Monday, December 12, 2011

bacalah kudai!

"perpustakaan adalah rumah sakit bagi pikiran."
-Anonim
Pesimis. Itulah yang sempat dirasakan oleh saya dan teman-teman KKN ketika awal Agustus kemarin akan membuat taman bacaan di salah satu desa di Pagaralam. Tanggapan warga dan pemuda di sana yang cukup dingin ditambah kesadaran membaca warga yang sangat rendah adalah penyebabnya. Program pembuatan taman bacaan (atau saya lebih suka menyebutnya "perpustakaan" walau pun teman saya menolaknya karena menurutnya ini terlalu kecil untuk disebut perpustakaan, padahal menurut saya perpustakaan itu tidak ada hubungannya dengan ukuran) tersebut telah direncanakan jauh-jauh hari di Jogja. Kami telah mengumpulkan sumbangan buku dari berbagai sumber yang bisa kami mintai, dari mulai sesama mahasiswa sampai perpustakaan kota. Kemudian terkumpullah sekitar 500 eksemplar buku dari berbagai spesies dan nama.

Setelah itu kami harus menyortir lagi buku-buku mana saja yang sebaiknya tidak dimasukkan ke dalam perpustakaan tersebut kelak. Setelah itu ada klasifikasi. Kami belajar menggunakan klasifikasi Dewey yang lucunya baru saja saya baca tentang itu di "Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken"-nya Jostein Gaarder beberapa waktu sebelumnya. Yang cukup sulit adalah menentukan tempat dimana perpustakaan ini akan berada. Ada warga yang menawarkan tanah kosong di samping rumahnya untuk digunakan, tetapi kami tidak memiliki uang untuk membangun bangunan baru. Ada tawaran untuk menggunakan halaman belakang masjid, tetapi jika hujan akan kebasahan. Akhirnya ada warga yang menawarkan kolong rumahnya sebagai tempat berlabuh buku-buku tersebut (warga Pagaralam tinggal di rumah panggung, jadi kolong rumahnya biasa digunakan untuk gudang atau kandang anjing).

Pembersihan total bekas gudang tersebut kami lakukan selama berhari-hari, dari mulai memindahkan barang-barang yang debunya banyak minta ampun, menambal lubang di sana-sini, mengecat ulang, sampai menggambari tembok dengan tokoh "Shaun The Sheep" yang setelah jadi malah mirip monster laba-laba. Segera setelah peresmian perpustakaan yang kami beri nama Bacalah Kudai (artinya adalah "bacalah dulu" dalam bahasa Besemah) tersebut dilakukan, berhamburanlah para manusia dari mulai anak-anak sampai orangtuanya untuk mengambil buku, buku apa saja. Segala keraguan kami terhapuslah sudah, warga jadi senang membaca. Sungguh pemandangan yang indah, melihat para warga memegang buku sambil duduk bersandar di dinding bergambar monster laba-laba dan pelangi yang tidak simetris.

Hingga KKN selesai pun, ternyata Bacalah Kudai tetap berjalan dengan diurus oleh pemuda karang taruna. Bahkan tempo hari kami dikabari oleh ketua RW bahwa di sana para warga sedang bergotong royong membangun TK di sekitar perpustakaan, semua berawal dari kegiatan di perpustakaan yang semakin beragam dan progresif. Maka saya tetapkan membuat perpustakaan di desa sebagai salah satu hal terkeren yang pernah saya lakukan. Dan karena ini menyenangkan, saya harus melakukannya lagi kapan-kapan.

No comments:

Post a Comment