Tuesday, May 21, 2013

Hyperballad

We live on a mountain
Right at the top
There's a beautiful view
From the top of the mountain
Every morning I walk towards the edge
And throw little things off
Like car-parts, bottles and cutlery
or whatever I find lying around
It's become a habit
A way to start the day

I go through all this
Before you wake me up
So I can feel happier
To be safe up here with you
 

It's real early morning
No one is awake
I'm back at my cliff
Still throwing things off
I listen to the sounds they make
On their way down
I follow with my eyes 'til they crash
I imagine what my body would sound like
Slamming against those rocks
and when it lands
Will my eyes
Be closed or open?

I go through all this
Before you wake me up
So I can feel happier
To be safe up here with you

***

Saya bukan penggemar Björk, jadi hanya tahu beberapa lagunya, dan Hyper-Ballad (atau Hyperballad, saya lebih suka menulisnya begitu) bukanlah salah satunya. Makanya ketika pertama kali mendengarkan Mocca membawakan lagu ini di album Colours, saya tidak tahu kalau itu adalah cover version. Meskipun saya curiga karena sangat tidak biasanya Mocca menulis lirik seganjil dan sekelam itu.

Saya pernah membahas lagu ini bersama pacar saya. Waktu itu dia menganggap liriknya bercerita tentang bunuh diri, sementara saya merasa ada pesan yang lebih samar dalam liriknya, lebih dari sekedar bunuh diri. Tapi karena saya tidak bisa menebak lebih jauh, akhirnya saat itu saya sepakat saja.

Dari semua musisi yang meng-cover lagu ini, dari mulai Yeah Yeah Yeahs, Dirty Projectors, The Twilight Singers, sampai Big Heavy Stuff, menurut saya versi Mocca adalah yang paling pas. Semua musisi yang pernah membawakan lagu ini membawakannya dengan ceria (persis seperti versi aslinya), dan hanya dalam versi Mocca-lah saya mendengarkan kegetiran terselip di dalamnya.

Dua hari yang lalu Mocca manggung di Jogja. Malam itu saya beberapa kali berdoa (dalam arti sebenarnya) agar mereka membawakan Hyperballad. Entah berkat doa saya atau bukan, mereka betulan membawakan lagu itu! Sebelum nyanyi, Arina sempat ngomong begini, "Waktu pertama kali dengerin lagu ini saya gak tahu ini lagunya tentang apa, setelah saya nyanyiin akhirnya saya tahu, ooh begitu toh maksudnya..." Saya dan pacar saya saling bertatapan penuh arti, kemudian kami berusaha mendengarkan musik dan liriknya sekhusyuk mungkin.

Di tengah-tengah lagu pacar saya dengan semangatnya bilang kalau dia akhirnya tahu artinya. Menurutnya lagu itu bercerita tentang seseorang yang harus melewati berbagai fase yang melelahkan sekaligus mengerikan untuk bisa bahagia bersama seseorang yang dicintainya. Dan tidak bisa tidak, dia harus melewati semua fase itu dulu. Bukan pilihan, tapi keharusan. Semacam harus melewati badai super ganas dulu sebelum bisa mencapai perairan yang tenang menuju gugusan pulau berpasir putih yang hangat. Menurut saya itu agak klise.

Akhirnya saya melakukan perbuatan khas masyarakat modern ketika penasaran dengan sesuatu: googling! Ada banyak interpretasi tentang lagu ini di internet. Ada yang mengatakan lagu ini bercerita tentang hubungan vertikal antara manusia dengan Tuhan dan alam semesta, ada yang mengartikan "gunung" dalam liriknya sebagai simbol dari ego manusia, bahkan ada yang menghubungkannya dengan keadaan high yang dialami seseorang setelah mengisap ganja. Björk sendiri mengatakan lagu ini adalah tentang hal-hal yang kadang harus dilakukan oleh seseorang untuk menjaga keseimbangan dalam suatu hubungan yang sudah berjalan cukup lama. Hal-hal yang hanya bisa dilakukan sendirian. Hal-hal yang terkadang tidak pantas, mengerikan, dan bahkan destruktif. Segala hal abnormal yang justru harus dilakukan untuk menjaga kenormalan.

Apapun arti sesungguhnya, lagu ini selalu menyisakan perasaan yang aneh buat saya setiap kali mendengarnya. Perasaan yang merupakan campuran antara sedih, lega, perih, kosong, dan senang yang ganjil. Mungkin jenis perasaan yang sama dengan perasaan ketika kita duduk di bawah pohon yang rimbun setelah kita memutuskan untuk tidak jadi melompat ke jurang setelah teringat hari itu adalah hari pemutaran perdana film yang telah kita tunggu sepanjang tahun. Entahlah. 
*Saya ga bawa kamera, jadi minjem foto punya temen saya, Gebi.

7 comments:

  1. kalo aku sih setuju dengan pacarmu bi

    ReplyDelete
  2. Aaaaaaaah, ternyata ada yg punya pandangan sm kyk saya.. Berkali2 saya mencari tau apa makna sebenarnya lagu Bjork ini. Bahkan sewaktu waktu sy menanyakan pada teman sy yg memang sekolah sastra Inggris.
    Lagu ini sangat menyentuh setelah sy dengerin versi mocca-nya, entah musiknya, entah suara arinanya. Ketika saya sedang keadaan yang baik2 saja lagu ini membawa kesejukan, kelegaan, rasa santai dan postif terhadap lingkungan, partner, sekitar.
    Ketika dalam keadaan down, sendirian, lelah, patah hati, kecewa, insecure, lagu ini bak sebuah penguat, curahaan hati, tempat bertanya2 yang menunjukkan relasi saya dgn Tuhan maupun sesama.
    Yang jelas saya lihat, ini tentang sesorang yang mencoba menjadi kuat menghadapi rintangan2 yang sudah ia bisa tebak sebelumnya. Anyway, thanks for sharing. May it be a magical power of music

    ReplyDelete
  3. lagu yg misterius & menarik. menurutku isinya ttg perjuangan untuk bahagia. semoga bisa liat live mocca bawain lgu ini

    ReplyDelete
  4. baru menikmati hari hari ini. meski kenal dari mocca. tapi lebih favorit versi aslinya sih.

    ReplyDelete