Wednesday, October 6, 2021

omong kosong 4.0 #8

"Jika kau tidak menyukai posisimu sekarang, pindahlah, kau bukan pohon." 

Setiap mendengar kalimat itu, aku suka meringis. Bukannya tidak suka. Itu kalimat yang bagus, memberi semangat pada manusia untuk terus bergerak, terus berubah. Masalahnya, aku bukan manusia, aku adalah sebatang pohon! Aku tidak menyukai posisiku sekarang, tapi aku tidak bisa berpindah tempat. 

Aku tumbuh di sebuah taman buatan di tengah kota. Sebenarnya, kehidupan di sini sama sekali tidak buruk. Tidak ada penebang liar, tidak ada beruang yang suka menancapkan cakar mereka, dan nyaris tidak ada kemungkinan terjadi kebakaran seperti yang menimpa pohon-pohon di pulau seberang. 

Yang mengganggu pikiranku adalah aku merasa tidak berguna. Batangku sangat kurus. Saking kurusnya, pernah suatu hari ada seorang anak kecil  bersembunyi di balik badanku ketika bermain petak umpet dan ia ketahuan kurang dari dua detik. 

Daunku tidak lebat, berbeda dengan pohon di sebelahku yang rimbun. Orang-orang senang bernaung di bawahnya sembari mengerjakan berbagai hal. Membaca buku, tiduran, tidur betulan, berciuman, atau sekadar duduk bengong. Sementara aku, bahkan dikencingi gelandangan pun belum pernah. 

Aku ingin sekali pindah ke suatu tempat di mana aku merasa berguna. Tempat di mana pohon sepertiku memiliki kesempatan untuk bersinar. Kira-kira sejak lima tahun lalu, itu doa yang kupanjatkan setiap malam. 

*** 

Segala sukacita bagi si pohon. Besok, Dewi Artemis akan mengabulkan doanya. Tepat pada tengah hari, langit akan mengirim dua orang penagih utang yang lari ke arah taman karena dikejar orang-orang yang marah. 

Karena habis akal, dua penagih utang itu akan memanjat batang si pohon meski ia bertubuh kurus dan berdaun jarang.

Tidak, si pohon tidak akan ambruk. Dua penagih utang itu akan sampai ke ujung tubuhnya dengan selamat, disusul orang-orang yang marah beberapa menit kemudian. 

Orang-orang yang marah itu kemudian akan bergantian berjaga di bawah pohon, mengabaikan dua penagih utang yang memohon-mohon untuk diampuni, namun kita tentu tahu itu hal yang sia-sia. 

Si pohon akan menjadi saksi kedua penagih utang itu dibakar matahari dan diguyur badai berhari-hari hingga keduanya mati dan orang-orang marah yang menunggu di bawah pulang dengan hati riang. 

Mulai besok, si pohon akan merasa berguna.

Monday, October 4, 2021

omong kosong 4.0 #7

Sejak tempat produksi minuman kerasnya tutup lantaran digerebek polisi, Badrun kini menganggur. Ia tak memiliki keahlian apa pun selain meracik alkohol, sesuatu yang diwariskan kakek dan bapaknya, yang juga hanya mampu melakukan itu sepanjang hidupnya.

Di sela-sela waktunya (yang tentu saja selalu sela), Badrun memiliki hobi baru: menonton orang bermain tenis di lapangan sebelah alun-alun setiap Minggu pagi. Seumur hidup ia belum pernah bermain tenis. Menurutnya, tenis adalah olahraga milik orang berduit, serupa dengan golf. Badminton, sepakbola, catur, semua orang bisa melakukannya di mana saja, bahkan di gang atau lapangan dekat sawah dengan peralatan seadanya. Sementara tenis, memerlukan persyaratan-persyaratan yang tidak bisa ditebus oleh orang sepertinya.

Maka begitulah, setiap Minggu pagi ia duduk di trotoar, menyaksikan pejabat, orang berpengaruh, pengusaha, dan kolega mereka yang entah siapa mengayunkan raket dari balik kawat besi.

Istri Badrun awalnya tidak senang dengan hobi suaminya.

“Mas, kowe ki timbangane ra ono gawean mending golek duit.”

Badrun bergeming. Ocehan istrinya tak lebih dari angin lalu. Setiap Minggu pagi, ia tetap berangkat ke lapangan. Lama-lama istrinya jengah juga. Biarlah, pikirnya, mungkin itu rekreasi bagi suaminya. Mungkin Badrun sangat ingin bermain tenis dan sudah cukup puas dengan hanya menontonnya.

Tapi, yang tidak diketahui istrinya adalah ini: setiap orang-orang itu memukul bola, Badrun membayangkan bola-bola sebagai kepala pejabat, orang berpengaruh, pengusaha, dan kolega mereka yang entah siapa itu. Ia membayangkan kepala mereka dihantam raket ke lapangan yang keras, memantul, untuk kemudian dihantam lagi berkali-kali.

Ia membayangkan wajah memar, gigi rontok, mata bonyok, dan batok kepala pecah menghamburkan otak dan darah.

Menyaksikan itu, Badrun tak hanya tergelak, kadang ia juga tertawa begitu nyaring, begitu nyaring sampai ia tersedak.

“Ini baru hiburan,” katanya.

omong kosong 4.0 #6

Kampungku banjir lagi, kali kedua di tahun ini. Tak separah yang pertama, hanya dua meter. Tempo hari bagian rumahku yang tidak terendam hanya antena tivi, kali ini lumayan, lampu di atap tidak kena air jadi bapak tidak perlu pusing lagi berutang lampu baru di warung Wak Soleh. Pagi tadi beberapa wartawan datang meliput. Sebagian langganan ke sini, sebagian baru sekali kulihat. Mereka mengajukan pertanyaan-pertanyaan standar tentang apa yang kami rasakan melihat kampung kebanjiran, apa harapan kami terhadap pemerintah untuk menangani banjir, dan seterusnya. Salah seorang wartawan, yang baru pertama kali kulihat, bertanya kenapa kami tidak pindah saja dari sini, toh kampung ini setiap tahun langganan banjir. Kujawab kami tidak keberatan dengan banjir karena kami memiliki insang. Ia tertawa canggung. Kuulangi, kami tidak keberatan dengan banjir karena kami memiliki insang. Ia tak lagi tertawa, mungkin menganggapku kurang waras lalu pergi mewawancarai petugas BPBD yang sedang mendistribusikan sembako. Malamnya para wartawan dan relawan pergi. Kampung kembali sunyi, dan kami semua kembali ke rumah masing-masing, lelap tertidur di dasar air.

Monday, October 12, 2020

omong kosong 4.0 #5

Sesaat sebelum melemparkan molotov ke arah gedung itu, Budi tiba-tiba teringat kehidupan masa kecilnya bersama kawan-kawan di kampung. Bermain yoyo, merebus bekicot menggunakan kaleng sarden bekas, mencoret-coret boks telepon umum menggunakan obeng, mencari kodok di sawah kemudian mengikatnya pada mrecon, jajan batagor, dan mengaji saban sore di masjid. Ah, seru juga masa kecilku, gumamnya sembari menyaksikan kekacauan yang mungkin tak akan reda sampai besok lusa.

omong kosong 4.0 #4

Sate kambing yang sedang ia santap sore itu rasanya tak sesedap biasanya. Agak getir di lidah dan aromanya seperti kematian. Ia protes pada penjualnya dan meminta untuk diganti dengan sepiring sate yang baru. "Mohon maaf, kami kehabisan stok daging kambing akibat serbuan serigala minggu lalu. Supaya tetap bisa berjualan, kami menggunakan mayat-mayat keluarga dan tetangga kami yang belum sempat dibakar secara massal di alun-alun. Mohon maaf sekali lagi, karena situasi ini, kami beri es teh gratis." Ia mengangguk mengerti, kemudian minta tambah nasi.

Tuesday, June 16, 2020

fuck you and your woke opini demi konten

Di halaman klinik tempat istri saya bekerja, ada sebuah perosotan dan ayunan kecil yang terbuat dari plastik. Keduanya biasa digunakan oleh anak-anak yang sedang mengantar keluarganya berobat. Jika kami sedang menunggu ibunya praktik, Kirana selalu main di situ. Kadang sendirian, kadang bersama anak lain yang entah siapa.

Malam itu, setelah turun dari mobil, seperti biasa Kirana langsung berlari ke arah perosotan dan ayunan. Di sana sudah ada beberapa anak yang sedang bermain, kira-kira seumuran anak TK. Kirana, yang saat itu masih berumur 3 tahun, mendekat, ikut mengantri di belakang mereka. Saya berdiri mengawasi tak jauh dari situ sambil membuka ponsel. Beberapa menit kemudian, saya lihat ia masih berdiri di tempatnya semula, belum juga mendapat giliran. Saya amati, anak-anak itu tampak sengaja tidak memberinya kesempatan untuk ikut bermain.

Kemudian, seorang anak perempuan, yang tampaknya paling tua di antara mereka datang mendekat, sambil menunjuk wajah Kirana, ia berseru pada kawan-kawannya, "Anak ini jangan diajak main ya, karena mukanya hitam!"

Saya terperanjat, dan selama beberapa detik tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Beberapa orang dewasa yang ada di situ, yang sebagian pasti adalah orang tua dari anak-anak ini, hanya tersenyum canggung. Satu orang di antaranya bahkan terkekeh menyaksikan kejadian yang sungguh tak elok itu.

Kirana tampak murung. Saat itu, ia belum paham dengan konsep warna kulit dan bingung kenapa tidak boleh ikut bermain. Saya langsung mengajaknya menunggu di mobil. Untuk menghiburnya, saya membiarkannya menonton video youtube, sementara saya berusaha mengatur emosi. Kejadian itu membangkitkan ingatan tentang berbagai pengalaman pahit yang saya rasakan karena berkulit gelap, terutama saat masih kecil.

Saya sepenuhnya sadar bahwa anak kecil tadi tidak jahat dan ucapan serta pikiran seperti itu tidak datang begitu saja dari langit, tapi diajarkan oleh lingkungan dan orang-orang terdekat. Namun tetap saja, saya tidak bisa menahan segala perasaan marah, sedih, dan kecewa untuk hadir. Saat istri saya selesai praktik, masuk mobil, dan bertanya kenapa muka saya masam, jawaban saya adalah, "Baru kali ini aku ingin membakar anak kecil hidup-hidup."

Rasisme adalah salah satu hal buruk yang tumbuh subur dalam kepala orang Indonesia, dan sekarang mereka semua tiba-tiba peduli dengan hal itu? Eat fucking shit.

Sunday, April 19, 2020

gelisah

Zine ini adalah upaya untuk menghadirkan kembali kegelisahan, gejolak-gejolak dan badai dalam kepala yang menggerakkan tangan untuk mengambil bolpen, kamera, tanah liat, spatula, kuas, laptop, bongkahan kayu, atau apa pun itu untuk membuat sesuatu. Suatu ikhtiar dalam membangkitkan kembali dorongan untuk mencipta yang telah lama mati suri di ruang-ruang tergelap, tersingkirkan oleh rutinitas, deadline pekerjaan, hasrat menjadi keyboard warrior, anggaran belanja bulanan, rapat RT, cegukan yang tak kunjung reda, atau target kurang masuk akal untuk memiliki saldo 1 M sebelum umur tiga lima. Bahwa setiap orang memiliki kegelisahan untuk perihal yang berbeda-beda, itu tak jadi soal. Yang utama ialah kesadaran untuk menerima kegelisahan itu sendiri, merawatnya, dan kemudian merayakannya dengan sebaik mungkin. Tabik.

(Klik pada gambar untuk mengunduh)

https://drive.google.com/open?id=15Owd3fcNCwhOYlzmci8E_JYl1bFlciV-