Tuesday, November 25, 2014

catatan sekian dimensi: waktu


Pagi tadi, ratusan sayap laron berserakan di halaman belakang mess saya. Ini adalah sisa-sisa invasi ribuan serangga tadi malam, mereka datang dari hutan yang gelap gulita di belakang mess. Konon, rata-rata umur laron hanya satu hari. Mereka adalah rayap yang menumbuhkan sayap, keluar dari tanah, beterbangan mencari pasangan, kawin, dan sebagian besar mati keesokan harinya.

Menurut standar hidup manusia yang puluhan tahun, siklus hidup para laron terasa amat sangat singkat. Dalam sehari, tidak banyak yang bisa dilakukan manusia. Namun bagi laron, sehari adalah seumur hidup. Bagi laron, dua puluh empat jam serupa tujuh puluh tahun.

Bagi mereka, keluar dari tanah, terbang di sekitar lampu-lampu, mencari pasangan, dan bercinta semalaman adalah kegiatan dalam rentang waktu yang mendekati keabadian. Umur manusia yang puluhan tahun tentu terasa sangat mencengangkan bagi mereka; melebihi keabadian.

Sebaliknya, umur manusia terasa amat singkat bagi beberapa jenis hewan laut yang dapat hidup hingga ratusan tahun. Umur beberapa jenis hewan laut ini juga hanya sekejap mata jika dilihat dari kacamata posidonia oceanica, sejenis rumput laut yang di laut Mediterania yang dapat hidup sampai ribuan tahun. Begitu seterusnya.

Singkatnya, kita adalah laron berumur pendek bagi makhluk lain, dan rumput laut berumur panjang bagi makhluk lainnya. Menakjubkan, betapa relativitas waktu benar-benar nyata jika kita memikirkannya.

***

Baru-baru ini saya nonton dua film yang bertema sama; Edge of Tomorrow dan The Girl Who Leapt Through Time (Toki wo Kakeru Shōjo). Keduanya sama-sama berkisah tentang orang yang dapat memutar waktu dan mengulang kembali hari mereka sesuka hati, sehingga mereka dapat mengalami berbagai versi dari hidup mereka, dengan posibilitas yang tidak terbatas.

Tema semacam itu sudah kelewat sering diangkat dalam film, buku, musik, atau karya apapun, tapi tetap saja, kita selalu rindu untuk membahasnya. Mengendalikan waktu sepertinya adalah kemampuan dambaan semua orang, terutama manusia modern yang selalu merasa tidak pernah memiliki cukup waktu. Masalahnya, apakah dengan mengendalikan waktu, kita akan lebih bahagia?

Toh, kedua tokoh utama dari film di atas sadar, sehebat apapun mereka dapat mengembalikan waktu, kehidupan tidak lantas jadi lebih mudah.

Dalam Edge of Tomorrow, Cage adalah seorang prajurit yang dikirim ke medan perang yang selalu menemukan dirinya terbangun tepat sehari sebelumnya jika ia terbunuh. Kemampuannya ini ia dapat setelah tersemprot darah alien yang ditembaknya. Ratusan kali ia mati, ratusan kali ia terbangun di hari sebelumnya. Ratusan kali pula, Cage mengalami kesulitan untuk menyelamatkan Rita, cinta lokasinya di medan perang.

Makoto, tokoh utama dalam The Girl Who Leapt Through Time, adalah seorang siswi biasa dari sekolah biasa, yang tiba-tiba memiliki kemampuan untuk berpindah waktu, setelah ia mengalami kecelakaan di laboratorium sekolah. Ia bisa dengan sesuka hati berpindah ke waktu yang ia inginkan di masa lalu. Tapi, kemampuan yang awalnya ia banggakan setengah mati ini malah menciptakan gumpalan-gumpalan masalah yang semakin membesar seperti bola salju.

Cage dan Makoto akhirnya menyadari, kemampuan mengendalikan waktu terlalu berat untuk disandang sesosok makhluk bernama manusia. Sesosok makhluk yang tidak abadi, seonggok daging yang punya waktu kadaluarsa.

Kita semua tahu kisah tentang nenek moyang manusia. Konon, nenek moyang kita itu diciptakan Tuhan untuk menjadi makhluk abadi. Namun keabadiannya dicabut ketika ia memakan buah dari pohon terlarang. Pencabutan keabadian itu, tentu saja, adalah hukuman dan kutukan. Kita dikutuk untuk menjadi makhluk rapuh yang punya jaminan untuk mati.

Namun, saya memiliki pemaknaan lain dari hukuman itu. Jika dipikir, ketidakabadian sesungguhnya adalah anugerah, dan keabadian di satu titik justru adalah kutukan itu sendiri. Hidup justru terasa lebih berharga karena kita tahu itu akan berakhir.

Pada akhirnya, kita harus menerima, waktu adalah sungai, dan kita semua; manusia, laron, ataupun rumput laut, hanyalah batang-batang kayu yang hanyut di atasnya. Sekuat apapun kita berusaha, kita tidak bisa menambah kecepatan, berenang mundur, atau melompat ke tepian. Kita tidak memiliki daya apapun untuk mengendalikan hanyutan sungai yang terasa deras bagi satu makhluk, dan terasa lamban bagi makhluk yang lain ini. Yang bisa kita lakukan hanyalah mengunyah baik-baik setiap momen dalam perjalanan ini, pahitnya, manisnya, dan semua rasanya yang lain.

Mengunyahnya perlahan, sampai kita sampai pada ujung perjalanan kita masing-masing...

Tuesday, July 22, 2014

gagal

Ini bulan Juli, berarti tepat setahun yang lalu saya merasakan patah hati. Ceritanya begini:

Setelah diwisuda pada akhir 2012 dan bersenang-senang selama beberapa lama dengan stok waktu saya sebagai pengangguran yang sepertinya tidak terbatas, akhirnya datang juga perasaan tidak enak nan klasik itu: kecemasan akan karir dan masa depan. Ditambah, beberapa teman dekat saya sudah mendapat pekerjaan, makin terasa beratlah status pengangguran ini.

Akhirnya, secara brutal saya mengirimkan CV yang berisi gombalan-gombalan intelektual dan surat lamaran kerja yang luar biasa menyebalkan ke berbagai perusahaan. Tragisnya, tidak ada satu pun dari perusahaan-perusahaan itu, baik yang terang-benderang berskala internasional maupun yang ecek-ecek berskala lokal dengan gaji yang mungkin hanya cukup digunakan untuk makan dan beli rokok mau menerima saya.

Teman-teman saya makin banyak yang terbebas dari status pengangguran dan bermigrasi dari Jogja, makin paniklah saya. Hingga akhirnya, di tengah-tengah kepanikan tersebut, muncul sebuah suara di kepala saya, "mungkin kamu memang tidak ditakdirkan untuk bekerja, tapi untuk melakukan sesuatu yang lain." Benar juga, pikir saya. Akhirnya saya memutuskan untuk ikut seleksi penerimaan S2. Saya memutuskan untuk menjadi psikolog.

Maka, saya menghabiskan waktu sebulan penuh untuk kembali membaca materi kuliah. Saya lahap kembali buku-buku dan catatan-catatan kuliah dari semester pertama, yang ajaibnya kebanyakan tidak saya ingat sama sekali. Bukan hanya membaca, saya juga rutin melakukan simulasi FGD bersama pacar saya yang juga ikut mendaftar dan beberapa kakak tingkat yang sudah menjadi psikolog.

Jujur saja, saya belum pernah memiliki ambisi sebesar itu dalam hal akademis. Di jenjang sebelumnya, di pendaftaran SMP, SMA, ataupun kuliah, saya selalu menghadapinya dengan santai, bahkan cenderung tidak peduli. Tapi untuk tes S2 ini, saya total mengeluarkan seluruh energi yang saya punya. Untuk cita-cita mulia: menjadi psikolog sekaligus terbebas dari kehidupan pengangguran yang useless.

Singkat cerita, saya sudah lebih dari siap untuk menghadapi tes penerimaan. Tapi semesta berkata lain; tepat dua hari sebelum hari tes, saya kena tifus. Setelah mengonsumsi banyak sekali obat sebagai pengganti cairan infus (saya memohon-mohon kepada dokter di rumah sakit supaya tidak dirawat inap), akhirnya saya memaksakan diri datang ke kampus untuk mengikuti tes, dengan perasaan sakit yang luar biasa di perut.

Dengan keadaan fisik yang tidak fit seperti itu, saya merasa masih bisa menjalani tes dengan maksimal. Tes tertulis saya isi dengan cukup percaya diri. Tes dinamika kelompok saya lewati dengan bersemangat, meskipun sambil menahan sakit di perut. Tes FGD dan wawancara pun saya lalui dengan penuh keyakinan.

Sebulan kemudian, di bulan Juli, hari itu akhirnya datang, hari pengumuman. Hari yang saya tunggu selama sebulan yang terasa berabad-abad lamanya. Saya selalu menganggap pengumuman ini menentukan hidup saya ke depan: sukses menjadi calon psikolog atau kembali berkubang dalam genangan waktu super luang yang suram.

Saya masih ingat detilnya. Selepas maghrib, saya sengaja mencari tempat yang sepi di sebuah sudut kampus. Lewat ponsel, pelan-pelan saya memasukkan nomor pendaftaran di website pendaftaran. Detak jantung saya tidak karuan saat itu. Lalu sebuah kalimat di layar seperti mengangkat setengah nyawa saya: "Maaf, Anda tidak diterima".

Saya patah hati. Usaha dan energi yang saya keluarkan selama ini sia-sia saja. Bayangan kehidupan yang suram selama beberapa bulan ke depan kembali menghantui saya. Patah hati saya semakin parah ketika tahu pacar saya lolos tes. Seorang perempuan calon psikolog dan pacarnya yang pengangguran. Itu bayangan yang sungguh mengerikan.

Tapi untunglah, lagi-lagi semesta berkata lain. Ketakutan saya tidak terbukti. Hanya berselang beberapa minggu dari hari pengumuman itu, saya mendapat kabar gembira. Saya mendapat panggilan kerja.

Maka inilah saya sekarang, bekerja di perusahaan batu bara terbesar di Indonesia, melakukan pekerjaan yang sesuai dengan impian saya (menulis dan jalan-jalan), dengan pendapatan yang cukup. Tapi, jika kejadian di tahun kemarin itu saya ingat lagi, saya masih merasa sedih. Selalu ada sedikit nyeri yang terasa.

Tapi untunglah, hari ini saya belajar sesuatu. Sebuah trik, sebuah cara, untuk mengurangi kekecewaan dan rasa sakit hati saya. Dan meskipun kejadian yang mengecewakan saya itu sudah lewat setahun, saya tetap akan mempraktekannya sekarang. Karena lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali, bukan? Apa yang akan saya lakukan? Saya akan membuat pernyataan sikap. Ini dia:
DENGAN INI SAYA MENYATAKAN MENARIK DIRI DARI SELEKSI PENERIMAAN MAHASISWA S2 YANG DISELENGGARAKAN OLEH PROGRAM MAGISTER PROFESI FAKULTAS PSIKOLOGI UGM PADA TAHUN 2013, DAN SEKALIGUS MENOLAK HASIL SELEKSI TERSEBUT.
Fiuh, itu dia pernyataan sikap saya. Benar juga, setelah mengucapkan kata-kata itu saya jadi merasa lebih baik... sedikit.

Saturday, June 28, 2014

guncangan

Jam delapan malam lewat beberapa belas menit. Pesawat yang akan saya tumpangi baru mendarat. Sedikit terlambat. Meski cuma beberapa belas menit, tetap saja terlambat. Tapi toh saya (dan saya yakin sebagian besar penumpang lainnya) tidak begitu peduli. Telat beberapa menit tidak berarti apa-apa di sini. Mungkin karena keterlambatan sudah menjadi sesuatu yang terintegrasi dengan hidup kita, sehingga kita terbiasa dengan itu.

Tak lama kemudian, panggilan diumumkan lewat pengeras suara: "Penumpang pesawat jurusan Jogja-Banjarmasin silakan masuk ke pesawat lewat gate 3". Saya melangkah keluar, berjalan ke arah pesawat yang terparkir cukup jauh. Langit Jogja terlihat cukup cerah malam itu, tapi di utara terlihat mendung sedikit menggantung.

Di dalam pesawat, saya segera mengenakan sabuk keselamatan sebelum pramugari bersuara sengau itu menginstrusikan tata-cara pemasangan sabuk dan prosedur keselamatan lainnya. Majalah maskapai tersebut sudah terbaca nyaris setengahnya sebelum pesawat lepas landas. Aneh, betapa manusia senang untuk berlambat-lambat dalam satu hal, tapi terburu-buru dalam hal lain. Membaca majalah yang seharusnya menjadi hiburan ketika terbang, menghabiskan pop corn sebelum film bioskop dimulai, dll.

Di belakang saya duduk rombongan ibu-ibu yang ramai mengobrol. Beberapa baris di depan, seorang anak kecil tidak bisa berhenti menangis. Ibunya terdengar kewalahan membujuknya agar diam.

"Para penumpang, kita akan segera melakukan lepas landas. Untuk alasan keamanan, lampu di dalam kabin akan kami matikan," kata si pramugari bersuara sengau. Saya sedikit mencengkeram pinggiran kursi. Waktu lepas landas adalah momen yang paling saya benci ketika terbang. Nomor duanya adalah ketika mendarat.

Pesawat lepas landas. Lima menit, lampu di dalam kabin masih belum dinyalakan. Tanda kenakan sabuk pengaman masih menyala. Sepuluh menit. Aneh, tidak biasanya mode lepas landas berlangsung selama ini. Jendela tertutupi oleh awan putih yang pekat, saya tidak bisa melihat ke luar.

Pesawat berguncang pelan, seperti mobil ketika melintasi jalan berlobang. Cengkeraman saya pada pinggiran kursi semakin kencang. Sebagai pengidap fobia ketinggian, aktivitas naik pesawat memang bukan hal yang menyenangkan. Meskipun selama ini penerbangan yang saya ikuti selalu baik dan nyaman-nyaman saja.

Pesawat berguncang semakin kencang. Barang-barang di dalam bagasi kabin menggeretuk seperti gigi yang menggigil. Dari jendela, awan putih tampak semakin pekat, diselingi berkali-kali kilatan petir yang membuat suasana sama sekali tidak menenangkan.

Guncangan semakin kencang. Rasanya seperti sedang berada di dalam bis yang melaju kencang di jalanan berbatu. Rasa takut menguar dan berputar-putar di dalam kabin. Keadaan gelap, tapi saya jelas bisa merasakan kepanikan dan ketegangan dari penumpang lain.

Kicauan rombongan ibu-ibu di belakang saya hilang, digantikan oleh isak tangis tertahan dari mereka. Suara tangisan anak kecil di depan saya tak terdengar lagi, mungkin dia tertidur, atau syok sampai tidak bisa mengeluarkan suara, saya tidak tahu pasti. Yang saya tahu, pesawat sedang diguncang oleh turbulensi.

Hingga beberapa waktu kemudian, pesawat berhenti berguncang selama 1 detik, sebelum kemudian amblas. Turun. Terjun bebas. Rasanya persis seperti berada di puncak wahana roller coaster. Kesunyian yang mencekam pecah oleh teriakan dan takbir penumpang. Dalam hati, saya merapalkan semua doa yang bisa saya ingat. Saya sudah membayangkan kematian menari-nari di atas kepala saya, siap menelan kapan saja.

***

Dalam film Hannah and Her Sisters, Woody Allen berperan sebagai Mickey, seorang produer acara TV yang mengidap hipokondria, sebuah gangguan psikologis yang membuat penderitanya percaya dirinya mengidap penyakit serius.

Suatu hari, Mickey mengalami masalah dengan pendengarannya. Seperti biasa, ia segera konsultasi ke dokternya (yang telah terbiasa mendengar segala keluhan fisik Mickey yang paranoid itu). Berbeda dengan biasanya, kali ini si dokter menyimpulkan sesuatu yang menakutkan: Mickey kemungkinan mengidap tumor otak.

Dunia seakan runtuh bagi Mickey. Ini pertama kalinya dokternya satu suara dengan ketakutannya. Semalaman dia tidak bisa tidur, menunggu serangkaian tes dan pindai otak yang akan dilakukan besok pagi. Dia sudah membayangkan kematian menari-nari di atas kepalanya, siap menelannya kapan saja.

***

Pesawat mendarat di Banjarmasin. Kaki saya lemas sekali, sedikit susah untuk berdiri. Kelegaan yang teramat sangat tampak jelas pada wajah para penumpang. Beberapa dari mereka bahkan masih menangis, entah tangisan bahagia atau sisa ketakutan tadi. Ucapan syukur dari para penumpang masih terdengar sampai saya berjalan ke luar bandara.

Di mobil travel jurusan Banjarmasin-Tanjung, saya kebetulan duduk bersebelahan dengan penumpang pesawat yang saya naiki barusan. Dia bercerita, selama 11 tahun dia melakukan perjalanan Jogja-Banjarmasin, penerbangan ini adalah penerbangan paling mengerikan yang pernah dia ikuti. "Tadi pesawat udah miring banget, Mas," katanya.

Kaki saya masih lemas. Saya masih tidak percaya, saya baru saja lolos dari maut.

***

Mickey duduk di ruang dokternya dengan sangat gelisah, menunggu hasil pindai otak yang merupakan jawaban dari semuanya. "It's over. I'm face to face with eternity. Not later, but now," katanya dalam hati. Dokter datang. Hasil pindainya tidak menunjukkan masalah apapun. Dirinya tidak mengidap tumor otak.

Mickey berlari keluar dari rumah sakit. Belum pernah dia merasa segembira itu. Mickey berlari dengan riang di trotoar, langkahnya begitu ringan. Orang-orang melihatnya dengan heran. Sesekali dia melompat sembari bertepuk tangan di udara. Musik jazz mengalun dengan riang. Hari terasa sangat cerah saat itu. Sebelum tiba-tiba dia berhenti berlari. Mickey mematung selama beberapa saat, dan entah dari mana datangnya, muncul pikiran yang sangat gelap, menghapus segala keriangan itu.

"Can you understand how meaningless everything is? I'm talking about or lives, the whole world, it's meaningless. So I'm not gonna die today, I'm not gonna die tomorrow, but eventually I'm gonna be in that position."

***

Beberapa hari setelah turun dari pesawat itu, saya masih merasa sangat beruntung. Hidup saya jadi semakin menyenangkan untuk dijalani. Semua pekerjaan dan masalah di kantor terasa sangat ringan untuk dihadapi. Karena segala masalah itu tidak berarti apa-apa dibanding ketakutan akan kematian.

Namun, rasa beruntung itu pelan-pelan berubah menjadi ketakutan baru. Persis seperti yang dirasakan oleh Mickey. Mungkin saya tidak jadi mati di pesawat itu, tapi pasti saya akan mengalami kematian (dan ketakutan yang menyertainya), entah di pesawat, di mobil di kantor, di rumah, di jalan, di mana pun. Segala hal yang saya lakukan mendadak terasa tidak berarti.

***

Untuk menghindari rasa takut sekaligus kehampaannya, Mickey memutuskan untuk mendalami agama. Awalnya dia mencoba mendalami Katolik, tapi tidak cocok. Kemudian, dirinya bergabung dengan kelompok Hindu aliran Krisna, tapi tidak cocok juga. Saking putus asanya, suatu malam dia hendak bunuh diri; mencoba menembak kepalanya dengan senapan yang dibelinya tempo hari.

Senapan di tangannya terpeleset. Tembakannya meleset, mengenai cermin di kamarnya yang langsung membuat suara gaduh. Tetangganya berdatangan. Karena panik dan tidak tahu harus berbuat apa, Mickey segera lari dari rumahnya. Ia berjalan tak tentu arah selama berjam-jam dengan kebingungan, sebelum akhirnya masuk ke sebuah gedung bioskop.

Mickey duduk di salah satu kursi penonton. Masih bingung dengan apa yang baru saja dilakukannya. Pelan-pelan ia sadar, ia mengenali film yang sedang diputar di layar. Itu adalah film kesukaannya waktu kecil, ia berkali-kali menonton film ini. Kegalauannya pelan-pelan hilang, Mickey benar-benar menikmati detik-detik itu.

***

Dan sekali lagi, saya sepakat dengan Mickey:

"I'm watching these people up on the screen and I started getting hooked on the film. I started to feel, how can you even think of killing yourself, I mean isn't it so stupid? Look at all the people up there on the screen, they're real funny, and what if the worst is true? What if there is no God and you only go around once and that's it? Well, you know, don't you wanna be part of the experience? And I'm thinking to myself, Jeez, I should stop ruining my life searching for answers I'm never gonna get, and just enjoy it while it lasts. And then I started to sit back, and I actually began to enjoy myself."

Wednesday, March 5, 2014

Aruh Buntang, Sebuah Perayaan untuk Para Arwah

Hari itu, para dewa diundang untuk bersemayam di sebuah pohon kelapa di ujung desa. Seorang balian (dukun) yang memanggilnya lewat mantra-mantra. Dewa air, dewa api, dewa angin, dan dewa tanah dimohonkan untuk melindungi desa mereka dari badai, petir, gempa bumi, dan bencana alam lainnya. Pemanggilan dewa-dewa itu juga sebagai bentuk permintaan restu dalam mengadakan aruh buntang.

Aruh buntang adalah upacara kematian yang dilakukan oleh masyarakat Dayak Deah. Aruh (upacara) ini bertujuan untuk mengantarkan arwah orang yang sudah meninggal menuju kehidupan berikutnya. Upacara ini juga merupakan simbol bakti dan rasa hormat dari mereka yang masih hidup kepada leluhur yang sudah meninggal. Ritual pemanggilan dewa di atas merupakan fase awal dari pelaksanaan aruh buntang. Setelah para dewa dipanggil, pohon kelapa yang menjadi tempat semayam tersebut kemudian dikelilingi dengan sesajen yang telah diberi mantra. Setelah itu, barulah pelaksanaan aruh boleh dilakukan.

Aruh buntang tersebut dilakukan di halaman rumah Hasan, seorang warga Desa Pangelak, Kecamatan Upau, Kabupaten Tabalong, pada 27 Februari sampai 3 Maret 2014. Aruh ini terbilang unik, karena jika biasanya aruh buntang dilakukan untuk melepas arwah satu atau beberapa orang saja, kali ini aruh digelar untuk puluhan arwah sekaligus.

Seminggu sebelumnya, dilakukan pembongkaran 87 kuburan yang berada di sekitar wilayah Mampura, cukup jauh dari desa mereka. Makam-makam yang diperkirakan berumur ratusan tahun tersebut dipercaya sebagai makam leluhur masyarakat Dayak Deah.

Ali, salah satu orang yang dituakan di desa, mengatakan bahwa dulu Mampurai adalah tanah asli leluhur mereka. Suatu hari, di daerah itu terjadi sesuatu yang aneh, setiap hari ada orang yang mati tanpa diketahui penyebabnya. Karena tanah tersebut diduga mengandung kutukan, para leluhur itu kemudian pindah ke wilayah yang sekarang menjadi desa mereka.

Bagi masyarakat Dayak, kuburan adalah sebuah tempat persinggahan sementara bagi orang yang meninggal. Setelah dikubur, suatu hari kuburan itu harus dibongkar lagi, dan jasad orang yang meninggal tersebut dipindahkan ke sebuah peti yang ditempatkan di dalam bangunan khusus bernama sandung, atau pengelowokng dalam bahasa Dayak Deah. Jangka waktu dari penguburan sampai pembongkaran tergantung dari kesiapan keluarga yang ditinggalkan, karena biaya yang dibutuhkan tidak sedikit.

Karena itu, selama menunggu keluarga yang ditinggalkan mengumpulkan dana, jenazah dimakamkan terlebih dahulu seperti biasa. Saat dana sudah terkumpul, barulah makam dibongkar kembali untuk memindahkan isi makam tersebut yang biasanya sudah menjadi tengkorak.

Sehabis kuburan dibongkar, para arwah diyakini akan melayang ke rumah sang empunya hajat. Untuk itu, di tengah halaman rumah di mana aruh berlangsung didirikan sebuah altar. Terbuat dari sebilah bambu yang didirikan, kemudian pada bambu tersebut digantungkan kain, janur, dan berbagai dedaunan yang diatur sedemikan rupa. Pada altar itulah para arwah dipercaya bersemayam.

Sepanjang hari, keluarga dan warga yang hadir melakukan tarian mengelilingi altar tersebut. Tarian itu dimaksudkan untuk menghibur para arwah yang sedang mengamati kerabat mereka yang masih hidup. Setiap hari, makanan dan minuman juga disiapkan untuk para arwah. Jumlahnya sesuai dengan jumlah arwah yang mendiami altar tersebut. Dalam aruh ini, 87 set makanan dan minuman disiapkan setiap harinya untuk diletakkan di bawah altar.

Di samping rumah, terlihat dua ekor kerbau yang diikat menggunakan rotan. Orang Dayak Deah percaya, persembahan kerbau dapat mempermulus jalan bagi para arwah. Proses pengorbanan kerbau dalam aruh buntang adalah sesuatu yang ditunggu-tunggu, karena kerbau-kerbau itu tidak disembelih seperti biasa, tetapi ditombak.

Di hari keempat, kerbau-kerbau itu diikat di sebuah tiang dengan tali yang cukup panjang. Beberapa orang pria mengelilinginya sambil memegang tombak. Setelah aba-aba diberikan, tombak-tombak itu ditusukkan bergantian kepada si kerbau yang berlari ke sana kemari hingga mati. Daging kerbau itu kemudian dimasak dan dibagikan kepada seluruh warga.

Pada hari kelima, yang merupakan hari terakhir, dilakukan ritual puncak dari prosesi aruh buntang, yaitu pendirian belontakng, sebuah totem khas masyarakat Dayak. Di bagian atas belontakng, dipahat sebentuk patung yang menyerupai orang yang sudah meninggal. Belontakng yang sudah terukir itu diangkat bersama-sama oleh beberapa orang, kemudian ujung bawahnya ditanam di halaman rumah Hasan.

Setelah didirikan, arwah-arwah yang tadinya berada di altar diyakini akan berpindah tempat ke belontakng. Belontakng adalah sesuatu yang disakralkan oleh orang Dayak, karena mereka percaya, arwah leluhur yang tinggal di dalamnya akan melindungi mereka dari mara bahaya. Pendirian belontakng sekaligus menjadi penanda berakhirnya aruh.

Pohon kelapa yang menjadi tempat persemayaman para dewa kembali didatangi, mantra dirapalkan untuk berterima kasih sekaligus mengembalikan mereka ke tempat asalnya. Semua api di desa yang digunakan untuk keperluan aruh, seperti memasak, lilin, dan lain-lain harus dimatikan. Setelah semua api mati, warga baru boleh menyalakan api kembali. Itu menandakan bahwa api yang mereka gunakan adalah api yang sudah kembali suci.

Saturday, March 1, 2014

the curse of being in love

Selain fitur-fitur yang biasa kugunakan di ponselku, ada satu fitur lagi yang sekarang sering kugunakan: perekam suara. Kamu tahu kan, salah satu pekerjaanku di sini adalah menulis untuk majalah internal perusahaan. Majalah ini berisi berbagai jenis tulisan, maka aku harus bertemu dan mewawancarai berbagai jenis manusia pula. Dari karyawan berprestasi sampai pemilik rumah makan, dari para pencari kerja sampai kepala adat suku Dayak. Perekam suara mutlak harus kugunakan, karena aku tidak bisa mencatat dengan cepat.

Aneh juga, sekarang aku merasa seperti wartawan, salah satu dari banyak cita-citaku dulu. Beberapa hari yang lalu, ketika sedang mencari file rekaman wawancaraku yang entah terselip di mana, aku masuk ke dalam folder yang jarang kubuka. Aku menemukan beberapa file suara di situ, yang salah satunya membuatku bingung. File tersebut berisi rekaman suara seseorang bernyanyi mengikuti lagu yang terdengar di belakangnya.

Tadinya kukira itu adalah file bawaan dari pabrik, sebagai contoh kualitas fitur perekam suara ponsel tersebut. Setelah kudengarkan lagi, sepertinya tidak mungkin, karena kualitas suara file itu tidak terlalu bagus. Baru beberapa saat kemudian aku sadar, itu adalah suaramu! Kudengarkan dengan seksama liriknya, dan setelah kucari di google, aku tahu itu adalah "The Curse of Being in Love" dari Sondre Lerche.

You can tell me anything
You are a true exception in my life
It sounded like she said she was in love
I then told her all the things that I had though I better keep inside
All of which revealed I was in love


Aku lalu menghubungimu, menanyakan kapan kamu merekam suaramu di ponselku, karena aku tidak ingat pernah dikirimi file itu olehmu. Awalnya kamu tidak mau membahasnya, tapi setelah kudesak, kamu mengaku bahwa merekam lagu itu dan mengirimkannya padaku di hari ulang tahunku tahun kemarin. Sungguh, aku tidak ingat, mungkin aku menerima file itu ketika setengah tidur, sehingga tidak sempat membukanya dan lupa keesokan harinya.

Cinta adalah kutukan, kata Sondre Lerche, dan juga katamu (itulah kenapa kamu menamai folder berisi foto-foto kita dengan judul lagu itu). Aku sepakat, karena cinta dan hubungan bersaudara dengan kepemilikan. Kepemilikan berarti kehilangan, dan kehilangan mengundang segala perasaan negatif.

It won't get better
It won't get better
Embrace the curse so it doesn't get worse


Kutukan ini semakin terasa ketika kita kini berjarak. Awalnya kita berjarak secara fisik, tapi tampaknya sekarang jarak itu merembet juga pada komunikasi kita. Dahulu, ketika berkomunikasi dengan orang yang berjarak, manusia hanya dapat menggunakan media visual, misalnya lewat surat atau kartu pos. Saat ini, manusia dapat berhubungan dengan manusia lain yang berjarak lewat media audio, visual, dan audio-visual. Audio, dengan telepon; visual, dengan teks-teks virtual atau gambar; dan audio-visual, dengan video call. Baru dua indera yang terpakai.

Aku membayangkan, di masa depan manusia akan menciptakan alat yang bisa memfasilitasi ketiga indera lainnya: peraba, penciuman, dan pencecap. Sehingga, ketika berhubungan dengan orang lain yang berjarak, manusia dapat menggunakan seluruh inderanya, meskipun secara virtual. Saat itu, aku bayangkan hubungan yang berjarak akan jauh lebih mudah untuk dilakukan. Manusia mungkin tidak perlu bertemu sama sekali untuk menjalin hubungan. Tapi saat itu pula, rasa akan tereduksi kualitasnya. Hubungan antar manusia akan terasa begitu hambar. Karena aku percaya, sebuah hubungan membutuhkan kedekatan secara fisik. Bagaimanapun juga kita adalah makhluk fisik yang masih harus tunduk pada hukum-hukum fisik.

It won't get better
It won't get better
Embrace the curse so it doesn't get worse


Maka, dengan jarak kita yang delapan ratus kilometer ini kita masih bisa merasakan rasa selain rasa hambar, kita mestinya bersyukur. Bukankah artinya kita masih membutuhkan kedekatan fisik? Bukankah itu membuktikan bahwa kita adalah manusia, yang tidak puas dengan hubungan virtual melalui kode-kode biner? Bukankah kata orang lebih baik merasa sakit daripada tidak merasa apa-apa sama sekali? Aku tahu yang terakhir itu klise, tapi aku mengamininya.

Pada akhirnya, bersabarlah, karena ini adalah kutukan yang harus kita tanggung.

Fact and fiction look alike 
When such a lightning strikes
But I believe that I can face

The curse of being in love

Wednesday, December 25, 2013

the awkward truth #9

Jesse: I don't get it. Why would anyone paint a picture of a door, over and over again, like, dozens of times?
Jane: But it wasn't the same.
Jesse: Yeah, it was.
Jane: It was the same subject, but it was different every time. The light was different, her mood was different. She saw something new every time she painted it.
Jesse: And that's not psycho to you?
Jane: Well, then why should we do anything more than once? Should I just smoke this one cigarette? Maybe we should only have sex once, if it's the same thing.
Jesse: Umm... no.
Jane: Should we just watch one sunset? Or live just one day? Because it's new every time. Each time is a different experience.
-Breaking Bad

Sunday, December 8, 2013

badai

Di pos keamanan ini, himbauan untuk mengenakan pelampung tertulis besar-besar. Untuk perusahaan yang bermain di medan penuh resiko, himbauan-himbauan untuk selalu memperhatikan keselamatan diri semacam itu ditempatkan di setiap detil aktivitas. Sesuatu yang mungkin terkesan berlebihan untuk masyarakat umum. Kami mengenakan pelampung, lalu keluar menuju dermaga kecil tempat beberapa speed boat milik karyawan ditambatkan. Sepuluh menit kemudian, perahu yang akan membawa kami menuju desa di sebelah hulu sungai datang.

Perahu menyusuri Sungai Barito yang lebar itu dengan cekatan. Kami melewati dua kapal tongkang yang sedang merapat, berton-ton batu bara sedang dimuntahkan ke dalamnya dari conveyor yang panjang dan tergesa-gesa. Bongkahan-bongkahan batu bara itu tampak seperti barisan manusia yang berdesakan di atas eskalator yang ujungnya adalah wahana terjun bebas.

Setelah melewati sederetan hutan bakau dan nelayan yang sedang menjala, desa itu sayup-sayup mulai nampak dari kejauhan. Atap-atap bangunan sarang walet menjulang dengan ganjil, seperti gedung setengah jadi yang bersanding dengan rumah-rumah panggung. Perahu kami merapat di “dermaga” desa. Setelah lompat dari perahu, kami harus menjaga keseimbangan melewati sebongkah kayu licin yang diniatkan sebagai jembatan kecil.

Jalanan yang becek, minimnya sarana pembuangan sampah yang mengakibatkan sampah berceceran di mana-mana, serta mobilitas warganya yang terbatas karena lokasi desanya dibatasi oleh air mengingatkan saya pada Kampung Laut di Nusakambangan sana. Bedanya, jika rumah-rumah di Kampung Laut seluruhnya terbuat dari beton, di desa ini hampir seluruh bangunan terbuat dari kayu, kecuali bangunan-bangunan sarang walet itu.

Kami berjalan melewati masyarakat yang kebanyakan sedang leyeh-leyeh di teras rumah mereka. Teman saya menyapa setiap orang yang kami temui dengan bahasa Banjar. Mereka membalas dengan senyuman. Beberapa menawarkan kami untuk mampir ke rumah mereka. Rupanya teman saya cukup akrab dengan masyarakat desa ini.

Kami berhenti di depan sebuah rumah. “Ini tujuan kita, rumah kepala desa,” kata teman saya. Kami disambut oleh seorang pria muda yang hangat. Usianya mungkin sekitar 30-an. Setelah dipersilahkan masuk dan duduk di kursinya, pria itu pergi ke dapur untuk menyiapkan minum untuk kami. “Dia baru saja jadi kepala desa. Dia teman baikku,” kata teman saya.

Kami disuguhi kopi yang luar biasa manis. Kata teman saya belakangan, kopi yang super manis begitu adalah racikan khas penduduk pesisir sungai.

“Apa kabar?” kata kepala desa.

“Baik, baik,” jawab teman saya sambil tersenyum lebar.

Lalu obrolan yang sebagian besar diucapkan dalam bahasa Banjar mengalir di antara mereka. Meskipun saya hanya paham sedikit-sedikit, tapi saya tahu itu adalah obrolan remeh-temeh. Sampai suatu saat, teman saya berkata dengan mimik serius.

“Aku dapat informasi, katanya masyarakat hendak demo?”

“Iya.”

“Apakah tuntutan masyarakat tidak bisa dibicarakan baik-baik dengan kami?”

“Kami sudah bosan bicara. Kerbau kami mati ditabrak mobil trailer kalian, kami minta ganti rugi. Hanya sesederhana itu.”

“Kami selalu terbuka untuk dialog. Jika memang ada kasus, mari kita melewati proses hukum yang benar.”

“Kawan, kedatanganmu ke sini tidak akan mengubah apapun. Kami akan tetap berdemo.”

“Bagaimana jika perusahaan meminta kalian tidak berdemo? Karena itu akan mengganggu kegiatan produksi kami.”

“Hehehe. Kawan, jika aku memberitahumu kami akan demo, itu adalah pemberitahuan, bukan permintaan izin.”

Teman saya terdiam.

“Kapan rencana demonya dilakukan?”

“Senin besok.”

Lalu angin canggung berhembus. Kami terdiam cukup lama. Akhirnya kami pamit kepada kepala desa. Saya menghabiskan kopi saya yang sudah dingin, rasanya bertambah manis. Kami bersalaman, kemudian berjalan menuju “dermaga”. Sebelum naik perahu, kami melihat langit mulai menghitam di bagian hilir sungai. Angin pelan-pelan terasa semakin kencang.

Sepertinya akan ada badai.