiran yang sangat gelap, menghapus segala keriangan itu.

"Can you understand how meaningless everything is? I'm talking about or lives, the whole world, it's meaningless. So I'm not gonna die today, I'm not gonna die tomorrow, but eventually I'm gonna be in that position."

***

Beberapa hari setelah turun dari pesawat itu, saya masih merasa sangat beruntung. Hidup saya jadi semakin menyenangkan untuk dijalani. Semua pekerjaan dan masalah di kantor terasa sangat ringan untuk dihadapi. Karena segala masalah itu tidak berarti apa-apa dibanding ketakutan akan kematian.

Namun, rasa beruntung itu pelan-pelan berubah menjadi ketakutan baru. Persis seperti yang dirasakan oleh Mickey. Mungkin saya tidak jadi mati di pesawat itu, tapi pasti saya akan mengalami kematian (dan ketakutan yang menyertainya), entah di pesawat, di mobil di kantor, di rumah, di jalan, di mana pun. Segala hal yang saya lakukan mendadak terasa tidak berarti.

***

Untuk menghindari rasa takut sekaligus kehampaannya, Mickey memutuskan untuk mendalami agama. Awalnya dia mencoba mendalami Katolik, tapi tidak cocok. Kemudian, dirinya bergabung dengan kelompok Hindu aliran Krisna, tapi tidak cocok juga. Saking putus asanya, suatu malam dia hendak bunuh diri; mencoba menembak kepalanya dengan senapan yang dibelinya tempo hari.

Senapan di tangannya terpeleset. Tembakannya meleset, mengenai cermin di kamarnya yang langsung membuat suara gaduh. Tetangganya berdatangan. Karena panik dan tidak tahu harus berbuat apa, Mickey segera lari dari rumahnya. Ia berjalan tak tentu arah selama berjam-jam dengan kebingungan, sebelum akhirnya masuk ke sebuah gedung bioskop.

Mickey duduk di salah satu kursi penonton. Masih bingung dengan apa yang baru saja dilakukannya. Pelan-pelan ia sadar, ia mengenali film yang sedang diputar di layar. Itu adalah film kesukaannya waktu kecil, ia berkali-kali menonton film ini. Kegalauannya pelan-pelan hilang, Mickey benar-benar menikmati detik-detik itu.

***

Dan sekali lagi, saya sepakat dengan Mickey:

"I'm watching these people up on the screen and I started getting hooked on the film. I started to feel, how can you even think of killing yourself, I mean isn't it so stupid? Look at all the people up there on the screen, they're real funny, and what if the worst is true? What if there is no God and you only go around once and that's it? Well, you know, don't you wanna be part of the experience? And I'm thinking to myself, Jeez, I should stop ruining my life searching for answers I'm never gonna get, and just enjoy it while it lasts. And then I started to sit back, and I actually began to enjoy myself."

Wednesday, March 5, 2014

Aruh Buntang, Sebuah Perayaan untuk Para Arwah

Hari itu, para dewa diundang untuk bersemayam di sebuah pohon kelapa di ujung desa. Seorang balian (dukun) yang memanggilnya lewat mantra-mantra. Dewa air, dewa api, dewa angin, dan dewa tanah dimohonkan untuk melindungi desa mereka dari badai, petir, gempa bumi, dan bencana alam lainnya. Pemanggilan dewa-dewa itu juga sebagai bentuk permintaan restu dalam mengadakan aruh buntang.

Aruh buntang adalah upacara kematian yang dilakukan oleh masyarakat Dayak Deah. Aruh (upacara) ini bertujuan untuk mengantarkan arwah orang yang sudah meninggal menuju kehidupan berikutnya. Upacara ini juga merupakan simbol bakti dan rasa hormat dari mereka yang masih hidup kepada leluhur yang sudah meninggal. Ritual pemanggilan dewa di atas merupakan fase awal dari pelaksanaan aruh buntang. Setelah para dewa dipanggil, pohon kelapa yang menjadi tempat semayam tersebut kemudian dikelilingi dengan sesajen yang telah diberi mantra. Setelah itu, barulah pelaksanaan aruh boleh dilakukan.

Aruh buntang tersebut dilakukan di halaman rumah Hasan, seorang warga Desa Pangelak, Kecamatan Upau, Kabupaten Tabalong, pada 27 Februari sampai 3 Maret 2014. Aruh ini terbilang unik, karena jika biasanya aruh buntang dilakukan untuk melepas arwah satu atau beberapa orang saja, kali ini aruh digelar untuk puluhan arwah sekaligus.

Seminggu sebelumnya, dilakukan pembongkaran 87 kuburan yang berada di sekitar wilayah Mampura, cukup jauh dari desa mereka. Makam-makam yang diperkirakan berumur ratusan tahun tersebut dipercaya sebagai makam leluhur masyarakat Dayak Deah.

Ali, salah satu orang yang dituakan di desa, mengatakan bahwa dulu Mampurai adalah tanah asli leluhur mereka. Suatu hari, di daerah itu terjadi sesuatu yang aneh, setiap hari ada orang yang mati tanpa diketahui penyebabnya. Karena tanah tersebut diduga mengandung kutukan, para leluhur itu kemudian pindah ke wilayah yang sekarang menjadi desa mereka.

Bagi masyarakat Dayak, kuburan adalah sebuah tempat persinggahan sementara bagi orang yang meninggal. Setelah dikubur, suatu hari kuburan itu harus dibongkar lagi, dan jasad orang yang meninggal tersebut dipindahkan ke sebuah peti yang ditempatkan di dalam bangunan khusus bernama sandung, atau pengelowokng dalam bahasa Dayak Deah. Jangka waktu dari penguburan sampai pembongkaran tergantung dari kesiapan keluarga yang ditinggalkan, karena biaya yang dibutuhkan tidak sedikit.

Karena itu, selama menunggu keluarga yang ditinggalkan mengumpulkan dana, jenazah dimakamkan terlebih dahulu seperti biasa. Saat dana sudah terkumpul, barulah makam dibongkar kembali untuk memindahkan isi makam tersebut yang biasanya sudah menjadi tengkorak.

Sehabis kuburan dibongkar, para arwah diyakini akan melayang ke rumah sang empunya hajat. Untuk itu, di tengah halaman rumah di mana aruh berlangsung didirikan sebuah altar. Terbuat dari sebilah bambu yang didirikan, kemudian pada bambu tersebut digantungkan kain, janur, dan berbagai dedaunan yang diatur sedemikan rupa. Pada altar itulah para arwah dipercaya bersemayam.

Sepanjang hari, keluarga dan warga yang hadir melakukan tarian mengelilingi altar tersebut. Tarian itu dimaksudkan untuk menghibur para arwah yang sedang mengamati kerabat mereka yang masih hidup. Setiap hari, makanan dan minuman juga disiapkan untuk para arwah. Jumlahnya sesuai dengan jumlah arwah yang mendiami altar tersebut. Dalam aruh ini, 87 set makanan dan minuman disiapkan setiap harinya untuk diletakkan di bawah altar.

Di samping rumah, terlihat dua ekor kerbau yang diikat menggunakan rotan. Orang Dayak Deah percaya, persembahan kerbau dapat mempermulus jalan bagi para arwah. Proses pengorbanan kerbau dalam aruh buntang adalah sesuatu yang ditunggu-tunggu, karena kerbau-kerbau itu tidak disembelih seperti biasa, tetapi ditombak.

Di hari keempat, kerbau-kerbau itu diikat di sebuah tiang dengan tali yang cukup panjang. Beberapa orang pria mengelilinginya sambil memegang tombak. Setelah aba-aba diberikan, tombak-tombak itu ditusukkan bergantian kepada si kerbau yang berlari ke sana kemari hingga mati. Daging kerbau itu kemudian dimasak dan dibagikan kepada seluruh warga.

Pada hari kelima, yang merupakan hari terakhir, dilakukan ritual puncak dari prosesi aruh buntang, yaitu pendirian belontakng, sebuah totem khas masyarakat Dayak. Di bagian atas belontakng, dipahat sebentuk patung yang menyerupai orang yang sudah meninggal. Belontakng yang sudah terukir itu diangkat bersama-sama oleh beberapa orang, kemudian ujung bawahnya ditanam di halaman rumah Hasan.

Setelah didirikan, arwah-arwah yang tadinya berada di altar diyakini akan berpindah tempat ke belontakng. Belontakng adalah sesuatu yang disakralkan oleh orang Dayak, karena mereka percaya, arwah leluhur yang tinggal di dalamnya akan melindungi mereka dari mara bahaya. Pendirian belontakng sekaligus menjadi penanda berakhirnya aruh.

Pohon kelapa yang menjadi tempat persemayaman para dewa kembali didatangi, mantra dirapalkan untuk berterima kasih sekaligus mengembalikan mereka ke tempat asalnya. Semua api di desa yang digunakan untuk keperluan aruh, seperti memasak, lilin, dan lain-lain harus dimatikan. Setelah semua api mati, warga baru boleh menyalakan api kembali. Itu menandakan bahwa api yang mereka gunakan adalah api yang sudah kembali suci.