Tuesday, August 30, 2016

cerita yang biasa saja tentang kekecewaan yang biasa saja

Beberapa waktu lalu, seorang kawan berangkat ke Jepang untuk mengikuti sebuah konferensi tentang energi. Ia tidak hanya hadir sebagai penonton, tapi juga didapuk untuk mempresentasikan hasil penelitiannya tentang energi terbarukan.

Kawan saya ini sebetulnya sangat minder untuk presentasi di depan umum, apalagi ia merasa bahasa Inggrisnya pas-pasan. Ditambah, para presenter lain tampil meyakinkan dengan cara penyampaian yang begitu menarik dan canggih, berbeda dengannya yang hanya mengandalkan slide Powerpoint. Makin minderlah ia.

Di akhir konferensi, diumumkan makalah-makalah penelitian terbaik dan diberi penghargaan. Sayang, penelitian kawan saya tidak termasuk dalam daftar terbaik. “Tidak apa-apa, yang penting dapat pengalaman ke Jepang,” katanya menghibur diri.

Tak disangka, malamnya, ia dihubungi oleh seorang direksi dari perusahaan energi terkemuka di Jepang. Sang direksi ini rupanya hadir dalam konferensi tadi, dan tertarik dengan penelitian yang disajikan kawan saya. Sang direksi lantas mengundangnya untuk datang ke kantornya.

Keesokan harinya, di kantor yang sejuk nan mewah itu, tanpa ba-bi-bu, sang direksi langsung berkata, “Bagaimana kalau saya beli hasil penelitianmu? Selain saya beli, kamu juga saya kuliahkan S2 di sini. Seluruh biaya kuliah dan biaya hidup akan kami tanggung.”

Kawan saya syok! Ia tak menyangka, hasil penelitian yang ia tampilkan dengan hanya bermodal slide Powerpoint itu mampu mengundang ketertarikan seorang direksi perusahaan besar. Bayangan akan disekolahkan di Jepang dengan dibiayai penuh membuatnya bungah.

Namun, ia tak lantas menyetujui. Meski tawaran itu sangat menggiurkan, itu adalah sebuah keputusan besar, ia harus mendiskusikannya terlebih dahulu dengan orang-orang terdekatnya. Ia lantas minta izin untuk pulang ke Indonesia dan berjanji memberikan jawaban seminggu kemudian.

Sepulangnya ke tanah air, ia segera mengabari keluarganya tentang tawaran sang direksi. Keluarganya menyambut baik, dan menyerahkan keputusan sepenuhnya kepada kawan saya. Restu dari keluarga sudah didapat. Tinggal satu lagi, restu dari para dosen pembimbing penelitiannya.

Dengan langkah mantap, ia berjalan ke kampus. Bayangan akan mengenyam pendidikan gratis di Jepang tinggal di depan mata. Namun, tak disangka, para dosennya menyuruhnya menolak tawaran itu.

“Ini perkara nasionalisme. Jangan pernah menjual intelektualitasmu pada negara lain,” kata dosennya.

“Mereka akan mengeruk kekayaan negara kita menggunakan hasil penelitianmu,” kata dosen yang satunya.

“Tolak saja. Kami akan upayakan penelitianmu terus didukung negara,” tutup dosen yang lain.

Ia bimbang. Di satu sisi ingin sekali berangkat, namun di sisi lain ia tak enak pada para dosennya. Bagaimanapun, mereka telah membantunya menyelesaikan penelitian tersebut. Akhirnya, dengan berat hati, ia mengirim email kepada sang direksi, menolak tawaran menggiurkan itu.

Namun, beberapa bulan kemudian, penelitiannya justru malah telantar. Pihak kampus tak lagi melanjutkan dukungannya, begitu pun dengan pemerintah. Alasannya klise: tidak ada dana. Penelitiannya yang pernah ditawar dengan S2 gratis itu, kini tak lebih dari sebuah dokumen tak berharga.

"Kalau begini, bagaimana caranya aku bisa mencintai Indonesia?" tanyanya.

Menurut saya, itu pertanyaan bodoh yang datang dari seorang kawan yang telah melakukan keputusan yang bodoh. Maka, daripada saya mengeluarkan komentar yang bisa-bisa membuat kawan saya panas hati, saya menjawab sekenanya dan menggiringnya membicarakan hal lain. Tentang film, upaya berhenti merokok, makanan enak, dan hal-hal lain yang tak ada urusannya dengan nasionalisme.

Hari itu, waktu kembali bergulir seperti biasa...

Sunday, August 21, 2016

double exposure nikon fm10

Udah sekitar delapan tahun saya pakai Nikon FM10, tapi baru sadar beberapa bulan yang lalu kalau kamera ini punya fitur double exposure. Telat banget memang. Caranya dengan neken tuas kecil yang ada di sebelah tombol shutter waktu ngokang film. Pantesan, selama ini saya mikir tuas itu gunanya buat apa, ternyata buat ngasih lebih dari satu eksposur di film yang sama.

Ini beberapa contohnya:

Monday, July 25, 2016

senjakala usia

Sherlock Holmes terjatuh dari tempat tidurnya. Bukan karena suatu pikiran mengejutkan tiba-tiba hinggap di kepalanya. Bukan pula akibat didorong musuh atau pengaruh racun yang disuntikkan anak buah Moriarty. Ia jatuh, karena tubuhnya sudah renta.

Di usianya yang ke-93, Sherlock Holmes harus membunyikan bel dan memanggil pelayan hanya untuk membantunya turun dari tempat tidur. Ia menyeret tongkat ke mana-mana untuk membantunya berjalan. Pikirannya sudah pikun. Jangankan mengingat detil kasus terakhirnya, untuk mengingat nama orang yang sedang berada di hadapannya saja ia tak bisa.

Di masa senjanya, ia tinggal di sebuah rumah perkebunan terpencil di tepi laut. Ia hidup bersama seorang pelayan dan anaknya. Untuk menghabiskan waktu, Sherlock Holmes beternak lebah. Sahabatnya Watson, induk semangnya di Baker Street Nyonya Hudson, kakaknya Mycroft, dan mungkin orang-orang lain yang pernah dekat dengannya, sudah lama mati. Sherlock benar-benar sendiri. Menunggu ajalnya tiba dalam kesunyian.

Gambaran detektif swasta nan nyentrik di penghujung usianya itu ada dalam film keluaran tahun 2015 berjudul Mr Holmes, dibintangi oleh Ian McKellen sebagai si detektif bangkotan. Ada perasaan tidak nyaman selama dan setelah saya nonton film ini. Bukan karena ini film yang buruk. Meski tidak bagus-bagus amat, Mr Holmes bukan film yang buruk. Perasaan tidak nyaman itu muncul karena dua hal.

Pertama, Sherlock Holmes adalah pahlawan masa kecil saya. Jauh sebelum Robert Downey Jr atau Benedict Cumberbatch memerankannya dalam film dan serial TV, saya sudah mengidolakan tokoh ini lewat novel-novel Sir Arthur Conan Doyle. Kalau tidak salah, saya pertama kali membaca novelnya saat duduk di kelas 5 SD.

Saya terpesona dengan kemampuannya menyelesaikan kasus Silver Blaze. Berdecak kagum saat ia dengan cerdik memecahkan kode orang menari. Tertawa ketika ia menggoda John Watson dengan kemampuan deduksinya. Deg-degan setengah mati ketika ia bergelut dengan Profesor Moriarty di pinggir air terjun Reichenbach. Galau ketika ia dianggap mati di dasar air terjun. Dan bersorak waktu ia kembali muncul di jalanan Inggris beberapa waktu kemudian.

Film ini merusak bayangan saya atas semua hal nostalgik itu. Melihat sosok Sherlock Holmes digambarkan sebagai seorang tua yang lemah dan pikun, jauh dari gambaran saya di masa kecil tentang seorang detektif jempolan nan lincah dan cerdas, dan itu cukup bikin hati saya nggerus. Saya tahu bersedih untuk tokoh fiktif adalah hal yang kelewat sentimentil, tapi mau bagaimana lagi.

Kedua, ini lebih realistis, adalah bagaimana tiba-tiba saya diterjang pikiran tentang ketuaan dan kematian. Setelah nonton ini saya jadi sadar, masa tua ternyata tidak begitu menyenangkan untuk dibayangkan. Masa penghujung usia. Di mana kekuatan fisikmu merosot, ingatanmu mengendur, dunia diambil oleh generasi di bawahmu yang sungguh tak bisa kau pahami, eksistensimu mulai tidak berarti lagi, dan ajal mulai menjemput orang-orang yang kau kenal, sebelum akhirnya menjemput dirimu sendiri.

Saya mungkin masih lumayan jauh sebelum sampai di hari tua, itu pun kalau punya umur panjang. Tapi orangtua saya, mertua saya, keluarga saya, orang-orang yang lebih tua dari saya, akan lebih dulu mencapai fase itu. Beberapa tentu sudah berada di sana, dan akan ada lebih banyak lagi dari waktu ke waktu. Dan kemudian, tanpa terasa, tahu-tahu saya yang sudah berdiri di sana, di titik yang sama yang dirasakan orang-orang sebelum saya. Membayangkan semua itu membuat saya bergidik.

Tapi toh, di film itu Sherlock Holmes akhirnya menemukan ketenangan di hari-hari terakhirnya. Ketenangan yang didapat dari perdamaian yang ia jalin dengan masa lalunya, lingkungan sekitarnya, orang-orang yang telah meninggalkannya, dan dirinya sendiri.

Saya kira, di ujung lorong usia kelak, yang kita perlukan adalah dua hal itu: ketenangan dan kedamaian. Semoga semesta berbaik hati melimpahkannya pada kita semua.

Wednesday, May 4, 2016

besok long weekend dan saya tidak tahu lagi harus mengerjakan apa di kantor

Kami jarang sekali membicarakan masa depan. Selain karena sama-sama percaya bahwa "the future is unwritten", membicarakan masa depan selalu membawa serta kemurungan tersendiri di hati kami. Kemurungan atas keniscayaan untuk kehilangan hari ini, kemurungan yang perlahan menjelma menjadi ketakutan. Tetapi "masa depan" yang selalu kami hindari itu pada kenyataannya semakin mendekat, bahkan terlalu dekat untuk kami namakan "masa depan".

Sebagian besar teman satu angkatan saya sudah lulus dan bekerja, beberapa teman dekat kami bahkan telah menyediakan diri untuk dilahap oleh raksasa bernama Jakarta (dan saya yakin jumlahnya akan semakin bertambah dalam waktu dekat ini), dua minggu yang lalu umur saya menjadi dua puluh tiga (umur yang sama di mana Ian Curtis meninggal), dan tahun ini saya (harus) lulus kuliah. Itu semua menandakan bahwa masa depan yang kami bayangkan telah menjadi masa kini bagi sebagian orang, yang dengan penuh kesadaran saya akui akan berlaku bagi saya.

Maka, masa depan yang mungkin hanya berjarak hitungan bulan dari hari ini pun menjadi topik perbincangan yang mandatory, mau tidak mau harus kami bicarakan juga.

"Aku besok enggak ingin menetap, ingin nomaden, kalo bisa mah keliling Indonesia," katanya.
"Aku mah malah ingin menetap, ingin punya rumah, terus bikin perpustakaan kecil atau seenggaknya ruang baca di dalemnya," jawab saya.

***

Tulisan di atas saya tulis empat tahun yang lalu. Tepatnya tanggal 23 Maret 2012. Itu salah satu dari enam puluh tulisan yang tak pernah saya selesaikan, dan berakhir sebagai penghuni ruang draft blog ini.

Tulisan itu belum selesai. Saya sudah lupa kelanjutan dialog yang saya lakukan bersama pacar (yang sekarang sudah menjadi istri) saya itu. Saya juga tidak ingat kapan dan di mana dialog itu terjadi. Ah, bahkan saya tidak tahu dulu itu intinya mau nulis apa.

Tapi, rasa sebal, kecemasan, dan mungkin ketakutan terhadap masa depan itu, saya masih ingat betul. Empat tahun setelah dialog itu, masa depan rupanya benar-benar datang. Kami lulus kuliah (ia bahkan lulus kuliah dua kali), saya dapat pekerjaan (yang untungnya bukan di Jakarta), menikah, sempat menjalani hubungan jarak jauh, punya seorang anak perempuan yang luar biasa menggemaskan, dan sekarang tinggal bersama di sebuah kota kecil di Kalimantan Selatan.

Masa depan ternyata tidak semengerikan itu. Meski memang beberapa hal tidak selalu sesuai dengan ekspektasi kami. Contohnya, ia tidak jadi nomaden dan belum sempat keliling Indonesia, dan saya belum punya rumah atau perpustakaan kecil. Tapi, setelah saya pikir lagi, "masa depan" adalah frasa yang tidak jelas. Ia menandakan suatu waktu sehabis sekarang, tapi tidak dengan tegas menunjukkan kapan.

Saat ini adalah masa depan bagi kami empat tahun yang lalu, tapi masa depan tidak berhenti hari ini. Akan selalu ada masa depan-masa depan lain yang mengikuti setelahnya. Siapa tahu, di masa depan, empat tahun lagi misalnya, semesta mengabulkan harapan-harapan kami. Perihal keliling Indonesia, perpustakaan, dan entah apa lagi.

Sunday, April 10, 2016

petuah-petuah terjun dari langit-langit rumah yang dihuni satu atau dua laba-laba

Sembari menunggu ibumu memotongi sayur, kita berbaring di depan tivi yang memutar serial dengan episode yang itu-itu saja. Aku membelai lembut pipi tembemmu, dan kau memandangku dengan tatapan yang lebih meneduhkan dibanding ribuan bayangan beringin, ditambah sepotong senyum paling manis sedunia. Matamu adalah lubang hitam, aku terisap ke dalamnya dan tiba-tiba segala kata beterbangan:

Kabar baiknya, kau hidup.
Kabar buruknya, kau akan mati.
Tidak hanya kau. Aku, ibumu, teman-temanmu, semua orang yang kau kenal akan mati.
Tapi tidak hari ini. Kita akan jalani hidup sebaik-baiknya sampai hari itu datang.

Mula-mula, ingatlah kalimat ini; jangan sekali-sekali urusi hidup orang lain. Jangan.
Kau boleh peduli, tapi jangan mendikte apa yang seharusnya dilakukan atau tidak dilakukan oleh orang lain.
Jadi, tak perlulah kau berada di barisan mereka yang senang merecoki pemeluk Islam, Kristen, Hindu, Budha, Syiah, Yahudi, penyembah pohon jambu, komunis, vegetarian, penyuka sesama jenis, manusia setengah kucing, atau penggemar Star Trek.
Dengan merecoki, nantinya kau akan membenci.
Kalau menuruti nafsu, ada terlalu banyak orang yang ingin kau benci. 
Maka lebih baik tidak usah saja. Capek sendiri nanti.

Hidup ini singkat, maka kami akan mengajarimu beberapa hal substansial.
Aku akan mengajarimu menulis cerita, ibumu akan mengajarimu mengaji.
Aku akan mengajarimu bermain tenis meja, ibumu akan mengajarimu bagaimana caranya memberikan terapi kognitif-perilaku.
Selain beberapa materi pokok di atas, nanti akan ada beberapa materi lain sebagai tambahan.
Sisanya, kau bisa googling, jangan malas.

Dan juga ingat ini: jangan dengarkan orang lain yang mengatakan kau tidak bisa melakukan sesuatu, apalagi ditambah embel-embel karena kau seorang perempuan.
Walaupun kenyataannya kita memang tidak bisa melakukan semua hal yang kita mau sih.
Contohnya, mendaratkan pesawat di matahari, karena ia terlampau panas.
Atau ingin langsung kuliah setelah lulus SD, karena ada persyaratan administrasi yang tidak bisa kita langgar.
Poinku adalah, kau perempuan, tapi kau memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk mencapai apapun yang bisa dicapai oleh laki-laki.
Jika ada yang berkata sebaliknya, tonjok saja hidungnya. Mudah-mudahan ia ikut program BPJS.

Salah satu dosa besar adalah menjalani hidup terlalu serius.
Kau harus woles, karena itu mendatangkan pahala.
Dengarkanlah semua jenis musik; tonton segala jenis film; baca berbagai jenis buku; datangi seluruh diskusi, gigs, pemutaran film, dan pameran seni, apalagi kalau gratis.
Dan jangan yang bagus saja, yang jelek juga cobalah kau lahap.
Dalam waktu dekat, lupakan semua roman putri Disney, aku sudah siapkan untukmu film-film Ghibli. 
Ceritanya lebih bergizi.

Tiba-tiba kau menangis. Aku kembali terhempas ke dunia fisik di atas tikar bambu di depan tivi yang memutar serial dengan episode yang itu-itu saja. Popokmu basah lagi. Ibumu mengganti popok, dan aku disuruh menggantikannya memotongi sayur. Lalu hidup mengalir lagi.

Tuesday, March 15, 2016

Tabalong Ethnic Carnaval 2016

Tabalong Ethnic Festival, atau TEF, adalah kegiatan tahunan yang diinisiasi dan dilaksanakan oleh pemuda-pemudi Tabalong dengan penuh militansi sejak tahun 2011. TEF memiliki beragam rangkaian acara, seperti pentas seni tradisional, festival musik panting (alat musik khas Banjar), dan lomba permainan anak tradisional.

Puncak kegiatan adalah Tabalong Ethnic Carnaval, sebuah karnaval budaya yang mengedepankan budaya Banjar dan Dayak, serta kostum lain sesuai kreativitas peserta. Memiliki mimpi untuk bisa menyaingi Jember Fashion Carnaval, kegiatan ini selalu berhasil menyedot minat peserta, bukan hanya dari Tabalong, tapi juga dari berbagai daerah lain di Kalimantan Selatan.

Tahun ini, rute yang dipilih sebagai jalur karnaval adalah dari Pusat Oleh-oleh Khas Tabalong (POKTA) hingga Taman Kota Tanjung. Itu rute yang cukup ideal; tidak terlalu dekat dan tidak terlalu jauh. Cuaca juga mendukung, tidak seperti dua tahun lalu di mana hujan turun dengan cueknya. Ribuan masyarakat tumpah ruah ke jalan, menyaksikan hiburan bermutu yang hanya datang setahun sekali, dan sejenak melupakan kekesalan pada listrik yang kerap mati.

Seluruh foto diambil menggunakan Yashica Electro 35 + film Fuji Neopan SS (expired tahun 2008).

Saturday, February 6, 2016

untuk siapa?

Dalam serial TV Breaking Bad, Walter White adalah seorang guru kimia yang divonis kanker. Demi memenuhi pundi-pundi ekonomi keluarga dengan sisa hidupnya yang menurut dokter akan habis dalam hitungan bulan, dia memutuskan untuk membuat meth (methamphetamine/sabu-sabu). Di fase awal petualangannya membuat meth bersama partnernya, Jesse Pinkman, Walter White mendasari perbuatannya dengan motif ekonomi: dia membutuhkan uang, dan dia melakukan semua itu untuk keluarganya.

Seiring berjalannya waktu, bisnis meth yang dibangunnya semakin besar, jangkauan konsumennya semakin luas, dan tentu saja: uangnya semakin banyak, bahkan sudah lebih dari yang dia butuhkan. Di saat yang sama, dokter menyatakan kankernya sembuh, dia tidak jadi mati dalam waktu dekat. Jika betul motifnya sesederhana ekonomi, pastilah ia segera berhenti bikin narkoba. Toh, uangnya menumpuk, dan ia tidak akan mati dalam waktu dekat. Tapi, ia terus melanjutkan karirnya sebagai drug lord.

Berkali-kali, Skyler, istrinya, menggugat perbuatan kotornya itu. Dan berkali-kali pula, Walter menjawab dengan tegas bahwa ia melakukan itu semua untuk keluarganya. Jawaban yang meski tetap membuat Skyler gerah, setidaknya bisa meredakan sedikit emosinya.

Hingga suatu hari, laku bisnis Walter yang penuh ranjau itu runtuh. Rumah tangga mereka hancur, rumah mereka disita negara, adik ipar mereka mati, dan Walter menjadi buronan nomor satu. Setelah menjadi pelarian selama satu tahun, Walter memutuskan untuk kembali ke Albuquerque, kota di mana keluarganya tinggal. Dengan mengendap dari pantauan polisi, ia berhasil menemui istrinya, yang hanya memberinya waktu lima menit untuk bicara.

"Skyler, maaf untuk semua yang telah terjadi. Aku ingin kau tahu, semua ini aku lakukan untuk..."

"Walter, tolong hentikan omong kosongmu. Jangan bilang kau melakukan semua ini untuk keluargamu!"

"Tidak. Aku tidak melakukan semua ini untuk kalian. Aku ingin kau tahu, aku melakukan semua ini untuk diriku sendiri. Aku menikmatinya. Aku merasa hidup."

***

Dalam banyak hal, saya kira kita seperti Walter White. Hal-hal yang kita lakukan, yang kita katakan kita lakukan untuk keluarga, untuk orang lain, untuk kelompok, untuk perusahaan, untuk kebaikan, untuk agama, untuk negara, untuk apa pun selain diri kita, sesungguhnya kita lakukan untuk diri kita sendiri. Kita hanya tidak tahu, atau tidak mau mengakuinya.