Sunday, January 13, 2013

Menziarahi Tana Toraja

Untuk cerita lengkapnya, silakan klik di sini atau versi lebih singkatnya di sini.

Saturday, January 5, 2013

my little heroine

Namanya Reva. Nama panjangnya Revanjani Mehrunisa Awandini. Dia adalah salah satu dari tujuh keponakan saya. Umurnya jika tidak salah masih tiga tahun. Dua tahun yang lalu saya dan dia berada dalam satu mobil selama lebih dari lima belas jam dalam perjalanan mudik yang tersendat-sendat antara Bandung-Kutoarjo. Entah mengapa, interaksi-interaksi antara saya dan dia selama dalam perjalanan tersebut membentuk ikatan emosional yang lebih erat jika dibandingkan dengan saya dan keponakan yang lain.

Reva mempunyai teman khayalan bernama Ani. Berdasarkan ceritanya, si Ani ini duduk di kelas 4 SD. Ayahnya si Ani sudah meninggal, tapi suatu hari "dihidupkan" lagi oleh Reva. Setelah hidup lagi, ayahnya Ani dipenjara. Ketika ditanya kenapa ayahnya Ani dipenjara, Reva menjawab karena ayahnya Ani meminjam laptop pak polisi tapi tidak mau mengembalikannya.

Cerita tentang teman khayalan itu mengembalikan memori masa kecil saya. Ternyata setelah diingat-ingat, dulu juga saya sempat punya teman khayalan. Teman khayalan saya itu tinggal di dalam cermin. Jadi ketika saya bercermin, saya tidak pernah menganggap sosok yang saya lihat adalah bayangan diri saya sendiri, melainkan orang lain. Kebetulan saja saya dan dia sedang melakukan kegiatan yang sama: memandang cermin. Kami --saya dan teman khayalan saya itu-- kerap kali berjanji untuk bertemu. Jika saya akan pergi dengan keluarga saya, malamnya saya akan memberitahunya dan kami berjanji untuk bertemu keesokan harinya di tempat yang akan saya tuju sembari saling memperkenalkan keluarga masing-masing. Tentu saja dia tidak pernah datang.

Sebenarnya mudah untuk memahami fenomena teman khayalan pada anak kecil. Teman khayalan merupakan sekumpulan gagasan dan imajinasi anak yang diproyeksikan ke dalam sosok manusia di luar dirinya. Sifat-sifat maupun atribut-atribut yang melekat pada si teman khayalan berhubungan langsung dengan informasi-informasi yang didapat oleh anak, baik dari keluarga, teman, benda-benda di sekitarnya, maupun media informasi seperti televisi. Contohnya, ketika tempo hari saya bertanya, "si Ani sedang apa?", dia menjawab, "sedang dimakan raksasa, ayahnya dimakan ikan hiu". Saya tidak kaget dengan jawaban itu, karena beberapa jam sebelumnya, kakak-kakak sepupunya memamerkan foto-foto mereka yang seolah sedang dimakan Frankenstein, ikan hiu, dan lain-lain di pameran lukisan Trick Art Japan. Konsep-konsepnya soal "meninggal" atau "dipenjara" saya duga dia dapatkan dari infotainment dan sinetron yang seringkali luput dari pengawasan orang di dewasa di sekitarnya.

Kemarin sore saya menyuapinya makan bakso. Karena makannya tak juga habis (karena disambi lari kesana-kemari), saya sedikit mengancamnya:
"Ayo abisin, entar si Ani gak mau jadi temen kamu lagi lho."
(diam sebentar) "Biarin.."
"Loh kok biarin?"
"Biarin, si Ani bukan temen aku kok."
"Terus temen siapa?"
"Si Ani mah temennya si Dodong."
"Hah? Dodong tu siapa?"
"Ya itu, temennya si Ani..."
Laah, ada tokoh baru lagi ternyata.

Thursday, December 6, 2012

Vakansi yang Janggal dan Penyakit Lainnya

Bagi saya, salah satu hal yang bakal bikin saya merindukan Jogja ketika kelak saya meninggalkan kota ini (yang sebenarnya belum saya pikirkan) adalah banyaknya event nonton film gratis. Bagi saya, event nonton film gratis adalah sebuah berkah yang amat mubadzir dan haram untuk disia-siakan. Sudah nonton film, gratis pula. Manusia macam apa yang berani mengingkari nikmat seindah itu?

Jadi ceritanya, beberapa hari yang lalu Jogja Asian Film Festival (JAFF) 2012 resmi dimulai. Festival ini rutin memutar film-film dari seluruh Asia setiap tahunnya. Maka seperti tahun kemarin, kali ini pun saya dan dia yang telah menjadi partner yang baik dalam menonton film selama hampir dua tahun belakangan ini menyiapkan ancang-ancang, mengatur rencana dan strategi untuk memilih film mana saja yang bakal kami tonton. Sebenarnya pada hari pembukaan di XXI kemarin itu kami hanya berniat untuk menonton satu film, "Rumah dan Musim Hujan" (disutradarai oleh Ifa Isfansyah, dibintangi oleh Tora Sudiro, Vino Sebastian, Jajang C. Noer, dan Landung Simatupang; sangat bagus!), karena kami berpikir tiket untuk film kedua yang dijadwalkan untuk diputar tepat setelah film pertama selesai pasti telah habis. Tapi ternyata alam semesta sedang berbaik hati, kami masih mendapat tiket untuk film kedua, judulnya "Vakansi yang Janggal dan Penyakit Lainnya".

Disutradarai oleh Yosep Anggi Noen, sutradara muda asal Jogja. Film yang tayang pertama kali di Festival Del Film Locarno, Swiss bulan Agustus kemarin ini benar-benar membuat saya jatuh cinta. Konsepnya secara keseluruhan adalah berupa road movie, seperti "Y Tu Mama Tambien", "Little Miss Sunshine", atau "3 Hari Untuk Selamanya", di mana konflik dan resolusi muncul dan ditemukan dalam perjalanan oleh para tokohnya. Meski sebenarnya memiliki banyak perbedaan mendasar, tapi tidak bisa dipungkiri bahwa film ini cocok untuk disandingkan dengan "3 Hari Untuk Selamanya", karena sama-sama melibatkan satu laki-laki, satu perempuan, dan tiga hari perjalanan dalam mobil di Pulau Jawa.

Bersetting awal di Jogja, Vakansi bercerita tentang Ning, perempuan yang bekerja di toko awul-awul (pakaian bekas) yang kemudian pindah bekerja di toko meubel. Ning memiliki suami bernama Jarot yang lebih memilih menonton TV ketimbang mengobrol bersama istrinya, dan tidak pernah mencari istrinya meskipun ia belum pulang semalaman. Di tempat kerja barunya, Ning bertemu dengan Mur, pegawai lama yang ditugasi untuk membantu Ning beradaptasi dengan pekerjaannya. Suatu hari, Ning dan Mur mendapat tugas untuk mengantar sofa pesanan ke Temanggung. Perjalanan yang mestinya bisa diselesaikan dalam beberapa jam ini berubah menjadi perjalanan panjang yang menumbuhkan perasaan-perasaan janggal antara mereka berdua selama tiga hari dua malam melewati Dieng dan Wonosobo. Alasan vakansi dadakan ini bisa ditangkap secara samar-samar dari gelagat dua tokoh ini. Entah benar-benar tersasar atau sengaja menyasarkan diri, itu menjadi hak penonton yang memutuskan.

Yang membuatnya menjadi istimewa adalah akting para tokohnya. Akting para aktor dalam film ini benar-benar sempurna dan alami. Penggunaan bahasa Jawa (dalam hal ini Jogja) di film ini hampir tanpa cacat jika dibandingkan dengan film berlatar Jawa lainnya, seperti "Mengejar Mas-Mas" atau "Sang Penari" misalnya. Dan bukan hanya tokoh utamanya saja yang berakting bagus, para figurannya pun sangat apik. Tokoh pemilik toko awul-awul, penjaga toko meubel, penjaga warung, sampai pelacur semuanya nyaris tanpa cela. Saking sempurnanya saya sempat berpikir pembuatan film ini menggunakan kamera tersembunyi, dan sebenarnya para tokohnya adalah tokoh nyata, mereka tidak sedang berakting.

Hal lain yang membuat saya jatuh cinta adalah dialog-dialog out of topic ala Quentin Tarantino. Jika Tarantino menggunakan dialog-dialog tidak penting dan out of topic untuk mempermanis cerita, maka dalam film ini dialog-dialog tersebut menjadi jiwa. Sutradaranya seolah ingin mengatakan bahwa di dunia nyata kehidupan memang dibentuk oleh sekumpulan hal tidak penting yang kemudian dimaknai dengan kelewat penting oleh para tokohnya. Dialog favorit saya adalah yang ini:
"Aku arep neng warung sik." (Aku mau ke warung dulu.)
"Arep tuku opo?" (Mau beli apa?)
"Ora tuku opo-opo, neng warung wae." (Enggak beli apa-apa, ke warung aja.)
Absurd, tapi saya merasakan kehangatan yang nyaman di situ. Selain dialog tersebut, perbincangan tentang cacar air, pekerjaan sebagai supir rental mobil mewah, dan pengakuan tidak memiliki SIM ketika membawa mobil sampai ke Lampung adalah dialog-dialog yang sekali lagi membuat saya harus menyadarkan diri bahwa saya sedang menonton film, bukan rekaman kamera tersembunyi yang dipasang di mobil.

Daya tarik terakhir dalam film ini adalah ketelitian sutradaranya untuk menggambarkan sesuatu secara detil, amat detil malah. Bagi sebagian orang, melihat salah satu tokoh melakukan kegiatan sepele seperti mencuci botol, mengisi dua jerigen bensin sampai penuh, sampai memindahkannya ke dalam botol-botol bekas minuman bersoda dalam scene-scene panjang tanpa putus merupakan siksaan tersendiri. Bagi saya, itu adalah kenikmatan! Yosep Anggi seperti sedang bersenang-senang ketika membuat film ini, tanpa sedikit pun tendensi untuk buru-buru menyelesaikannya.

Di akhir film, Ning mengajak Mur untuk segera mengantarkan sofa pesanan tersebut dan pulang ke Jogja. Saya rasa ini bukan spoiler, karena siapa pun pasti tahu road film semacam ini memiliki ending yang sangat mudah ditebak. Klise, tapi bukankah memang seperti itu hukumnya? Vakansi, entah yang normal sampai yang paling janggal sekali pun, pada akhirnya akan membuat kita ingat rumah, akan membuat kita ingin pulang. Selamat untuk Yosep Anggi Noen, selamat untuk Vakansi, selamat bervakansi!

Saturday, November 10, 2012

senjakala Candi Ijo

Konon merupakan candi dengan letak tertinggi di Yogyakarta, berada di bukit bernama Gumuk Ijo, 410 meter di atas permukaan laut. Akses jalan ke sana menanjak dan terus menanjak. Kami duduk menghadap selatan, ke arah aktivitas kota yang serba bergegas, diwakili oleh lalu lalang pesawat di bandara Adisucipto. Menunggu matahari terbenam sembari ditemani teh susu botolan dan kudapan paling enak sedunia: Pukis Mang Tosir.

Friday, October 26, 2012

the awkward truth #6

"People worry about kids playing with guns, or watching violent videos, that some sort of culture of violence will take them over. Nobody worries about kids listening to thousands, literally thousands of songs about heartbreak, rejection, pain, misery and loss."
-Rob Gordon, High Fidelity

luka

pada pukul dua pagi
seorang lelaki terbangun dari tidurnya
kemudian ia berkaca,
dan mendapati dirinya hilang dimakan usia

pada pukul dua pagi
seorang perempuan selesai sembahyang
kepalanya dipenuhi bayang-bayang
tentang raganya yang semakin meradang

pada pukul dua pagi
ada dua makhluk yang belum rela pergi
sebab masih ada hal yang rajin disesali:
kenapa dulu mereka tak pernah saling mengerti

Thursday, October 18, 2012

Paprika: merekonstruksi mimpi

Ide untuk mengatur dan beraktivitas secara sadar dalam mimpi --baik mimpi milik sendiri maupun orang lain-- sepertinya telah menjadi obsesi manusia sejak lama. Dalam mitologi Yunani dikenal adanya Oneiroi, yaitu sekelompok dewa yang bisa masuk ke dalam mimpi manusia. Beberapa suku di Indian memiliki tradisi untuk menggantungkan jimat berbentuk jaring kecil di atas kepala manusia ketika tidur, fungsinya adalah untuk menangkap hal-hal buruk yang berusaha masuk ke dalam mimpi.

Dalam kehidupan modern, orang-orang pun masih membahas mimpi dan fantasi untuk 'terbangun' di dalamnya. Dari mulai mitos lucid dream dan segala tutorialnya hingga "Inception", film terakhir yang dengan berani memvisualisasikan mimpi manusia. Inception adalah film yang bagus, tapi menurut saya Christopher Nolan kurang bersenang-senang dengan penggambaran dunia mimpinya. Visualisasi mimpi versi Nolan terasa dingin, kaku, dan serius. Padahal menurut saya, sedingin apa pun manusia, mimpinya tetap memiliki absurditas berwarna-warni yang estetis. Hal itulah yang menjadi kebalikan dalam "Paprika"

Paprika adalah film animasi garapan Satoshi Kon, dirilis tahun 2006, dan disebut sebagai salah satu karya yang menginspirasi Inception. Ceritanya sebenarnya sangat sederhana: DC Mini, sebuah alat yang memungkinkan orang untuk masuk ke dalam mimpi orang lain sekaligus dapat mengaburkan batas antara mimpi dan kenyataan, suatu hari dicuri dari laboratorium tempatnya diproduksi. Kemudian sisanya adalah bagaimana para tokohnya mencari alat tersebut sekaligus motivasi dari si pencuri. Tokoh-tokoh tersebut adalah Paprika, seorang gadis periang yang berprofesi sebagai terapis mimpi yang sebenarnya merupakan alter-ego dari peneliti yang selalu terlihat murung bernama Chiba; Kogawa, polisi yang selalu dihantui mimpi buruk; dan Tokita, asisten Chiba yang jenius tapi kekanak-kanakan.

Plot sederhana tersebut menjadi begitu menyenangkan untuk dilihat karena dibalut oleh hal yang paling menakjubkan dari film ini, visualisasinya! Serius, film ini mampu menciptakan penggambaran mimpi yang benar-benar real (oke, itu terdengar ambigu), bahkan mungkin lebih real dari mimpi sesungguhnya (dan ini jauh lebih ambigu). Saya benar-benar dimanjakan oleh parade visual berwarna-warni yang datang bertubi-tubi. Ini yang saya maksud Nolan kurang bersenang-senang, karena visualisasi mimpi seharusnya memang seperti ini, berwarna-warni penuh absurditas, meskipun sebenarnya tema dari film ini cukup "gelap" juga. Yang lebih menyenangkan, di saat saya berpikir film ini sudah mencapai ujungnya, muncul babak baru yang visualisasinya jauh lebih bagus lagi! A massive eyegasm!

Sebenarnya sedikit tidak adil jika membandingkan ini dengan Inception, karena ini adalah film animasi, sehingga memiliki peluang lebih banyak menghadirkan keajaiban-keajaiban dalam penggarapannya. Tapi tetap saja saya berani mengatakan film ini sempurna.

p.s. : entah kenapa ketika menonton ini saya merasakan aura yang sama seperti yang saya rasakan ketika membaca "20th Century Boys".