Apakah manusia makhluk amoral? Tidak, kita adalah makhluk
bermoral. Kita dibesarkan dengan nilai-nilai
moral yang ditanamkan dari segala penjuru mata angin. Kita dididik untuk
mencari pesan moral yang diselipkan dalam setiap kisah yang dituturkan. Kita disiapkan untuk menjadi prajurit-prajurit penegak moralitas sejak kecil.
Dengan segala nilai moral yang terus membayangi di atas kepala, lama-lama kita menjadi bingung akan diapakan semua itu. Akan dilampiaskan ke mana segala nilai moral yang merindang di dalam kepala, hati, serta otot kita.
Hasilnya adalah kita menjadi makhluk yang rajin mengutip ayat-ayat yang konon suci untuk menyerang orang lain. Kita gemar mengait-kaitkan segala sesuatu dengan berbagai macam teori konspirasi dan secara tidak langsung memupuk kecurigaan dalam kepala kita. Kita tidak pernah alpa menghujat kelompok lain tapi mati-matian mengubur dosa kelompok kita sendiri di atas pembenaran-pembenaran langitan. Kita tanpa ragu membanjiri bumi dengan darah mereka yang memiliki standar moral yang berbeda dengan kita.
Kita terlalu banyak mengonsumsi moral. Kita mengalami overdosis. Kita keracunan.
Monday, February 18, 2013
Friday, February 1, 2013
tujuh hari menuju semesta
Mobil Elf sewaan yang kami tumpangi berjuang keras melewati sederetan tanjakan dan turunan curam berbatu dengan bekas longsoran di kanan-kiri. Para penumpang di dalamnya terpontang-panting ke sana kemari, berusaha menahan mual dan menjaga kepala agar tidak terantuk jendela.
Saya dan tiga belas volunteer lain dari komunitas Book for Mountain sedang dalam perjalanan menuju dua desa di bagian selatan Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Bukan perjalanan yang sekejap. Sebelas jam dalam kereta ekonomi Jogja-Jakarta, disambung dua jam kereta Jakarta-Rangkasbitung, berdesakan dalam angkot menuju terminal, dan diakhiri dengan lima jam perjalanan dalam Elf sewaan yang didapat melalui tawar-menawar yang menegangkan dengan belasan calo terminal.
Kami membawa sebuah misi: membangun perpustakaan dan mengajar murid sekolah dasar di sana selama seminggu. Misi yang diniatkan sebagai sebuah bentuk pengabdian dengan cara memberi, tapi pada kenyataannya kamilah yang mendapatkan jauh lebih banyak hal di sana.
***
Kami berempat belas dibagi menjadi dua tim dan ditempatkan di dua desa yang berbeda: Desa Mekarsari di Kecamatan Cibeber dan Desa Girimukti di Kecamatan Cilograng. Kedua kecamatan ini sama-sama berada di posisi yang unik: tersembunyi di balik bukit-bukit dan jurang rawan longsor yang dingin tetapi hanya berjarak satu setengah jam dari laut selatan.
Saya ditempatkan di Girimukti, sebuah desa yang masih dilengkapi dengan peraturan adat yang kuat dalam mengatur keseharian mereka.
Masyarakat di Desa Girimukti dilarang untuk memasang genteng di atas rumah mereka. Sebagai gantinya mereka memakai rumbia atau seng. Mereka juga percaya bahwa burung elang adalah makhluk yang sakral, sehingga tidak boleh menunjuk dengan jari jika kebetulan melihat mereka terbang di langit. Jika ada orang yang tidak sengaja menunjuk ke arah elang yang sedang terbang, orang itu harus menggigit jarinya sendiri hingga berdarah.
Dari semua peraturan yang ada, yang paling khas dari Desa Girimukti adalah peraturan yang mengatur tentang tanaman padi. Masyarakat Desa Girimukti hanya boleh menanam padi satu kali dalam setahun. Ketika sedang melakukan pekerjaan yang berhubungan dengan beras, seperti mencuci beras atau memasak nasi, mereka diwajibkan untuk melakukannya dalam posisi duduk. Mereka juga dilarang untuk menjual beras kepada orang lain. Jika peraturan-peraturan itu dilanggar, dipercaya mereka akan mendapat musibah yang "tidak main-main".
Lalu, seperti apakah anak-anak yang merupakan produk nyata dari kehidupan desa seperti ini? Konservatif? Kaku? Sulit menyerap ilmu baru? Sama sekali tidak! Di Girimukti, saya tak henti dibuat terpana oleh kecerdasan alami anak-anak desa. Seolah alam semesta telah menyisipkan ilmu pengetahuan dalam tiap udara yang mereka hirup, atau dalam tiap tetes air Sungai Cisawarna yang mengaliri desa mereka.
Ada Dewi dan Gin Gin, anak kelas 5 yang bisa memerankan tokoh dalam sebuah naskah drama dengan sangat apik dalam sekali latihan. Ada Heykal yang usianya bahkan belum genap 5 tahun tapi sudah hafal perkalian. Ada Eni yang memiliki bakat alami seorang penulis fiksi. Lalu ada Chandra, bocah paling nakal di sekolah yang hobinya bikin onar dan mengganggu anak perempuan tapi pernah dikirim ke Jakarta untuk mengikuti perlombaan matematika se-Asia.
Bisa dibayangkan betapa anehnya fenomena itu mengingat sekolah mereka yang berisi lebih dari 150 murid hanya memiliki dua guru tetap dan tiga guru bantu yang kedatangannya lebih tidak bisa diprediksi dibanding cuaca belakangan ini.
***
Di Desa Girimukti nyaris tidak ada sinyal ponsel sama sekali. Untuk mendapatkan sinyal kami harus mendaki bukit yang paling tinggi atau berkendara menyusuri hutan ke kota kecamatan terdekat. Selama seminggu di sana praktis ponsel saya kehilangan fungsinya. Satu hal yang tentu saja menyebalkan untuk bagian dari generasi yang telah sangat menggantungkan hidupnya pada teknologi seperti saya.
Anak-anak di sana juga jauh lebih steril dari perbudakan teknologi dibanding anak-anak kota. Mereka lebih mengenal melompat dari jembatan ke sungai yang mengalir deras sepulang sekolah atau perang-perangan menggunakan sarung yang telah diikat ujungnya sepulang mengaji ketimbang duduk menghadap berbagai jenis layar monitor.
Meskipun keluarga mereka tidak kaya, meskipun setelah lulus sekolah kemungkinan besar mereka akan mengikuti jejak kakak-kakak mereka untuk menjadi pembantu rumah tangga di Jakarta atau penambang emas ilegal di Bogor, meskipun tingkat perceraian orangtua mereka sangat tinggi sehingga nyaris setengah dari mereka tidak lagi memiliki keluarga yang utuh, kebahagiaan jelas sekali terpancar dari mata mereka. Kebahagiaan sejati, bukan kebahagiaan semu ala masyarakat kota yang dapat setiap saat digantikan oleh emoticon.
***
Saat ini saya sudah kembali ke kota. Saya kembali dikelilingi oleh teknologi dan segala perkakas penyempurna hidup. Ponsel saya sudah kembali terisi sinyal, yang artinya saya kembali bisa berkomunikasi via udara. Sambungan internet telah kembali saya jamah, artinya saya kembali bisa mengakses dunia tanpa batas berisi milyaran informasi. Ironisnya, saya malah merasa kebahagiaan dan kedamaian hati saya tertinggal di desa yang magical itu. Desa yang minim fasilitas tetapi mengajarkan saya untuk menjadi manusia seutuhnya, bukan menjadi alien kesepian yang saling mengasingkan di tengah megahnya peradaban modern.
*Judul postingan saya pinjam dari salah satu judul lagu Melancholic Bitch.
Saya dan tiga belas volunteer lain dari komunitas Book for Mountain sedang dalam perjalanan menuju dua desa di bagian selatan Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Bukan perjalanan yang sekejap. Sebelas jam dalam kereta ekonomi Jogja-Jakarta, disambung dua jam kereta Jakarta-Rangkasbitung, berdesakan dalam angkot menuju terminal, dan diakhiri dengan lima jam perjalanan dalam Elf sewaan yang didapat melalui tawar-menawar yang menegangkan dengan belasan calo terminal.
Kami membawa sebuah misi: membangun perpustakaan dan mengajar murid sekolah dasar di sana selama seminggu. Misi yang diniatkan sebagai sebuah bentuk pengabdian dengan cara memberi, tapi pada kenyataannya kamilah yang mendapatkan jauh lebih banyak hal di sana.
***
Kami berempat belas dibagi menjadi dua tim dan ditempatkan di dua desa yang berbeda: Desa Mekarsari di Kecamatan Cibeber dan Desa Girimukti di Kecamatan Cilograng. Kedua kecamatan ini sama-sama berada di posisi yang unik: tersembunyi di balik bukit-bukit dan jurang rawan longsor yang dingin tetapi hanya berjarak satu setengah jam dari laut selatan.
Saya ditempatkan di Girimukti, sebuah desa yang masih dilengkapi dengan peraturan adat yang kuat dalam mengatur keseharian mereka.
Masyarakat di Desa Girimukti dilarang untuk memasang genteng di atas rumah mereka. Sebagai gantinya mereka memakai rumbia atau seng. Mereka juga percaya bahwa burung elang adalah makhluk yang sakral, sehingga tidak boleh menunjuk dengan jari jika kebetulan melihat mereka terbang di langit. Jika ada orang yang tidak sengaja menunjuk ke arah elang yang sedang terbang, orang itu harus menggigit jarinya sendiri hingga berdarah.
Dari semua peraturan yang ada, yang paling khas dari Desa Girimukti adalah peraturan yang mengatur tentang tanaman padi. Masyarakat Desa Girimukti hanya boleh menanam padi satu kali dalam setahun. Ketika sedang melakukan pekerjaan yang berhubungan dengan beras, seperti mencuci beras atau memasak nasi, mereka diwajibkan untuk melakukannya dalam posisi duduk. Mereka juga dilarang untuk menjual beras kepada orang lain. Jika peraturan-peraturan itu dilanggar, dipercaya mereka akan mendapat musibah yang "tidak main-main".
Lalu, seperti apakah anak-anak yang merupakan produk nyata dari kehidupan desa seperti ini? Konservatif? Kaku? Sulit menyerap ilmu baru? Sama sekali tidak! Di Girimukti, saya tak henti dibuat terpana oleh kecerdasan alami anak-anak desa. Seolah alam semesta telah menyisipkan ilmu pengetahuan dalam tiap udara yang mereka hirup, atau dalam tiap tetes air Sungai Cisawarna yang mengaliri desa mereka.
Ada Dewi dan Gin Gin, anak kelas 5 yang bisa memerankan tokoh dalam sebuah naskah drama dengan sangat apik dalam sekali latihan. Ada Heykal yang usianya bahkan belum genap 5 tahun tapi sudah hafal perkalian. Ada Eni yang memiliki bakat alami seorang penulis fiksi. Lalu ada Chandra, bocah paling nakal di sekolah yang hobinya bikin onar dan mengganggu anak perempuan tapi pernah dikirim ke Jakarta untuk mengikuti perlombaan matematika se-Asia.
Bisa dibayangkan betapa anehnya fenomena itu mengingat sekolah mereka yang berisi lebih dari 150 murid hanya memiliki dua guru tetap dan tiga guru bantu yang kedatangannya lebih tidak bisa diprediksi dibanding cuaca belakangan ini.
***
Di Desa Girimukti nyaris tidak ada sinyal ponsel sama sekali. Untuk mendapatkan sinyal kami harus mendaki bukit yang paling tinggi atau berkendara menyusuri hutan ke kota kecamatan terdekat. Selama seminggu di sana praktis ponsel saya kehilangan fungsinya. Satu hal yang tentu saja menyebalkan untuk bagian dari generasi yang telah sangat menggantungkan hidupnya pada teknologi seperti saya.
Anak-anak di sana juga jauh lebih steril dari perbudakan teknologi dibanding anak-anak kota. Mereka lebih mengenal melompat dari jembatan ke sungai yang mengalir deras sepulang sekolah atau perang-perangan menggunakan sarung yang telah diikat ujungnya sepulang mengaji ketimbang duduk menghadap berbagai jenis layar monitor.
Meskipun keluarga mereka tidak kaya, meskipun setelah lulus sekolah kemungkinan besar mereka akan mengikuti jejak kakak-kakak mereka untuk menjadi pembantu rumah tangga di Jakarta atau penambang emas ilegal di Bogor, meskipun tingkat perceraian orangtua mereka sangat tinggi sehingga nyaris setengah dari mereka tidak lagi memiliki keluarga yang utuh, kebahagiaan jelas sekali terpancar dari mata mereka. Kebahagiaan sejati, bukan kebahagiaan semu ala masyarakat kota yang dapat setiap saat digantikan oleh emoticon.
***
Saat ini saya sudah kembali ke kota. Saya kembali dikelilingi oleh teknologi dan segala perkakas penyempurna hidup. Ponsel saya sudah kembali terisi sinyal, yang artinya saya kembali bisa berkomunikasi via udara. Sambungan internet telah kembali saya jamah, artinya saya kembali bisa mengakses dunia tanpa batas berisi milyaran informasi. Ironisnya, saya malah merasa kebahagiaan dan kedamaian hati saya tertinggal di desa yang magical itu. Desa yang minim fasilitas tetapi mengajarkan saya untuk menjadi manusia seutuhnya, bukan menjadi alien kesepian yang saling mengasingkan di tengah megahnya peradaban modern.
*Judul postingan saya pinjam dari salah satu judul lagu Melancholic Bitch.
Wednesday, January 30, 2013
nokturnal
Halo penduduk Bumi. Ini adalah buku kedua saya. Kali ini saya tidak sendirian, tetapi ditemani oleh dua belas penulis lain yang dikirimkan oleh alam semesta untuk bersama-sama membuat kumpulan cerpen yang super amatir ini.
Harganya 35 ribu rupiah. Mahal ya? Memang. Jika masih nekat mau pesan silakan hubungi saya di imajinasikolektif@gmail.com atau 08562554565. Terima kasih, semoga kelak surga tidak penuh sesak untuk menampung kalian semua.
Sunday, January 13, 2013
Saturday, January 5, 2013
my little heroine
Namanya Reva. Nama panjangnya Revanjani Mehrunisa Awandini. Dia adalah salah satu dari tujuh keponakan saya. Umurnya jika tidak salah masih tiga tahun. Dua tahun yang lalu saya dan dia berada dalam satu mobil selama lebih dari lima belas jam dalam perjalanan mudik yang tersendat-sendat antara Bandung-Kutoarjo. Entah mengapa, interaksi-interaksi antara saya dan dia selama dalam perjalanan tersebut membentuk ikatan emosional yang lebih erat jika dibandingkan dengan saya dan keponakan yang lain.
Reva mempunyai teman khayalan bernama Ani. Berdasarkan ceritanya, si Ani ini duduk di kelas 4 SD. Ayahnya si Ani sudah meninggal, tapi suatu hari "dihidupkan" lagi oleh Reva. Setelah hidup lagi, ayahnya Ani dipenjara. Ketika ditanya kenapa ayahnya Ani dipenjara, Reva menjawab karena ayahnya Ani meminjam laptop pak polisi tapi tidak mau mengembalikannya.
Cerita tentang teman khayalan itu mengembalikan memori masa kecil saya. Ternyata setelah diingat-ingat, dulu juga saya sempat punya teman khayalan. Teman khayalan saya itu tinggal di dalam cermin. Jadi ketika saya bercermin, saya tidak pernah menganggap sosok yang saya lihat adalah bayangan diri saya sendiri, melainkan orang lain. Kebetulan saja saya dan dia sedang melakukan kegiatan yang sama: memandang cermin. Kami --saya dan teman khayalan saya itu-- kerap kali berjanji untuk bertemu. Jika saya akan pergi dengan keluarga saya, malamnya saya akan memberitahunya dan kami berjanji untuk bertemu keesokan harinya di tempat yang akan saya tuju sembari saling memperkenalkan keluarga masing-masing. Tentu saja dia tidak pernah datang.
Sebenarnya mudah untuk memahami fenomena teman khayalan pada anak kecil. Teman khayalan merupakan sekumpulan gagasan dan imajinasi anak yang diproyeksikan ke dalam sosok manusia di luar dirinya. Sifat-sifat maupun atribut-atribut yang melekat pada si teman khayalan berhubungan langsung dengan informasi-informasi yang didapat oleh anak, baik dari keluarga, teman, benda-benda di sekitarnya, maupun media informasi seperti televisi. Contohnya, ketika tempo hari saya bertanya, "si Ani sedang apa?", dia menjawab, "sedang dimakan raksasa, ayahnya dimakan ikan hiu". Saya tidak kaget dengan jawaban itu, karena beberapa jam sebelumnya, kakak-kakak sepupunya memamerkan foto-foto mereka yang seolah sedang dimakan Frankenstein, ikan hiu, dan lain-lain di pameran lukisan Trick Art Japan. Konsep-konsepnya soal "meninggal" atau "dipenjara" saya duga dia dapatkan dari infotainment dan sinetron yang seringkali luput dari pengawasan orang di dewasa di sekitarnya.
Kemarin sore saya menyuapinya makan bakso. Karena makannya tak juga habis (karena disambi lari kesana-kemari), saya sedikit mengancamnya:
Reva mempunyai teman khayalan bernama Ani. Berdasarkan ceritanya, si Ani ini duduk di kelas 4 SD. Ayahnya si Ani sudah meninggal, tapi suatu hari "dihidupkan" lagi oleh Reva. Setelah hidup lagi, ayahnya Ani dipenjara. Ketika ditanya kenapa ayahnya Ani dipenjara, Reva menjawab karena ayahnya Ani meminjam laptop pak polisi tapi tidak mau mengembalikannya.
Cerita tentang teman khayalan itu mengembalikan memori masa kecil saya. Ternyata setelah diingat-ingat, dulu juga saya sempat punya teman khayalan. Teman khayalan saya itu tinggal di dalam cermin. Jadi ketika saya bercermin, saya tidak pernah menganggap sosok yang saya lihat adalah bayangan diri saya sendiri, melainkan orang lain. Kebetulan saja saya dan dia sedang melakukan kegiatan yang sama: memandang cermin. Kami --saya dan teman khayalan saya itu-- kerap kali berjanji untuk bertemu. Jika saya akan pergi dengan keluarga saya, malamnya saya akan memberitahunya dan kami berjanji untuk bertemu keesokan harinya di tempat yang akan saya tuju sembari saling memperkenalkan keluarga masing-masing. Tentu saja dia tidak pernah datang.
Sebenarnya mudah untuk memahami fenomena teman khayalan pada anak kecil. Teman khayalan merupakan sekumpulan gagasan dan imajinasi anak yang diproyeksikan ke dalam sosok manusia di luar dirinya. Sifat-sifat maupun atribut-atribut yang melekat pada si teman khayalan berhubungan langsung dengan informasi-informasi yang didapat oleh anak, baik dari keluarga, teman, benda-benda di sekitarnya, maupun media informasi seperti televisi. Contohnya, ketika tempo hari saya bertanya, "si Ani sedang apa?", dia menjawab, "sedang dimakan raksasa, ayahnya dimakan ikan hiu". Saya tidak kaget dengan jawaban itu, karena beberapa jam sebelumnya, kakak-kakak sepupunya memamerkan foto-foto mereka yang seolah sedang dimakan Frankenstein, ikan hiu, dan lain-lain di pameran lukisan Trick Art Japan. Konsep-konsepnya soal "meninggal" atau "dipenjara" saya duga dia dapatkan dari infotainment dan sinetron yang seringkali luput dari pengawasan orang di dewasa di sekitarnya.
Kemarin sore saya menyuapinya makan bakso. Karena makannya tak juga habis (karena disambi lari kesana-kemari), saya sedikit mengancamnya:
"Ayo abisin, entar si Ani gak mau jadi temen kamu lagi lho."Laah, ada tokoh baru lagi ternyata.
(diam sebentar) "Biarin.."
"Loh kok biarin?"
"Biarin, si Ani bukan temen aku kok."
"Terus temen siapa?"
"Si Ani mah temennya si Dodong."
"Hah? Dodong tu siapa?"
"Ya itu, temennya si Ani..."
Thursday, December 6, 2012
Vakansi yang Janggal dan Penyakit Lainnya
Bagi saya, salah satu hal yang bakal bikin saya merindukan Jogja ketika kelak saya meninggalkan kota ini (yang sebenarnya belum saya pikirkan) adalah banyaknya event nonton film gratis. Bagi saya, event nonton film gratis adalah sebuah berkah yang amat mubadzir dan haram untuk disia-siakan. Sudah nonton film, gratis pula. Manusia macam apa yang berani mengingkari nikmat seindah itu?
Jadi ceritanya, beberapa hari yang lalu Jogja Asian Film Festival (JAFF) 2012 resmi dimulai. Festival ini rutin memutar film-film dari seluruh Asia setiap tahunnya. Maka seperti tahun kemarin, kali ini pun saya dan dia yang telah menjadi partner yang baik dalam menonton film selama hampir dua tahun belakangan ini menyiapkan ancang-ancang, mengatur rencana dan strategi untuk memilih film mana saja yang bakal kami tonton. Sebenarnya pada hari pembukaan di XXI kemarin itu kami hanya berniat untuk menonton satu film, "Rumah dan Musim Hujan" (disutradarai oleh Ifa Isfansyah, dibintangi oleh Tora Sudiro, Vino Sebastian, Jajang C. Noer, dan Landung Simatupang; sangat bagus!), karena kami berpikir tiket untuk film kedua yang dijadwalkan untuk diputar tepat setelah film pertama selesai pasti telah habis. Tapi ternyata alam semesta sedang berbaik hati, kami masih mendapat tiket untuk film kedua, judulnya "Vakansi yang Janggal dan Penyakit Lainnya".
Disutradarai oleh Yosep Anggi Noen, sutradara muda asal Jogja. Film yang tayang pertama kali di Festival Del Film Locarno, Swiss bulan Agustus kemarin ini benar-benar membuat saya jatuh cinta. Konsepnya secara keseluruhan adalah berupa road movie, seperti "Y Tu Mama Tambien", "Little Miss Sunshine", atau "3 Hari Untuk Selamanya", di mana konflik dan resolusi muncul dan ditemukan dalam perjalanan oleh para tokohnya. Meski sebenarnya memiliki banyak perbedaan mendasar, tapi tidak bisa dipungkiri bahwa film ini cocok untuk disandingkan dengan "3 Hari Untuk Selamanya", karena sama-sama melibatkan satu laki-laki, satu perempuan, dan tiga hari perjalanan dalam mobil di Pulau Jawa.
Bersetting awal di Jogja, Vakansi bercerita tentang Ning, perempuan yang bekerja di toko awul-awul (pakaian bekas) yang kemudian pindah bekerja di toko meubel. Ning memiliki suami bernama Jarot yang lebih memilih menonton TV ketimbang mengobrol bersama istrinya, dan tidak pernah mencari istrinya meskipun ia belum pulang semalaman. Di tempat kerja barunya, Ning bertemu dengan Mur, pegawai lama yang ditugasi untuk membantu Ning beradaptasi dengan pekerjaannya. Suatu hari, Ning dan Mur mendapat tugas untuk mengantar sofa pesanan ke Temanggung. Perjalanan yang mestinya bisa diselesaikan dalam beberapa jam ini berubah menjadi perjalanan panjang yang menumbuhkan perasaan-perasaan janggal antara mereka berdua selama tiga hari dua malam melewati Dieng dan Wonosobo. Alasan vakansi dadakan ini bisa ditangkap secara samar-samar dari gelagat dua tokoh ini. Entah benar-benar tersasar atau sengaja menyasarkan diri, itu menjadi hak penonton yang memutuskan.
Yang membuatnya menjadi istimewa adalah akting para tokohnya. Akting para aktor dalam film ini benar-benar sempurna dan alami. Penggunaan bahasa Jawa (dalam hal ini Jogja) di film ini hampir tanpa cacat jika dibandingkan dengan film berlatar Jawa lainnya, seperti "Mengejar Mas-Mas" atau "Sang Penari" misalnya. Dan bukan hanya tokoh utamanya saja yang berakting bagus, para figurannya pun sangat apik. Tokoh pemilik toko awul-awul, penjaga toko meubel, penjaga warung, sampai pelacur semuanya nyaris tanpa cela. Saking sempurnanya saya sempat berpikir pembuatan film ini menggunakan kamera tersembunyi, dan sebenarnya para tokohnya adalah tokoh nyata, mereka tidak sedang berakting.
Hal lain yang membuat saya jatuh cinta adalah dialog-dialog out of topic ala Quentin Tarantino. Jika Tarantino menggunakan dialog-dialog tidak penting dan out of topic untuk mempermanis cerita, maka dalam film ini dialog-dialog tersebut menjadi jiwa. Sutradaranya seolah ingin mengatakan bahwa di dunia nyata kehidupan memang dibentuk oleh sekumpulan hal tidak penting yang kemudian dimaknai dengan kelewat penting oleh para tokohnya. Dialog favorit saya adalah yang ini:
Daya tarik terakhir dalam film ini adalah ketelitian sutradaranya untuk menggambarkan sesuatu secara detil, amat detil malah. Bagi sebagian orang, melihat salah satu tokoh melakukan kegiatan sepele seperti mencuci botol, mengisi dua jerigen bensin sampai penuh, sampai memindahkannya ke dalam botol-botol bekas minuman bersoda dalam scene-scene panjang tanpa putus merupakan siksaan tersendiri. Bagi saya, itu adalah kenikmatan! Yosep Anggi seperti sedang bersenang-senang ketika membuat film ini, tanpa sedikit pun tendensi untuk buru-buru menyelesaikannya.
Di akhir film, Ning mengajak Mur untuk segera mengantarkan sofa pesanan tersebut dan pulang ke Jogja. Saya rasa ini bukan spoiler, karena siapa pun pasti tahu road film semacam ini memiliki ending yang sangat mudah ditebak. Klise, tapi bukankah memang seperti itu hukumnya? Vakansi, entah yang normal sampai yang paling janggal sekali pun, pada akhirnya akan membuat kita ingat rumah, akan membuat kita ingin pulang. Selamat untuk Yosep Anggi Noen, selamat untuk Vakansi, selamat bervakansi!
Jadi ceritanya, beberapa hari yang lalu Jogja Asian Film Festival (JAFF) 2012 resmi dimulai. Festival ini rutin memutar film-film dari seluruh Asia setiap tahunnya. Maka seperti tahun kemarin, kali ini pun saya dan dia yang telah menjadi partner yang baik dalam menonton film selama hampir dua tahun belakangan ini menyiapkan ancang-ancang, mengatur rencana dan strategi untuk memilih film mana saja yang bakal kami tonton. Sebenarnya pada hari pembukaan di XXI kemarin itu kami hanya berniat untuk menonton satu film, "Rumah dan Musim Hujan" (disutradarai oleh Ifa Isfansyah, dibintangi oleh Tora Sudiro, Vino Sebastian, Jajang C. Noer, dan Landung Simatupang; sangat bagus!), karena kami berpikir tiket untuk film kedua yang dijadwalkan untuk diputar tepat setelah film pertama selesai pasti telah habis. Tapi ternyata alam semesta sedang berbaik hati, kami masih mendapat tiket untuk film kedua, judulnya "Vakansi yang Janggal dan Penyakit Lainnya".
Disutradarai oleh Yosep Anggi Noen, sutradara muda asal Jogja. Film yang tayang pertama kali di Festival Del Film Locarno, Swiss bulan Agustus kemarin ini benar-benar membuat saya jatuh cinta. Konsepnya secara keseluruhan adalah berupa road movie, seperti "Y Tu Mama Tambien", "Little Miss Sunshine", atau "3 Hari Untuk Selamanya", di mana konflik dan resolusi muncul dan ditemukan dalam perjalanan oleh para tokohnya. Meski sebenarnya memiliki banyak perbedaan mendasar, tapi tidak bisa dipungkiri bahwa film ini cocok untuk disandingkan dengan "3 Hari Untuk Selamanya", karena sama-sama melibatkan satu laki-laki, satu perempuan, dan tiga hari perjalanan dalam mobil di Pulau Jawa.
Bersetting awal di Jogja, Vakansi bercerita tentang Ning, perempuan yang bekerja di toko awul-awul (pakaian bekas) yang kemudian pindah bekerja di toko meubel. Ning memiliki suami bernama Jarot yang lebih memilih menonton TV ketimbang mengobrol bersama istrinya, dan tidak pernah mencari istrinya meskipun ia belum pulang semalaman. Di tempat kerja barunya, Ning bertemu dengan Mur, pegawai lama yang ditugasi untuk membantu Ning beradaptasi dengan pekerjaannya. Suatu hari, Ning dan Mur mendapat tugas untuk mengantar sofa pesanan ke Temanggung. Perjalanan yang mestinya bisa diselesaikan dalam beberapa jam ini berubah menjadi perjalanan panjang yang menumbuhkan perasaan-perasaan janggal antara mereka berdua selama tiga hari dua malam melewati Dieng dan Wonosobo. Alasan vakansi dadakan ini bisa ditangkap secara samar-samar dari gelagat dua tokoh ini. Entah benar-benar tersasar atau sengaja menyasarkan diri, itu menjadi hak penonton yang memutuskan.
Yang membuatnya menjadi istimewa adalah akting para tokohnya. Akting para aktor dalam film ini benar-benar sempurna dan alami. Penggunaan bahasa Jawa (dalam hal ini Jogja) di film ini hampir tanpa cacat jika dibandingkan dengan film berlatar Jawa lainnya, seperti "Mengejar Mas-Mas" atau "Sang Penari" misalnya. Dan bukan hanya tokoh utamanya saja yang berakting bagus, para figurannya pun sangat apik. Tokoh pemilik toko awul-awul, penjaga toko meubel, penjaga warung, sampai pelacur semuanya nyaris tanpa cela. Saking sempurnanya saya sempat berpikir pembuatan film ini menggunakan kamera tersembunyi, dan sebenarnya para tokohnya adalah tokoh nyata, mereka tidak sedang berakting.
Hal lain yang membuat saya jatuh cinta adalah dialog-dialog out of topic ala Quentin Tarantino. Jika Tarantino menggunakan dialog-dialog tidak penting dan out of topic untuk mempermanis cerita, maka dalam film ini dialog-dialog tersebut menjadi jiwa. Sutradaranya seolah ingin mengatakan bahwa di dunia nyata kehidupan memang dibentuk oleh sekumpulan hal tidak penting yang kemudian dimaknai dengan kelewat penting oleh para tokohnya. Dialog favorit saya adalah yang ini:
"Aku arep neng warung sik." (Aku mau ke warung dulu.)Absurd, tapi saya merasakan kehangatan yang nyaman di situ. Selain dialog tersebut, perbincangan tentang cacar air, pekerjaan sebagai supir rental mobil mewah, dan pengakuan tidak memiliki SIM ketika membawa mobil sampai ke Lampung adalah dialog-dialog yang sekali lagi membuat saya harus menyadarkan diri bahwa saya sedang menonton film, bukan rekaman kamera tersembunyi yang dipasang di mobil.
"Arep tuku opo?" (Mau beli apa?)
"Ora tuku opo-opo, neng warung wae." (Enggak beli apa-apa, ke warung aja.)
Daya tarik terakhir dalam film ini adalah ketelitian sutradaranya untuk menggambarkan sesuatu secara detil, amat detil malah. Bagi sebagian orang, melihat salah satu tokoh melakukan kegiatan sepele seperti mencuci botol, mengisi dua jerigen bensin sampai penuh, sampai memindahkannya ke dalam botol-botol bekas minuman bersoda dalam scene-scene panjang tanpa putus merupakan siksaan tersendiri. Bagi saya, itu adalah kenikmatan! Yosep Anggi seperti sedang bersenang-senang ketika membuat film ini, tanpa sedikit pun tendensi untuk buru-buru menyelesaikannya.
Di akhir film, Ning mengajak Mur untuk segera mengantarkan sofa pesanan tersebut dan pulang ke Jogja. Saya rasa ini bukan spoiler, karena siapa pun pasti tahu road film semacam ini memiliki ending yang sangat mudah ditebak. Klise, tapi bukankah memang seperti itu hukumnya? Vakansi, entah yang normal sampai yang paling janggal sekali pun, pada akhirnya akan membuat kita ingat rumah, akan membuat kita ingin pulang. Selamat untuk Yosep Anggi Noen, selamat untuk Vakansi, selamat bervakansi!
Saturday, November 10, 2012
senjakala Candi Ijo
Konon merupakan candi dengan letak tertinggi di Yogyakarta, berada di bukit bernama Gumuk Ijo, 410 meter di atas permukaan laut. Akses jalan ke sana menanjak dan terus menanjak. Kami duduk menghadap selatan, ke arah aktivitas kota yang serba bergegas, diwakili oleh lalu lalang pesawat di bandara Adisucipto. Menunggu matahari terbenam sembari ditemani teh susu botolan dan kudapan paling enak sedunia: Pukis Mang Tosir.
Subscribe to:
Posts (Atom)






