Sunday, July 8, 2012

pandora

Sudah berapa tahun berlalu? Aku masih ingat wangi itu. Wangi yg memerangkap waktu, kesunyian dan pilu. Sekaligus, satu. Wangi ini pula yg memenjarakanku. Memantulkan geram yg pekak, bertalu, tentang aku. Kamu. Kita. Namun ternyata tanpa suara. Malam ini aku kembali mengumpat, kepada udara, kepada asbak yang penuh, kepada folder bertuliskan namamu di laptopku yang tak pernah berani kuhapus, kepada otak yang dengan sialnya selalu setia menyimpan data-data dari seluruh inderaku tentangmu: orang yang dengan benci kucintai.

Hah. Kau memang candu. Dan aku tak ubahnya pecandumu yg tolol. Sejenak pandanganku tertuju pada kotak kayu lapuk yang berdebu. Entah mengapa masih tersimpan disana. Tak terjamah. Membukanya? Untuk apa? Jika hanya akan membuatmu menang.

Akhirnya kudekati juga kotak kayu lapuk itu, kuangkat dari kolong lemari, kubersihkan debunya, kucermati, masih seperti dulu. Buka? Jangan!  Buka? Jangan! Buka! Persetan! Akhirnya kubuka juga, dan tampaklah sesuatu yang meramu kegetiran: sepotong jari dengan cincin emas di pangkalnya.

Tak pernah ingat bagaimana awalnya. Bagaimana siluet wajahmu rupanya terekam inderaku begitu dalam, hingga mereka kemudian berkonspirasi memantulkan gaungnya ke mana-mana. Detik dimana aku jatuh cinta dan tak bisa berpaling. Ya, jatuh. Dan terperosok ke dasar paling dalam. Sangat dalam, sehingga membuatku berjarak dengan cahaya, dengan realita, dengan logika. Dasar lubang serupa ujung sumur yang tak terkira. Lubang penyimpan gelap yang pekat, yang perlahan membutakan. Kebutaan yang menyiksaku dgn kenyataan betapa kau sangat mencintai wanita itu.

Mataku menerawang ke sudut kamar yang dingin. Nafasku tersengal, terhimpit sesak. Memandang jari yang tergeletak lemah dalam kotak ini membuatku muak sekaligus...rindu. Rupanya rindu ini begitu pahit hingga aku menangis lagi. Dan untuk kesekian kalinya, kau menang, sayang. Kupandangi jari ini, saksi dari betapa cinta dan obsesi bagaikan jam pasir, yang masing-masing bagiannya perlahan memenuhi yang lain. Betapa cemburu ternyata setajam sembilu. Sampaikan salamku pada wanita itu, istri mudamu, yang kini membuat jariku berjumlah sembilan.
*ditulis secara bergantian bersama Clay.

Friday, June 29, 2012

kala

Waktu, adalah hal yang tak pernah usang untuk dijadikan bahan perenungan, kegelisahan, serta harapan bagi manusia. Kita selalu merasa telah berhasil menangkap waktu, memenjarakannya, memberinya nama, mengukurnya, dan menetapkan ukurannya sesuai kapasitas otak kita. Padahal sebenarnya waktu adalah makhluk yang bebas, makhluk yang misterius, makhluk yang bisa meregangkan tangannya dengan bersahabat dan menikam punggung kita pada waktu yang sama.

Entah karena kejayaan Doraemon atau mungkin jauh sebelum itu, kita adalah generasi yang merindukan mesin waktu. Konsep "pergi ke masa lalu untuk memperbaikinya" adalah mimpi yang selalu indah untuk dibayangkan, begitu juga dengan "pergi ke masa lalu dan tinggal di sana karena itu adalah masa yang lebih baik dari hari ini". Mungkin juga hal yang senada dengan masa depan, pergi ke sana untuk sekedar menengoknya, belajar darinya, atau sekali lagi, pergi dan tinggal di sana karena itu adalah masa yang lebih baik dari hari ini.

Tapi bagaimana jika itu adalah siasat waktu untuk membalas kita yang telah memenjarakannya? Untuk membalas dengan balik memenjarakan kita? Seperti Gil dalam film "Midnight in Paris" yang selalu memimpikan untuk bisa hidup di tahun 1920 karena menurutnya itu adalah zaman keemasan bagi dunia seni. Akhirnya sampailah dia di sana dan menemukan seorang perempuan bernama Adriana yang selalu memimpikan hidup di tahun 1890. Kemudian pergilah mereka berdua ke tahun 1890 dan menemukan orang-orang yang ingin hidup di zaman Renaisans. Begitu seterusnya, ketidakpuasaan yang kronis akan masa di mana kita sedang berada.

Wahai Batara Kala, berbaik hatilah pada kami, sebab pusaranmu terlalu kuat untuk dibendung.

Monday, June 11, 2012

Premortem: labirin super rumit setebal 135 halaman

Beberapa waktu yang lalu ketika sedang di Bandung saya melakukan ritual yang sudah lama tidak saya lakukan: membeli buku. Kegiatan membeli buku sempat vakum beberapa waktu karena dua hal: belakangan ini saya lagi kecanduan nonton film, dan di rak buku ada sejumlah buku yang telah saya dzolimi dengan tidak pernah sempat membacanya. Mereka menunggu dengan harap-harap cemas akan pernah dijamah atau tidak. Tetapi kadang hasrat manusia tidak bisa ditebak juga. Sore itu tiba-tiba saya ingin membeli buku. Maka begitulah, tahu-tahu saya sudah sampai di antara deretan rak sebuah toko buku di Jalan Supratman.

Sebenarnya saya ingin membeli buku terbarunya Ayu Utami (yang meskipun menurut saya kover dan judulnya mirip teenlit, pasti tetap akan saya beli juga), tetapi sialnya sedang tidak ada stok di sana. Akhirnya saya membawa pulang "Klub Film" (buku yang telah lama menjadi incaran juga, tetapi ternyata mengecewakan), dan "Premortem". Buku yang saya sebut terakhir itu saya pilih secara acak di barisan buku baru. Saya asing dengan nama pengarangnya (J. Angin), kovernya simpel cenderung biasa saja, satu-satunya yang menarik adalah tulisan di kover belakangnya: "Apa yang sesungguhnya terjadi pada tokoh-tokoh cerita? Siapa mereka sebenarnya? Siapakah Anda sebenarnya?", menimbulkan sedikit ekspektasi akan merasakan sensasi yang sama seperti yang diberikan Jostein Gaarder lewat "Dunia Sophie" dan "Misteri Soliter"-nya.

Premortem adalah buku yang cukup tipis untuk sebuah novel, hanya berisi 135 halaman. Bercerita tentang...emm...entahlah, sebenarnya sampai sekarang saya tidak yakin buku ini bercerita tentang apa. Bahkan sebenarnya tidak ada yang benar-benar tahu inti cerita buku ini kecuali pengarangnya sendiri. Lewat dialog yang sempat saya lakukan dengan pengarangnya lewat Twitter, dia mengatakan bahwa Premortem memang jenis buku yang menolak untuk "menyuapi" pembacanya bulat-bulat tentang apa yang terjadi di dalamnya. Jadi pembacanyalah yang dituntut untuk mengolah sendiri bahan-bahan serta bumbu rahasia berupa clue-clue yang tersebar dalam buku ini, mengolahnya, kemudian mengunyah dan menelannya sendiri; sehingga rasa atau pemahaman tentang apakah inti dari buku ini yang didapat oleh setiap pembaca akan berbeda-beda.

Sepanjang cerita, pembaca akan dibimbing oleh tokoh "aku" yang selalu berganti-ganti, kadang laki-laki, kadang perempuan, kadang tua, kadang muda, kadang miskin, kadang kaya. Di dalamnya juga kita akan menemukan beberapa nama tokoh yang akan berulangkali berganti identitas seiring cerita yang semakin lama semakin membingungkan jika kita tidak berkonsentrasi. Hal yang menarik dari buku ini adalah sama sekali tidak ada penggunaan tanda kutip di dalamnya. Seluruh dialog antar tokoh dibuat melebur dalam narasi.

Kembali lewat Twitter, saya bertanya pada pengarangnya, jika diibaratkan film, apa film yang paling mendekati Premortem. Pengarangnya menjawab bahwa Premortem adalah seperti karya Christopher Nolan dalam bentuk buku. Saya tidak tahu film Nolan yang mana yang dijadikan perumpamaan, yang jelas saya kurang setuju, menurut saya Premortem lebih mirip dengan Vanilla Sky atau Eternal Sunshine of the Spotless Mind. Tapi sensasi yang saya dapat sehabis membaca buku ini untuk pertama kalinya benar-benar mirip dengan sensasi yang saya dapat sehabis menonton Mulholand Drive: kesal karena tidak mengerti!

Saya suka dengan tema-tema membingungkan, baik dalam buku maupun film. Masalahnya adalah, baik buku dan film dengan tema-tema semacam itu biasanya memberikan jawaban di akhir, dan meskipun seringkali masih menimbulkan perdebatan antar pembaca maupun penonton, setidaknya mereka telah diberikan "bekal" yang cukup jelas lewat buku dan film tersebut untuk sedikit saja dirangkai menjadi pemahaman yang utuh. Premortem tidak seperti itu. Serius, Premortem adalah jenis buku yang tidak memberikan nafas lega di halaman terakhir. Tapi justru itulah menariknya, Premortem bukan buku yang akan masih terlihat baru karena cukup sekali dibaca, tetapi sengaja diciptakan untuk menjadi lecek karena berulangkali dibolak-balik oleh pembacanya.

Jika dilihat dari postingan-postingan di blog, Facebook, serta Twitternya, sepertinya Premortem adalah sebuah proyek yang niat untuk dibuat (bahkan ada trailer-nya juga di Youtube). Pengarangnya bahkan berani mengklaimnya sebagai "novel generasi baru pertama di dunia". Sesuatu yang akan menjadi sangat disayangkan jika hanya sedikit yang mengenal buku ini. Mungkin untuk itulah penulisnya sering membuat kuis berhadiah tiket bioskop dengan pertanyaan-pertanyaan seputar isi buku ini, secara tidak langsung membuat orang tertarik dan akhirnya ikut membeli.

Saya sendiri sudah membacanya tiga kali, dan meskipun sedikit-sedikit mulai terlihat titik terang, tetap saja belum cukup. Beberapa orang menyarankan untuk membuat mindmap atau sekedar catatan tentang detil-detil tokoh dan peristiwa ketika membaca buku ini, sesuatu yang belum sempat saya lakukan. Mungkin habis ini, ketika untuk keempat kalinya saya masuk ke dalam labirin super rumit setebal 135 halaman bernama Premortem. Selamat membaca, semoga tidak tersesat.

Thursday, May 31, 2012

the awkward truth #4

Becky: I’m not saying that it’s not alright for you. But yes, I do think that marriage goes against our primal nature.
Dante: To be loved?
Becky: To fuck, as much as possible. Spread the seed around and keep the species going. And all that shit that they feed us in the movies and greeting cards is just propaganda to get us to marry, have kids, and keep the economy going. Marriage is just the keystone to economics.
-Clerks 2

Saturday, May 19, 2012

"Everything is nothing, including the consciousness of nothing."
-E. Cioran

Thursday, May 17, 2012

"anywhere, anywhere, out of this world."

“The world is a book and those who do not travel read only one page.”
-St. Agustine

Penampilannya biasa saja, bahkan sangat biasa. Sekilas saya pikir dia adalah salah satu pekerja renovasi  kampus yang sengaja ikut main remi bersama beberap teman saya di depan sekretariat. Umurnya sekitar 20-an akhir atau 30-an awal. Saya pun menyodorkan tangan, menyalaminya.

"Dari mana Mas?"
"Dari Mapala Merah Putih."
"Hah Mapala Merah Putih? Mana tu?" tanya saya, bingung karena belum pernah mendengar nama itu.
"Mapala seluruh Indonesia." jawabnya. Saya makin bingung.
"Nih baca dulu." kata teman saya sambil menyodorkan sebuah buku kumal.

Buku tersebut ternyata adalah kumpulan testimoni dari mapala-mapala serta markas-markas militer beserta capnya dari berbagai tempat di Indonesia. Ternyata orang ini adalah seorang musafir, melakukan perjalanan keliling Indonesia, dengan sepeda. Asalnya dari Pati. Di setiap kota yang dia datangi, dia menyempatkan untuk mengunjungi markas militer dan mapala-mapala dan meminta testimoni, cap, stiker, foto bersama, atau apa pun yang bisa menandakan kehadirannya. Barang bawaannya hanyalah sebuah sepeda, sebuah ransel yang isinya beberapa potong pakaian, serta kumpulan dokumentasi-dokumentasi itu, berupa tiga buah buku, sebuah album foto yang sudah tidak berbentuk album, foto-foto lain yang tidak terbungkus, serta sebuah sertifikat yang entah datang dari mana.

Dia bercerita pernah mendaki sekitar 70-an gunung yang ada di Indonesia dan luar negeri. Ya, luar negeri. Dia bercerita pernah pergi ke tiga negara, Singapura, Malaysia, dan India. Ketika saya bertanya apakah dia memiliki visa, dia hanya tertawa. Dia bercerita ketika pergi ke India, dia menumpang sebuah kapal pengangkut ganja milik Kolombia yang berlayar dari Sabang. Di sana dia menjadi imigran gelap dan sempat pula mendaki Himalaya yang legendaris itu. Dia juga menceritakan pengalaman-pengalaman buruknya selama melakukan perjalan, dari mulai sepedanya yang hilang di Monas sampai pengalaman ditangkap dan dipukuli oleh GAM.

Kata-katanya yang masih terngiang di kepala saya adalah ketika dia mengatakan "Kalian tu kuliah buat apa? Aku tu sekolah cuma sampai kelas 2 SD, tapi udah dapat banyak banget ilmu dan pengalaman, dan itu juga masih kerasa kurang." Makjleb rasanya, langsung berpikir betapa dunia tu sebenarnya amat sangat luas tapi tega-teganya saya menyempitkan dunia saya sendiri. Betapa tidak pernah kemana-mananya saya. Betapa telah menjadi begitu angkuhnya kita para mahasiswa dengan merasa amat pintar ketika sedikit-sedikit bisa berkomentar tentang bencana, FPI, atau pun Lady Gaga, padahal pengetahuan sebenarnya ada di luar sana.

***

"Mas, sebenarnya apa yang Mas cari dari ini semua?"
"Kamu tahu Sunan Kalijaga? Kira-kira sama dengan apa yang dia cari dalam perjalanannya.."