Tuesday, September 6, 2011

menulis adalah merokok tanpa asap

Membuka blog ini, saya melihat bahwa di bulan Agustus tidak ada dalam catatan peta-waktu saya. Artinya untuk pertama kalinya dalam satu setengah tahun semenjak saya membuat blog ini, ada lubang dimana saya sama sekali tidak menulis apa-apa disini. Apologi untuk diri saya sendiri adalah karena selama KKN kemarin, saya tidak bisa menemukan waktu untuk bisa sendirian saja semenjak kemana dan kapan pun saya pergi, saya selalu bertemu orang lain, entah teman KKN maupun warga desa. Padahal saya hanya bisa menulis ketika saya benar-benar sendirian.

Tapi kemudian setelah KKN selesai pun, dan setelah saya mendapatkan waktu untuk sendirian yang berlimpah di rumah, saya masih saja kesulitan untuk menulis. Memang saya sempat membuat beberapa tulisan yang saya posting di Facebook, tapi tetap saja tulisan-tulisan itu bukan jenis tulisan yang bisa membuat saya merasa amat lega setelah menulis, seperti yang biasa saya lakukan di blog ini. Entahlah, belakangan ini terasa ada mental block ketika saya hendak mulai menuliskan sesuatu.

Seorang teman pernah berkata bahwa menulis adalah terapi terbaik untuknya. Saya sepakat, menulis adalah kegiatan yang menyembuhkan. Mungkin semacam merokok untuk saya, rasanya sungguh nikmat. Tapi seperti juga saya sering merasa sesak karena kebanyakan merokok, ada saat-saat ketika saya merasa overproduktif, saya merasa muak menulis. Dan ada saat-saat dimana saya tiba-tiba malas menulis apa pun, sama seperti saya tiba-tiba malas merokok tanpa alasan yang jelas. Bedanya, saya bisa saja berhenti merokok kapanpun saya mau, tapi saya rasa saya tidak bisa berhenti menulis.

Saya ingat ketika SD dan SMP, saya sama sekali tidak bisa menulis, entah puisi maupun cerpen. Dan jika terpaksa membuat ketika pelajaran Bahasa Indonesia, bisa dipastikan jadinya sangat cheesy. Saya mulai ketagihan menulis ketika saya pertama kali memiliki handphone, itu sekitar kelas 1 SMA. Dulu saya sering membuat puisi-puisi kacangan, sebagian saya simpan di draft handphone saya dan sebagian saya kirimkan lewat SMS kepada teman-teman dan tentu saja gebetan saya.

Saya pertama kali menulis di blog ketika semester 2. Jika saat ini saya melihat lagi blog lama itu, saya masih merasa heran kenapa dulu saya bisa menulis hal-hal semacam itu. Blog saya yang lama itu isinya tulisan-tulisan 'cerah' dan penuh optimisme semua. Entahlah, mungkin karena dulu saya masih punya pacar. (haha!)

Kemudian saya berhenti menulis cukup lama, semenjak saya memutuskan untuk tidak lagi menyentuh internet untuk alasan apapun. Kemudian karena keinginan untuk menulis yang tak bisa dibendung, saya membuat Asimetris. Semacam zine yang isinya tulisan-tulisan saya tentang apa saja yang saya cetak dan perbanyak kemudian saya sebarkan kemana saja. Asimetris 'terbit' sampai 4 edisi, sebelum akhirnya satu setengah tahun yang lalu saya kembali berdamai dengan internet, dan mulai produktif menulis kembali, di Facebook, dan di blog ini.

Saya juga sempat membuat Tumblr yang hanya beberapa teman saja yang tahu. Disana saya menulis tanpa kendali. Saya benar-benar membiarkan Id saya mengambil alih tangan saya dengan mengetikkan apa saja semaunya tanpa memperhatikan bahasa, tanda baca, apalagi substansinya. Kemudian saya deactivate, karena saya takut jika dibiarkan lama-lama saya tidak bisa lagi menulis dengan 'benar'.

Bicara tentang alasan menulis, saya setuju benar dengan apa yang dikatakan oleh Fahd Djibran. Dia mengatakan alasan dia menulis adalah supaya anak cucunya bisa mengenalnya lewat tulisannya, karena dia lebih mengenal Karl Marx dibanding kakeknya sendiri untuk alasan sederhana: karena kakeknya tidak pernah menulis.

Saya juga ingin kelak keponakan-keponakan saya mengenal paman mereka lewat tulisan-tulisannya. Atau jika saya suatu hari akhirnya berubah pikiran dan mau punya anak, sepertinya akan seru membayangkan mereka mengenali lebih dalam jiwa ayahnya lewat tulisan-tulisannya. Tapi alasan utama saya menulis sebenarnya sangat simpel: saya ingin terus berkomunikasi dengan diri saya sendiri. Saya tidak terlalu menganggap penting apa pendapat orang lain tentang tulisan saya, selama saya masih bisa merasa puas membaca tulisan saya sendiri.

2 comments:

  1. Abi-wan. inspiring as always. terima kasih, Bi

    ReplyDelete
  2. sekali lagi, terimakasih Master Ilham..

    ReplyDelete