Monday, August 26, 2013

Apologia #2

Dalam "The Devil and Miss Prym", Paulo Coelho berkisah tentang sebuah desa bernama Viscos. Desa tersebut dihuni oleh berbagai jenis penjahat dan sampah masyarakat, mulai dari pembunuh kelas kakap, perampok, penipu ulung, hingga pelacur. Ahab, seorang penjahat paling hebat sekaligus kepala desa tersebut, suatu hari bertobat dan menjadi pemeluk Katolik yang taat setelah mengalami serangkaian kejadian dan bertemu dengan orang suci bernama St. Savin.

Ahab yang telah bertobat kemudian ingin mengubah seluruh warga desanya menjadi manusia yang lebih baik. Sebagai mantan penjahat, dia menyadari bahwa warganya tidak akan serta-merta berubah hanya dengan diiming-imingi surga dan diancam dengan neraka. Karena pada dasarnya mereka adalah para penjahat, dan penjahat tidak pernah peduli dengan semua itu. Salah satu cara Ahab untuk membuat warganya kembali mengingat Tuhan adalah dengan membuat Hari Raya Perdamaian. Perayaan yang dipelajarinya dari orang Yahudi ini telah dimodifikasi sedemikian rupa olehnya agar pas untuk diterapkan warga desanya yang merasa memiliki masalah "personal" dengan Tuhan.

Dalam sekali dalam setahun, masing-masing warga mengunci diri di rumah masing-masing. Sebelumnya mereka telah membuat dua macam daftar yang akan mereka bacakan. Pertama, mereka akan mengeluarkan satu daftar sambil mengangkat tangan ke langit dan berkata, "Tuhan, inilah daftar dosaku kepada-Mu." Kemudian mereka membacakan daftar dosa mereka. Dari mulai penipuan, perzinahan, ketidakadilan, dan lain-lain, kemudian ditutup dengan ucapan, "Aku telah berdosa dan memohon pengampunan karena telah membuat-Mu sangat murka."

Setelah itu, sambil tetap mengangkat tangan ke langit, mereka akan mengeluarkan daftar kedua dan berkata, "Tuhan, inilah daftar dosa-Mu kepadaku: Engkau telah membunuh hewan ternakku, Engkau telah membuat cuaca menjadi tidak stabil sehingga panenku berantakan, Engkau telah membuatku harus bekerja ekstra untuk menghidupi keluargaku. Aku telah berdosa kepada-Mu, tapi Engkau juga telah berdosa kepadaku. Biar bagaimana pun, aku akan memaafkan kesalahan-Mu kepadaku, dan kuharap Engkau juga melakukan hal yang sama. Amin."

***

Memaafkan Tuhan, mungkin adalah langkah terjauh yang bisa diambil manusia dalam usahanya untuk mencapai aktualisasi diri. Nyatanya, meminta maaf dan memaafkan memiliki dampak yang begitu besar pada kehidupan seseorang. Para ilmuwan psikologi telah menemukan bahwa orang yang memiliki kemampuan yang baik dalam memaafkan kesalahan orang lain akan lebih mudah mengatasi stres, lebih berpikiran positif, serta merasa lebih bahagia ketimbang mereka yang memiliki hambatan dalam memaafkan. Bahkan, memaafkan juga memiliki efek pada kesehatan jantung, hati, dan tekanan darah. Intinya, perihal maaf-memaafkan ini begitu menyehatkan. Tidak hanya secara psikologis, tetapi juga fisiologis.

Karena itulah kali ini saya ingin meminta maaf. Bukan kepada teman-teman saya, bukan kepada orangtua saya, bukan kepada orang lain, bukan juga kepada Tuhan, tetapi kepada sosok yang memegang peranan paling penting dalam kisah kehidupan saya: diri saya sendiri. Meminta maaf dan memaafkan diri sendiri memiliki keuntungan ganda; perasaan lega yang didapat dari kerendahan hati untuk meminta maaf, dan perasaan lega yang bersumber dari kebesaran hati untuk memaafkan. Maka inilah dia:

Saya ingin meminta maaf pada diri saya sendiri karena: sudah lama sekali saya tidak menulis (atau lebih tepatnya: menyelesaikan tulisan), proyek untuk memproduksi film yang saya canangkan beberapa bulan yang lalu hanya berakhir sebagai wacana, saya telah berkali-kali menyia-nyiakan kesempatan untuk mengembangkan diri, saya telah berlaku dzolim pada buku-buku saya karena telah begitu jarang menyentuh mereka.

Saya juga memaafkan diri saya yang telah melakukan dosa-dosa berupa: sangat jarang jalan-jalan dalam beberapa bulan terakhir, tidak jadi menonton The Radio Dept. saat konser di Jakarta tempo hari, sangat malas berolahraga sehingga saya terkena typus dua hari sebelum ujian masuk pascasarjana.

Wahai diriku, aku telah berdosa kepadamu, tapi engkau juga telah berdosa kepadaku. Biar bagaimana pun, aku akan memaafkan kesalahanmu kepadaku, dan kuharap engkau juga melakukan hal yang sama. Amin.

Wednesday, May 29, 2013

Purnamasidhi

Untuk menyambut Hari Raya Waisak pada tahun 1978, Romo Sindhunata menulis feature yang berjudul "Bulan Datang dan Tersenyum". Dalam tulisannya itu Sindhunata bercerita tentang Mbok Miji, seorang perempuan sepuh yang ia temui di antara iring-iringan yang sedang bergerak dari Candi Pawon menuju Candi Mendut. Alih-alih bergabung dalam iring-iringan, Mbok Miji memilih untuk mengambil jarak dan berjalan terpisah darinya. Alasannya sangat lugu: karena beliau merasa tidak pantas berada di tengah rombongan megah yang penuh dengan orang kota tersebut.

Diceritakan oleh Sindhunata, hari itu langit mendung seharian. Gerimis menemani langkah iring-iringan. Ketika iring-iringan telah sampai di Candi Mendut dan berbagai ritual Waisak telah dilakukan, gerimis serta-merta berubah menjadi hujan deras. Banyak di antara rombongan yang meninggalkan pelataran upacara. Ada yang sekedar mencari tempat berteduh, ada yang kembali ke penginapan terdekat, dan bahkan ada yang kembali ke kota masing-masing. Tapi tidak dengan Mbok Miji. Perempuan sepuh itu tidak bergerak sedikit pun dari posisinya semula.

Melihat hal tersebut, sang romo bertanya kepada Mbok Miji kenapa beliau tidak ikut pulang seperti rombongan yang lain. Mbok Miji menatapnya sambil tersenyum. Dengan Bahasa Jawa kromo, Mbok Miji menjelaskan bahwa beliau sedang menunggu purnama. Beliau sangat yakin purnama akan datang sebentar lagi, tak peduli sederas apa hujan yang turun saat itu. Baginya, purnama adalah "puncak acara" dari Hari Waisak, sehingga alam semesta akan bekerja sekuat tenaga untuk menghadirkannya di hari yang suci itu.

Hujan semakin deras, dan orang-orang semakin banyak yang meninggalkan lokasi. Sepertinya sudah tidak ada harapan sama sekali purnama akan muncul. Di saat orang-orang mendesah, Mbok Miji tetap tersenyum sambil menengadah ke langit. Hujan mulai reda. Langit mulai cerah. Ada sesuatu yang bersinar di atas sana. Benda itu hanya terlihat sedikit. Muncul sedikit lagi, sedikit lagi, kemudian semakin terlihat jelas. Purnama benar-benar muncul, bulat sempurna, sinarnya membanjiri Candi Mendut dengan syahdu.

***

35 tahun kemudian, saya dengan baju yang basah kuyup akhirnya berhasil keluar dari kompleks Candi Borobudur yang super luas itu. Tepat di pintu keluar saya berpapasan dengan sekelompok ibu-ibu tua yang saling bergandengan tangan. Mereka tampak kebingungan. Mungkin mencari kendaraan umum, atau mungkin mencari rombongan lain yang terpisah. Melihat mereka saya langsung teringat Mbok Miji. Jenis manusia sederhana yang hanya memiliki satu tujuan sederhana ketika menghadiri acara keagamaan: untuk beribadah. Mereka yang sambil tersenyum berbondong-bondong datang ke Borobudur untuk bertemu Tuhan, meskipun karpet yang seharusnya menjadi tempat mereka bersimpuh diinjak-injak dan dikotori oleh para turis. Mereka yang dengan khusyuk mendengarkan para biksu melantunkan doa, meskipun para turis asyik tertawa-tawa, bersorak, bernyanyi, bahkan mengumpat dengan enaknya. Mereka yang menghormati para biksu dengan sepenuh hati, meskipun, lagi-lagi, para turis dengan angkuhnya mengotori altar sambil menodongkan lensa dan lampu blitz ke wajah para biksu yang sedang berusaha berkonsentrasi.

Pada Hari Waisak tahun ini tidak ada tanda hujan bakal reda, dan dalam hati saya bersyukur untuk itu. Alam semesta sedang menjalankan skenarionya untuk mengembalikan kesucian Waisak di Borobudur dari gangguan bakteri-bakteri yang hanya mementingkan diri mereka sendiri. Semoga tahun depan para turis yang hanya peduli dengan lampion kapok untuk datang kembali. Semoga umat Buddha dapat merasakan kembali kedamaian dan kesyahduan di Hari Waisak yang telah direnggut dengan begitu sadisnya tahun ini. Dan, ini doa yang paling berat, semoga sikap saling menghormati tidak hanya ada di buku PPKn. Amin.

the awkward truth #8

"People always end up the way they started out. No one ever changes. They think they do but they don't. If you're the depressed type now that's the way you'll always be. If you're the mindless happy type now, that's the way you'll be when you grow up. You might lose some weight, your face may clear up, get a body tan, breast enlargement, a sex change, it makes no difference. Whether you're 13 or 50, you will always be the same."
-Mark Wiener, Palindromes

Tuesday, May 21, 2013

Hyperballad

We live on a mountain
Right at the top
There's a beautiful view
From the top of the mountain
Every morning I walk towards the edge
And throw little things off
Like car-parts, bottles and cutlery
or whatever I find lying around
It's become a habit
A way to start the day

I go through all this
Before you wake me up
So I can feel happier
To be safe up here with you
 

It's real early morning
No one is awake
I'm back at my cliff
Still throwing things off
I listen to the sounds they make
On their way down
I follow with my eyes 'til they crash
I imagine what my body would sound like
Slamming against those rocks
and when it lands
Will my eyes
Be closed or open?

I go through all this
Before you wake me up
So I can feel happier
To be safe up here with you

***

Saya bukan penggemar Björk, jadi hanya tahu beberapa lagunya, dan Hyper-Ballad (atau Hyperballad, saya lebih suka menulisnya begitu) bukanlah salah satunya. Makanya ketika pertama kali mendengarkan Mocca membawakan lagu ini di album Colours, saya tidak tahu kalau itu adalah cover version. Meskipun saya curiga karena sangat tidak biasanya Mocca menulis lirik seganjil dan sekelam itu.

Saya pernah membahas lagu ini bersama pacar saya. Waktu itu dia menganggap liriknya bercerita tentang bunuh diri, sementara saya merasa ada pesan yang lebih samar dalam liriknya, lebih dari sekedar bunuh diri. Tapi karena saya tidak bisa menebak lebih jauh, akhirnya saat itu saya sepakat saja.

Dari semua musisi yang meng-cover lagu ini, dari mulai Yeah Yeah Yeahs, Dirty Projectors, The Twilight Singers, sampai Big Heavy Stuff, menurut saya versi Mocca adalah yang paling pas. Semua musisi yang pernah membawakan lagu ini membawakannya dengan ceria (persis seperti versi aslinya), dan hanya dalam versi Mocca-lah saya mendengarkan kegetiran terselip di dalamnya.

Dua hari yang lalu Mocca manggung di Jogja. Malam itu saya beberapa kali berdoa (dalam arti sebenarnya) agar mereka membawakan Hyperballad. Entah berkat doa saya atau bukan, mereka betulan membawakan lagu itu! Sebelum nyanyi, Arina sempat ngomong begini, "Waktu pertama kali dengerin lagu ini saya gak tahu ini lagunya tentang apa, setelah saya nyanyiin akhirnya saya tahu, ooh begitu toh maksudnya..." Saya dan pacar saya saling bertatapan penuh arti, kemudian kami berusaha mendengarkan musik dan liriknya sekhusyuk mungkin.

Di tengah-tengah lagu pacar saya dengan semangatnya bilang kalau dia akhirnya tahu artinya. Menurutnya lagu itu bercerita tentang seseorang yang harus melewati berbagai fase yang melelahkan sekaligus mengerikan untuk bisa bahagia bersama seseorang yang dicintainya. Dan tidak bisa tidak, dia harus melewati semua fase itu dulu. Bukan pilihan, tapi keharusan. Semacam harus melewati badai super ganas dulu sebelum bisa mencapai perairan yang tenang menuju gugusan pulau berpasir putih yang hangat. Menurut saya itu agak klise.

Akhirnya saya melakukan perbuatan khas masyarakat modern ketika penasaran dengan sesuatu: googling! Ada banyak interpretasi tentang lagu ini di internet. Ada yang mengatakan lagu ini bercerita tentang hubungan vertikal antara manusia dengan Tuhan dan alam semesta, ada yang mengartikan "gunung" dalam liriknya sebagai simbol dari ego manusia, bahkan ada yang menghubungkannya dengan keadaan high yang dialami seseorang setelah mengisap ganja. Björk sendiri mengatakan lagu ini adalah tentang hal-hal yang kadang harus dilakukan oleh seseorang untuk menjaga keseimbangan dalam suatu hubungan yang sudah berjalan cukup lama. Hal-hal yang hanya bisa dilakukan sendirian. Hal-hal yang terkadang tidak pantas, mengerikan, dan bahkan destruktif. Segala hal abnormal yang justru harus dilakukan untuk menjaga kenormalan.

Apapun arti sesungguhnya, lagu ini selalu menyisakan perasaan yang aneh buat saya setiap kali mendengarnya. Perasaan yang merupakan campuran antara sedih, lega, perih, kosong, dan senang yang ganjil. Mungkin jenis perasaan yang sama dengan perasaan ketika kita duduk di bawah pohon yang rimbun setelah kita memutuskan untuk tidak jadi melompat ke jurang setelah teringat hari itu adalah hari pemutaran perdana film yang telah kita tunggu sepanjang tahun. Entahlah. 
*Saya ga bawa kamera, jadi minjem foto punya temen saya, Gebi.

Monday, April 22, 2013

My Top 6 Woody Allen Films

Perkenalan pertama saya dengan Woody Allen adalah ketika beberapa tahun yang lalu mas-mas penjaga Universal (rental film) merekomendasikan Cassandra's Dream waktu saya nanya, "judul apa yang paling pas buat mulai ngonsumsi film-filmnya Woody Allen?" Rekomendasi yang salah, karena menurut saya film itu jelek banget, bikin saya kapok buat nonton filmnya yang lain.

Baru beberapa tahun kemudian saya ditakdirkan untuk nonton filmnya yang "benar", Midnight in Paris, di acara nonton bareng di perpustakaan seorang kawan. Setelah malam itu saya bertekad untuk berburu film-filmnya yang lain. Sebuah tekad yang tak pernah saya sesali, karena sekarang saya benar-benar jatuh cinta pada Woody Allen.

Dari sekitar 40-an judul film (atau sekitar 70-an judul jika serial TV dan film TV ikut dihitung) yang ditulis dan/atau disutradarainya, saat ini baru ada 25 judul yang saya centang di akun icheckmovies saya. Maka sebenarnya kurang pas jika saya membuat daftar semacam ini, karena saya belum menonton semuanya. Tapi berhubung saya selo, inilah 6 film Woody Allen terbaik menurut saya (sejauh ini):

6. Oedipus Wrecks, dalam New York Stories (1989)
New York Stories adalah proyek film keroyokan yang dibuat oleh Francis Ford Coppola, Martin Scorsese, dan Woody Allen. Oedipus Wrecks, segmen yang ditulis dan disutradarai oleh Woody Allen adalah film pertama yang benar-benar membuat saya jatuh cinta padanya, sekaligus mengenalkan saya pada karakter neurotic yang selalu diperankan oleh Woody Allen sendiri yang muncul pada sebagian besar filmnya. Ceritanya tentang Sheldon, laki-laki neurotic yang suatu hari pergi ke pertunjukan sulap bersama ibu dan pacarnya. Si ibu diminta masuk ke dalam kotak ajaib oleh si pesulap di atas panggung, kemudian hilang secara misterius. Bahkan si pesulap pun tidak tahu ke mana perginya. Besoknya si ibu muncul sebagai bayangan raksasa di langit. Yang pertama muncul dalam kepala saya ketika melihat adegan itu adalah, "WTF? Cerita apaan nih?" Tapi lama-lama saya mulai menikmatinya, tertawa sepanjang film, dan tersenyum puas di akhir cerita. Besoknya saya nonton ulang, dan yakin kalau Woody Allen tu jenius.

5. Husbands and Wives (1992)
Banyak film yang membuat orang menjadi apatis terhadap hubungan romantis setelah menontonnya, tapi saya yakin tidak ada yang efeknya sebesar film ini. Dunia Husbands and Wives berputar di antara dua pasangan yang berteman sangat dekat, Gabe-Judy dan Jack-Sally. Di suatu hari yang cerah, tanpa tedeng aling-aling, Jack dan Sally tiba-tiba memutuskan untuk berpisah. Sebuah keputusan yang mengguncang dunia milik mereka berempat, karena berbagai masalah yang selama ini dipendam dengan rapi tiba-tiba keluar secara serempak. Ditambah dengan hadirnya tokoh-tokoh yang membuat pertanyaan-pertanyaan semacam "apakah aku bahagia menikah dengannya?" semakin sering berdengung di kepala. Dari tema dan cerita yang sederhana ini Woody Allen seolah ingin berkata bahwa kegelisahan yang dirasakan oleh pasangan ketika menjalani kehidupan pasca-pernikahan adalah hal yang wajar, atau bahkan sebuah keniscayaan. Kenapa saya memasukkan film pesimistis ini ke dalam daftar ini? Sederhana, karena mungkin ini adalah film paling jujur yang pernah saya tonton.

4. Match Point (2005)
Woody Allen pernah ditanya, dari semua film yang pernah dia buat, mana yang paling disukainya. The Purple Rose of Cairo, Bullets Over Broadway, dan Vicky Cristina Barcelona adalah beberapa di antaranya. Tapi konon, dari semuanya yang paling dia suka adalah Match Point. Film ini adalah satu dari sebagian kecil film Woody Allen yang bernuansa gelap, serius, sekaligus satir di waktu yang sama. Keserakahan dan ketidakpuasan (atau meminjam istilah Woody Allen: chronic dissatisfaction) yang membayangi kepala manusia menjadi tema yang kuat di sini. Bercerita tentang seorang petenis profesional yang hijrah ke London, menjadi pelatih pribadi, kemudian jatuh cinta pada tunangan temannya sendiri. Di awal film, ada analogi tentang bola tenis yang tepat menyentuh net ketika dipukul. Apakah bola itu kemudian akan jatuh ke sisi lawan atau malah kembali ke sisi si pemukul sangat bergantung pada keberuntungan. Di akhir film, analogi itu diterjemahkan dengan begitu apik! Film ini punya cerita dan dialog yang kuat. Akting para pemainnya juga bagus, terutama Scarlett Johansson. Tapi tetap saja, menurut saya bagian terbaik dari film ini adalah endingnya, sebuah twist yang merupakan muara dari segala kekacauan dan konflik dari tokoh-tokoh di dalamnya.

3. Sweet and Lowdown (1999)
Saya suka banget aktingnya Sean Penn di sini. Bahkan secara pribadi, saya menganggap aktingnya di I Am Sam yang fantastis itu masih kalah membekas dibanding aktingnya di sini. Sean Penn berperan sebagai Emmet Ray, seorang gitaris legendaris yang hidup pada tahun 1930-an. Emmet Ray menganggap dirinya adalah gitaris terhebat nomor dua di dunia. Nomor satunya adalah seorang gipsi dari Prancis bernama Django Reinhardt (ini tokoh nyata), orang yang mampu membuat Emmet pingsan setiap kali melihatnya bermain gitar. Emmet tidak pernah mau terikat dengan wanita atau hal-hal duniawi lainnya karena menurutnya seniman tidak membutuhkan itu semua. Hal itu yang membuat dirinya menjadi sosok yang arogan, angkuh, dan nyaris tidak memiliki emosi. Tapi perlahan Emmet merasakan perlahan ada yang berubah dalam dirinya setelah dia menjalin hubungan yang intens dengan Hattie, seorang perempuan bisu dengan kecerdasan yang cukup rendah. Yang menarik adalah, dengan skill bermain gitarnya yang tak pernah diragukan oleh siapa pun, Emmet menyadari ada satu yang kurang pada musiknya: kehadiran emosi. Entah mengapa, sosok Emmet Ray mengingatkan saya pada karakter Ian Curtis di film Control.

2. Zelig (1983)
Jika ada film yang membuat saya menyesal kenapa tidak menontonnya saat masih kuliah, itu adalah Zelig!. Dalam sebuah wawancara, Woody Allen pernah melabeli dirinya sebagai "Militant Freudian Atheist", dan film ini menegaskan pernyataan itu. Woody Allen adalah seorang Freudian sejati! Film ini adalah sebuah "dokumenter" tentang tokoh fiktif bernama Leonard Zelig (Woody Allen), seorang laki-laki misterius yang dijuluki sebagai 'manusia bunglon' karena kemampuannya untuk beradaptasi secara instan dengan lingkungannya, termasuk secara fisik. Jika berada di tengah musisi jazz berkulit hitam, dia akan berubah menjadi negro yang jago bermain saksofon. Jika berada di tengah sekumpulan Yahudi bertubuh tambun, dia akan segera berubah menjadi rabbi obesitas. Film ini menjadi menarik ketika hadir tokoh bernama Dr. Eudora Nesbitt, seorang psikiater yang tertarik untuk meneliti kasus si manusia bunglon. Dr. Eudora menggunakan teknik-teknik psikoanalisa dalam psikoterapinya. Melibatkan alam bawah sadar, hipnotis, asosiasi bebas, dll. Sungguh sebuah kuliah psikologi paling menyenangkan yang pernah saya tonton. Jika suatu hari saya jadi dosen psikologi, saya akan bilang begini kepada mahasiswa saya: "Lupakan A Beautiful Mind, lupakan Identity, lupakan Running with Scissors, mulai sekarang kalian saya wajibkan nonton Zelig!"

1. Stardust Memories (1980)
Ini adalah salah satu film favorit saya sepanjang masa! Yang bisa mengalahkan pesonanya di mata saya mungkin hanya Star Wars. Woody Allen selalu bilang bahwa dia sangat mengidolakan Federico Fellini, sutradara jenius asal Itali yang membuat , film yang susah banget saya cerna walau sudah nonton berkali-kali. Stardust Memories bercerita tentang Sandy Bates (yang diperankan oleh... Woody Allen. Siapa lagi?), seorang sutradara yang tidak mau lagi membuat film komedi setelah teman baiknya meninggal. Kematian temannya itu bukan hanya membuatnya sangat down, tapi juga menjadi titik balik dalam hidupnya di mana dia mempertanyakan kembali arti hidupnya dan semua film yang telah dia buat. Berhubung Woody Allen sendiri bilang film ini bisa dibilang semacam tribute kepada , ada banyak referensi dari film itu yang bakal kita temui di sini. Hitam-putih, tokoh utama seorang sutradara, dan visualisasi mimpi serta cuplikan-cuplikan film absurd si sutradara yang kerap dimunculkan adalah beberapa di antaranya. Meskipun Woody Allen dengan rendah hati bilang Stardust Memories tu 4, atau dengan kata lain, tidak sampai setengahnya jika dibandingkan dengan 8½, di mata saya film ini berada di level sempurna.

Friday, April 19, 2013

bus malam

“Anda mau ke mana?” tanya kondektur.
“Ke barat.”
“Tapi bus ini tidak menuju barat.”
“Ya sudah, ke timur saja.”
“Tidak ke timur juga.”
“Utara?”
“Tidak.”
“Selatan?”
Sang kondektur menggeleng.
“Lalu ke mana?” tanyaku.
“Ke atas.”
“Ke atas?”
“Ya, ke atas.”
“Ke arah bukit?”
“Bukan, lebih tinggi lagi."
"Puncak gunung?"
"Jauh lebih tinggi lagi."
"Ke mana sih? Bulan?"
"Ya, tidak jauh lah dari situ."
"Terserah deh. Saya ikut ke mana saja."
"Sudah punya tiket?"
"Belum, tadi saya tidak sempat beli. Bayar di sini saja ya? Berapa harganya?"
"Tidak pakai uang, Tuan."
"Lantas?"
Sang kondektur tersenyum sambil menunjuk dadanya. Pintu tertutup secara otomatis, perlahan bus mulai merangkak. Seketika aku merasa hatiku begitu... damai. Eh bukan, bukan damai, kosong lebih tepatnya.
"Selamat menikmati perjalanan, Tuan..."

Monday, April 8, 2013

Negeri Berdebu III: Epilog?

Sebenarnya masih sangat banyak yang ingin saya ceritakan tentang tanah Arab, tetapi tiba-tiba saya kehilangan mood untuk menuliskannya. Maka untuk menutup rangkaian tulisan tentang Negeri Berdebu yang prematur ini, biarkan foto-foto ini saja yang menggantikan saya bercerita. Salam.


















*Beberapa dari foto di atas juga ada di sini.