Friday, September 20, 2013
Dial A for Analog #1
Saya kasihan melihat kamera analog saya yang sudah lama sekali tidak disentuh. Lensanya mulai berjamur, cat di body-nya semakin banyak yang mengelupas. Bukan apa-apa, harga cuci film di tempat langganan saya sekarang naudzubillah mahalnya: 30 ribu! Belum lagi beli film-nya. Berhubung beberapa waktu yang lalu saya ada sedikit rezeki, ditambah muncul hasrat jeprat-jepret lagi sehabis nonton Pecker, maka bervakansilah saya bersama si FM10. Ini beberapa hasilnya, monggo...
Kamera: Nikon FM10
Film: Kodak ColorPlus 200
Thursday, September 19, 2013
Medianeras: Penyakit itu Bernama Kesepian
Di tengah rimba beton dan besi bernama Buenos Aires, hiduplah dua manusia yang didera penyakit bernama kesepian. Mereka --masing-masing bernama Martin dan Mariana-- sama-sama menarik diri dari masyarakat dan mengerucutkan dunia mereka menjadi sesempit kamar apartemen. Di kamar mereka masing-masinglah, dua manusia ini berusaha melakukan coping terhadap penyakit yang bersumber dari masalah yang sama: patah hati.
Martin adalah seorang web designer, setelah ditinggal kekasihnya ke Amerika, dia menjadi orang asing yang terobsesi dengan internet dan membeli barang-barang tidak berguna yang kemudian membuat kamarnya menjadi lebih sempit dari kamar seorang hikikomori. Sedangkan Mariana adalah seorang arsitek yang lebih banyak berinteraksi dengan manekin di kamarnya ketimbang dengan manusia setelah dia berpisah dengan pacarnya empat tahun yang lalu.
Kita semua tahu bagaimana kisah semacam ini akan berakhir. Dua manusia yang kesepian ini akan bertemu, merasa cocok, hidup bersama, dan kemungkinan besar akan hidup bahagia selamanya. Ending-nya memang seperti itu, dan saya sudah tahu sejak awal, tapi cerita tentang bagaimana mereka berjuang untuk menjaga kewarasan di dunianya masing-masing sebelum akhirnya mereka berdua bertemulah yang menjadi begitu menarik untuk ditonton.
Konon, ketika diturunkan ke Bumi, Adam terdampar di India, sedangkan Hawa tersesat di Arab. Mereka membutuhkan waktu puluhan tahun sebelum akhirnya bertemu. Berbeda dengan nenek moyangnya, Martin dan Mariana tinggal di apartemen yang hanya dipisahkan oleh jalan raya, tapi jaraknya terasa lebih jauh daripada India-Arab dengan usaha untuk mengasingkan diri yang kuat dari keduanya. Plus, jangan lupa, mereka hidup di belantara kota, tempat di mana untuk menemukan diri sendiri saja susahnya bukan main, apalagi menemukan orang lain. Seperti yang dikatakan oleh Mariana suatu ketika: "If I can't find a person when I know who I'm looking for, how can I find a person when I don't know who I'm looking for?"
Film ini juga menyoroti dampak internet dan teknologi yang bertanggungjawab terhadap munculnya alien-alien di dunia. Klise memang, tapi terasa segar karena dibalut dengan bahasa visual yang indah dan dialog-dialog yang jujur. "The Internet brings me closer to the world, but further from life," kata Martin.
Secara keseluruhan, saya sangat suka film ini. Meskipun tema dan aktingnya biasa saja, tapi seperti yang saya bilang di atas: bahasa visualnya indah, dan unik. Pada beberapa bagian kita malah hanya akan disuguhi oleh slide show foto yang diberi narasi. Akhir kata, seperti biasa, selamat menonton!
Martin adalah seorang web designer, setelah ditinggal kekasihnya ke Amerika, dia menjadi orang asing yang terobsesi dengan internet dan membeli barang-barang tidak berguna yang kemudian membuat kamarnya menjadi lebih sempit dari kamar seorang hikikomori. Sedangkan Mariana adalah seorang arsitek yang lebih banyak berinteraksi dengan manekin di kamarnya ketimbang dengan manusia setelah dia berpisah dengan pacarnya empat tahun yang lalu.
Kita semua tahu bagaimana kisah semacam ini akan berakhir. Dua manusia yang kesepian ini akan bertemu, merasa cocok, hidup bersama, dan kemungkinan besar akan hidup bahagia selamanya. Ending-nya memang seperti itu, dan saya sudah tahu sejak awal, tapi cerita tentang bagaimana mereka berjuang untuk menjaga kewarasan di dunianya masing-masing sebelum akhirnya mereka berdua bertemulah yang menjadi begitu menarik untuk ditonton.
Konon, ketika diturunkan ke Bumi, Adam terdampar di India, sedangkan Hawa tersesat di Arab. Mereka membutuhkan waktu puluhan tahun sebelum akhirnya bertemu. Berbeda dengan nenek moyangnya, Martin dan Mariana tinggal di apartemen yang hanya dipisahkan oleh jalan raya, tapi jaraknya terasa lebih jauh daripada India-Arab dengan usaha untuk mengasingkan diri yang kuat dari keduanya. Plus, jangan lupa, mereka hidup di belantara kota, tempat di mana untuk menemukan diri sendiri saja susahnya bukan main, apalagi menemukan orang lain. Seperti yang dikatakan oleh Mariana suatu ketika: "If I can't find a person when I know who I'm looking for, how can I find a person when I don't know who I'm looking for?"
Film ini juga menyoroti dampak internet dan teknologi yang bertanggungjawab terhadap munculnya alien-alien di dunia. Klise memang, tapi terasa segar karena dibalut dengan bahasa visual yang indah dan dialog-dialog yang jujur. "The Internet brings me closer to the world, but further from life," kata Martin.
Secara keseluruhan, saya sangat suka film ini. Meskipun tema dan aktingnya biasa saja, tapi seperti yang saya bilang di atas: bahasa visualnya indah, dan unik. Pada beberapa bagian kita malah hanya akan disuguhi oleh slide show foto yang diberi narasi. Akhir kata, seperti biasa, selamat menonton!
Monday, August 26, 2013
Apologia #2
Dalam "The Devil and Miss Prym", Paulo Coelho berkisah tentang sebuah desa bernama Viscos. Desa tersebut dihuni oleh berbagai jenis penjahat dan sampah masyarakat, mulai dari pembunuh kelas kakap, perampok, penipu ulung, hingga pelacur. Ahab, seorang penjahat paling hebat sekaligus kepala desa tersebut, suatu hari bertobat dan menjadi pemeluk Katolik yang taat setelah mengalami serangkaian kejadian dan bertemu dengan orang suci bernama St. Savin.
Ahab yang telah bertobat kemudian ingin mengubah seluruh warga desanya menjadi manusia yang lebih baik. Sebagai mantan penjahat, dia menyadari bahwa warganya tidak akan serta-merta berubah hanya dengan diiming-imingi surga dan diancam dengan neraka. Karena pada dasarnya mereka adalah para penjahat, dan penjahat tidak pernah peduli dengan semua itu. Salah satu cara Ahab untuk membuat warganya kembali mengingat Tuhan adalah dengan membuat Hari Raya Perdamaian. Perayaan yang dipelajarinya dari orang Yahudi ini telah dimodifikasi sedemikian rupa olehnya agar pas untuk diterapkan warga desanya yang merasa memiliki masalah "personal" dengan Tuhan.
Dalam sekali dalam setahun, masing-masing warga mengunci diri di rumah masing-masing. Sebelumnya mereka telah membuat dua macam daftar yang akan mereka bacakan. Pertama, mereka akan mengeluarkan satu daftar sambil mengangkat tangan ke langit dan berkata, "Tuhan, inilah daftar dosaku kepada-Mu." Kemudian mereka membacakan daftar dosa mereka. Dari mulai penipuan, perzinahan, ketidakadilan, dan lain-lain, kemudian ditutup dengan ucapan, "Aku telah berdosa dan memohon pengampunan karena telah membuat-Mu sangat murka."
Setelah itu, sambil tetap mengangkat tangan ke langit, mereka akan mengeluarkan daftar kedua dan berkata, "Tuhan, inilah daftar dosa-Mu kepadaku: Engkau telah membunuh hewan ternakku, Engkau telah membuat cuaca menjadi tidak stabil sehingga panenku berantakan, Engkau telah membuatku harus bekerja ekstra untuk menghidupi keluargaku. Aku telah berdosa kepada-Mu, tapi Engkau juga telah berdosa kepadaku. Biar bagaimana pun, aku akan memaafkan kesalahan-Mu kepadaku, dan kuharap Engkau juga melakukan hal yang sama. Amin."
Karena itulah kali ini saya ingin meminta maaf. Bukan kepada teman-teman saya, bukan kepada orangtua saya, bukan kepada orang lain, bukan juga kepada Tuhan, tetapi kepada sosok yang memegang peranan paling penting dalam kisah kehidupan saya: diri saya sendiri. Meminta maaf dan memaafkan diri sendiri memiliki keuntungan ganda; perasaan lega yang didapat dari kerendahan hati untuk meminta maaf, dan perasaan lega yang bersumber dari kebesaran hati untuk memaafkan. Maka inilah dia:
Saya ingin meminta maaf pada diri saya sendiri karena: sudah lama sekali saya tidak menulis (atau lebih tepatnya: menyelesaikan tulisan), proyek untuk memproduksi film yang saya canangkan beberapa bulan yang lalu hanya berakhir sebagai wacana, saya telah berkali-kali menyia-nyiakan kesempatan untuk mengembangkan diri, saya telah berlaku dzolim pada buku-buku saya karena telah begitu jarang menyentuh mereka.
Saya juga memaafkan diri saya yang telah melakukan dosa-dosa berupa: sangat jarang jalan-jalan dalam beberapa bulan terakhir, tidak jadi menonton The Radio Dept. saat konser di Jakarta tempo hari, sangat malas berolahraga sehingga saya terkena typus dua hari sebelum ujian masuk pascasarjana.
Wahai diriku, aku telah berdosa kepadamu, tapi engkau juga telah berdosa kepadaku. Biar bagaimana pun, aku akan memaafkan kesalahanmu kepadaku, dan kuharap engkau juga melakukan hal yang sama. Amin.
Ahab yang telah bertobat kemudian ingin mengubah seluruh warga desanya menjadi manusia yang lebih baik. Sebagai mantan penjahat, dia menyadari bahwa warganya tidak akan serta-merta berubah hanya dengan diiming-imingi surga dan diancam dengan neraka. Karena pada dasarnya mereka adalah para penjahat, dan penjahat tidak pernah peduli dengan semua itu. Salah satu cara Ahab untuk membuat warganya kembali mengingat Tuhan adalah dengan membuat Hari Raya Perdamaian. Perayaan yang dipelajarinya dari orang Yahudi ini telah dimodifikasi sedemikian rupa olehnya agar pas untuk diterapkan warga desanya yang merasa memiliki masalah "personal" dengan Tuhan.
Dalam sekali dalam setahun, masing-masing warga mengunci diri di rumah masing-masing. Sebelumnya mereka telah membuat dua macam daftar yang akan mereka bacakan. Pertama, mereka akan mengeluarkan satu daftar sambil mengangkat tangan ke langit dan berkata, "Tuhan, inilah daftar dosaku kepada-Mu." Kemudian mereka membacakan daftar dosa mereka. Dari mulai penipuan, perzinahan, ketidakadilan, dan lain-lain, kemudian ditutup dengan ucapan, "Aku telah berdosa dan memohon pengampunan karena telah membuat-Mu sangat murka."
Setelah itu, sambil tetap mengangkat tangan ke langit, mereka akan mengeluarkan daftar kedua dan berkata, "Tuhan, inilah daftar dosa-Mu kepadaku: Engkau telah membunuh hewan ternakku, Engkau telah membuat cuaca menjadi tidak stabil sehingga panenku berantakan, Engkau telah membuatku harus bekerja ekstra untuk menghidupi keluargaku. Aku telah berdosa kepada-Mu, tapi Engkau juga telah berdosa kepadaku. Biar bagaimana pun, aku akan memaafkan kesalahan-Mu kepadaku, dan kuharap Engkau juga melakukan hal yang sama. Amin."
***
Memaafkan Tuhan, mungkin adalah langkah terjauh yang bisa diambil manusia dalam usahanya untuk mencapai aktualisasi diri. Nyatanya, meminta maaf dan memaafkan memiliki dampak yang begitu besar pada kehidupan seseorang. Para ilmuwan psikologi telah menemukan bahwa orang yang memiliki kemampuan yang baik dalam memaafkan kesalahan orang lain akan lebih mudah mengatasi stres, lebih berpikiran positif, serta merasa lebih bahagia ketimbang mereka yang memiliki hambatan dalam memaafkan. Bahkan, memaafkan juga memiliki efek pada kesehatan jantung, hati, dan tekanan darah. Intinya, perihal maaf-memaafkan ini begitu menyehatkan. Tidak hanya secara psikologis, tetapi juga fisiologis.Karena itulah kali ini saya ingin meminta maaf. Bukan kepada teman-teman saya, bukan kepada orangtua saya, bukan kepada orang lain, bukan juga kepada Tuhan, tetapi kepada sosok yang memegang peranan paling penting dalam kisah kehidupan saya: diri saya sendiri. Meminta maaf dan memaafkan diri sendiri memiliki keuntungan ganda; perasaan lega yang didapat dari kerendahan hati untuk meminta maaf, dan perasaan lega yang bersumber dari kebesaran hati untuk memaafkan. Maka inilah dia:
Saya ingin meminta maaf pada diri saya sendiri karena: sudah lama sekali saya tidak menulis (atau lebih tepatnya: menyelesaikan tulisan), proyek untuk memproduksi film yang saya canangkan beberapa bulan yang lalu hanya berakhir sebagai wacana, saya telah berkali-kali menyia-nyiakan kesempatan untuk mengembangkan diri, saya telah berlaku dzolim pada buku-buku saya karena telah begitu jarang menyentuh mereka.
Saya juga memaafkan diri saya yang telah melakukan dosa-dosa berupa: sangat jarang jalan-jalan dalam beberapa bulan terakhir, tidak jadi menonton The Radio Dept. saat konser di Jakarta tempo hari, sangat malas berolahraga sehingga saya terkena typus dua hari sebelum ujian masuk pascasarjana.
Wahai diriku, aku telah berdosa kepadamu, tapi engkau juga telah berdosa kepadaku. Biar bagaimana pun, aku akan memaafkan kesalahanmu kepadaku, dan kuharap engkau juga melakukan hal yang sama. Amin.
Wednesday, May 29, 2013
Purnamasidhi
Untuk menyambut Hari Raya Waisak pada tahun 1978, Romo Sindhunata menulis feature
yang berjudul "Bulan Datang dan Tersenyum". Dalam tulisannya itu
Sindhunata bercerita tentang Mbok Miji, seorang perempuan sepuh yang ia
temui di antara iring-iringan yang sedang bergerak dari Candi Pawon
menuju Candi Mendut. Alih-alih bergabung dalam iring-iringan, Mbok Miji
memilih untuk mengambil jarak dan berjalan terpisah darinya. Alasannya
sangat lugu: karena beliau merasa tidak pantas berada di tengah
rombongan megah yang penuh dengan orang kota tersebut.
Diceritakan oleh Sindhunata, hari itu langit mendung seharian. Gerimis menemani langkah iring-iringan. Ketika iring-iringan telah sampai di Candi Mendut dan berbagai ritual Waisak telah dilakukan, gerimis serta-merta berubah menjadi hujan deras. Banyak di antara rombongan yang meninggalkan pelataran upacara. Ada yang sekedar mencari tempat berteduh, ada yang kembali ke penginapan terdekat, dan bahkan ada yang kembali ke kota masing-masing. Tapi tidak dengan Mbok Miji. Perempuan sepuh itu tidak bergerak sedikit pun dari posisinya semula.
Melihat hal tersebut, sang romo bertanya kepada Mbok Miji kenapa beliau tidak ikut pulang seperti rombongan yang lain. Mbok Miji menatapnya sambil tersenyum. Dengan Bahasa Jawa kromo, Mbok Miji menjelaskan bahwa beliau sedang menunggu purnama. Beliau sangat yakin purnama akan datang sebentar lagi, tak peduli sederas apa hujan yang turun saat itu. Baginya, purnama adalah "puncak acara" dari Hari Waisak, sehingga alam semesta akan bekerja sekuat tenaga untuk menghadirkannya di hari yang suci itu.
Hujan semakin deras, dan orang-orang semakin banyak yang meninggalkan lokasi. Sepertinya sudah tidak ada harapan sama sekali purnama akan muncul. Di saat orang-orang mendesah, Mbok Miji tetap tersenyum sambil menengadah ke langit. Hujan mulai reda. Langit mulai cerah. Ada sesuatu yang bersinar di atas sana. Benda itu hanya terlihat sedikit. Muncul sedikit lagi, sedikit lagi, kemudian semakin terlihat jelas. Purnama benar-benar muncul, bulat sempurna, sinarnya membanjiri Candi Mendut dengan syahdu.
35 tahun kemudian, saya dengan baju yang basah kuyup akhirnya berhasil keluar dari kompleks Candi Borobudur yang super luas itu. Tepat di pintu keluar saya berpapasan dengan sekelompok ibu-ibu tua yang saling bergandengan tangan. Mereka tampak kebingungan. Mungkin mencari kendaraan umum, atau mungkin mencari rombongan lain yang terpisah. Melihat mereka saya langsung teringat Mbok Miji. Jenis manusia sederhana yang hanya memiliki satu tujuan sederhana ketika menghadiri acara keagamaan: untuk beribadah. Mereka yang sambil tersenyum berbondong-bondong datang ke Borobudur untuk bertemu Tuhan, meskipun karpet yang seharusnya menjadi tempat mereka bersimpuh diinjak-injak dan dikotori oleh para turis. Mereka yang dengan khusyuk mendengarkan para biksu melantunkan doa, meskipun para turis asyik tertawa-tawa, bersorak, bernyanyi, bahkan mengumpat dengan enaknya. Mereka yang menghormati para biksu dengan sepenuh hati, meskipun, lagi-lagi, para turis dengan angkuhnya mengotori altar sambil menodongkan lensa dan lampu blitz ke wajah para biksu yang sedang berusaha berkonsentrasi.
Pada Hari Waisak tahun ini tidak ada tanda hujan bakal reda, dan dalam hati saya bersyukur untuk itu. Alam semesta sedang menjalankan skenarionya untuk mengembalikan kesucian Waisak di Borobudur dari gangguan bakteri-bakteri yang hanya mementingkan diri mereka sendiri. Semoga tahun depan para turis yang hanya peduli dengan lampion kapok untuk datang kembali. Semoga umat Buddha dapat merasakan kembali kedamaian dan kesyahduan di Hari Waisak yang telah direnggut dengan begitu sadisnya tahun ini. Dan, ini doa yang paling berat, semoga sikap saling menghormati tidak hanya ada di buku PPKn. Amin.
Diceritakan oleh Sindhunata, hari itu langit mendung seharian. Gerimis menemani langkah iring-iringan. Ketika iring-iringan telah sampai di Candi Mendut dan berbagai ritual Waisak telah dilakukan, gerimis serta-merta berubah menjadi hujan deras. Banyak di antara rombongan yang meninggalkan pelataran upacara. Ada yang sekedar mencari tempat berteduh, ada yang kembali ke penginapan terdekat, dan bahkan ada yang kembali ke kota masing-masing. Tapi tidak dengan Mbok Miji. Perempuan sepuh itu tidak bergerak sedikit pun dari posisinya semula.
Melihat hal tersebut, sang romo bertanya kepada Mbok Miji kenapa beliau tidak ikut pulang seperti rombongan yang lain. Mbok Miji menatapnya sambil tersenyum. Dengan Bahasa Jawa kromo, Mbok Miji menjelaskan bahwa beliau sedang menunggu purnama. Beliau sangat yakin purnama akan datang sebentar lagi, tak peduli sederas apa hujan yang turun saat itu. Baginya, purnama adalah "puncak acara" dari Hari Waisak, sehingga alam semesta akan bekerja sekuat tenaga untuk menghadirkannya di hari yang suci itu.
Hujan semakin deras, dan orang-orang semakin banyak yang meninggalkan lokasi. Sepertinya sudah tidak ada harapan sama sekali purnama akan muncul. Di saat orang-orang mendesah, Mbok Miji tetap tersenyum sambil menengadah ke langit. Hujan mulai reda. Langit mulai cerah. Ada sesuatu yang bersinar di atas sana. Benda itu hanya terlihat sedikit. Muncul sedikit lagi, sedikit lagi, kemudian semakin terlihat jelas. Purnama benar-benar muncul, bulat sempurna, sinarnya membanjiri Candi Mendut dengan syahdu.
***
35 tahun kemudian, saya dengan baju yang basah kuyup akhirnya berhasil keluar dari kompleks Candi Borobudur yang super luas itu. Tepat di pintu keluar saya berpapasan dengan sekelompok ibu-ibu tua yang saling bergandengan tangan. Mereka tampak kebingungan. Mungkin mencari kendaraan umum, atau mungkin mencari rombongan lain yang terpisah. Melihat mereka saya langsung teringat Mbok Miji. Jenis manusia sederhana yang hanya memiliki satu tujuan sederhana ketika menghadiri acara keagamaan: untuk beribadah. Mereka yang sambil tersenyum berbondong-bondong datang ke Borobudur untuk bertemu Tuhan, meskipun karpet yang seharusnya menjadi tempat mereka bersimpuh diinjak-injak dan dikotori oleh para turis. Mereka yang dengan khusyuk mendengarkan para biksu melantunkan doa, meskipun para turis asyik tertawa-tawa, bersorak, bernyanyi, bahkan mengumpat dengan enaknya. Mereka yang menghormati para biksu dengan sepenuh hati, meskipun, lagi-lagi, para turis dengan angkuhnya mengotori altar sambil menodongkan lensa dan lampu blitz ke wajah para biksu yang sedang berusaha berkonsentrasi.
Pada Hari Waisak tahun ini tidak ada tanda hujan bakal reda, dan dalam hati saya bersyukur untuk itu. Alam semesta sedang menjalankan skenarionya untuk mengembalikan kesucian Waisak di Borobudur dari gangguan bakteri-bakteri yang hanya mementingkan diri mereka sendiri. Semoga tahun depan para turis yang hanya peduli dengan lampion kapok untuk datang kembali. Semoga umat Buddha dapat merasakan kembali kedamaian dan kesyahduan di Hari Waisak yang telah direnggut dengan begitu sadisnya tahun ini. Dan, ini doa yang paling berat, semoga sikap saling menghormati tidak hanya ada di buku PPKn. Amin.
the awkward truth #8
"People always end up the way they started out. No one ever changes. They
think they do but they don't. If you're the depressed type now that's
the way you'll always be. If you're the mindless happy type now, that's
the way you'll be when you grow up. You might lose some weight, your
face may clear up, get a body tan, breast enlargement, a sex change, it
makes no difference. Whether
you're 13 or 50, you will always be the same."
-Mark Wiener, Palindromes

-Mark Wiener, Palindromes

Tuesday, May 21, 2013
Hyperballad
We live on a mountain
Right at the top
There's a beautiful view
From the top of the mountain
Every morning I walk towards the edge
And throw little things off
Like car-parts, bottles and cutlery
or whatever I find lying around
It's become a habit
A way to start the day
Right at the top
There's a beautiful view
From the top of the mountain
Every morning I walk towards the edge
And throw little things off
Like car-parts, bottles and cutlery
or whatever I find lying around
It's become a habit
A way to start the day
I go through all this
Before you wake me up
So I can feel happier
To be safe up here with you
It's real early morning
No one is awake
I'm back at my cliff
Still throwing things off
I listen to the sounds they make
On their way down
I follow with my eyes 'til they crash
I imagine what my body would sound like
Slamming against those rocks
and when it lands
Will my eyes
Be closed or open?
No one is awake
I'm back at my cliff
Still throwing things off
I listen to the sounds they make
On their way down
I follow with my eyes 'til they crash
I imagine what my body would sound like
Slamming against those rocks
and when it lands
Will my eyes
Be closed or open?
I go through all this
Before you wake me up
So I can feel happier
To be safe up here with you
***
Saya bukan penggemar Björk, jadi hanya tahu beberapa lagunya, dan Hyper-Ballad (atau Hyperballad, saya lebih suka menulisnya begitu) bukanlah salah satunya. Makanya ketika pertama kali mendengarkan Mocca membawakan lagu ini di album Colours, saya tidak tahu kalau itu adalah cover version. Meskipun saya curiga karena sangat tidak biasanya Mocca menulis lirik seganjil dan sekelam itu.
Dari semua musisi yang meng-cover lagu ini, dari mulai Yeah Yeah Yeahs, Dirty Projectors, The Twilight Singers, sampai Big Heavy Stuff, menurut saya versi Mocca adalah yang paling pas. Semua musisi yang pernah membawakan lagu ini membawakannya dengan ceria (persis seperti versi aslinya), dan hanya dalam versi Mocca-lah saya mendengarkan kegetiran terselip di dalamnya.
Dua hari yang lalu Mocca manggung di Jogja. Malam itu saya beberapa kali berdoa (dalam arti sebenarnya) agar mereka membawakan Hyperballad. Entah berkat doa saya atau bukan, mereka betulan membawakan lagu itu! Sebelum nyanyi, Arina sempat ngomong begini, "Waktu pertama kali dengerin lagu ini saya gak tahu ini lagunya tentang apa, setelah saya nyanyiin akhirnya saya tahu, ooh begitu toh maksudnya..." Saya dan pacar saya saling bertatapan penuh arti, kemudian kami berusaha mendengarkan musik dan liriknya sekhusyuk mungkin.
Di tengah-tengah lagu pacar saya dengan semangatnya bilang kalau dia akhirnya tahu artinya. Menurutnya lagu itu bercerita tentang seseorang yang harus melewati berbagai fase yang melelahkan sekaligus mengerikan untuk bisa bahagia bersama seseorang yang dicintainya. Dan tidak bisa tidak, dia harus melewati semua fase itu dulu. Bukan pilihan, tapi keharusan. Semacam harus melewati badai super ganas dulu sebelum bisa mencapai perairan yang tenang menuju gugusan pulau berpasir putih yang hangat. Menurut saya itu agak klise.
Akhirnya saya melakukan perbuatan khas masyarakat modern ketika penasaran dengan sesuatu: googling! Ada banyak interpretasi tentang lagu ini di internet. Ada yang mengatakan lagu ini bercerita tentang hubungan vertikal antara manusia dengan Tuhan dan alam semesta, ada yang mengartikan "gunung" dalam liriknya sebagai simbol dari ego manusia, bahkan ada yang menghubungkannya dengan keadaan high yang dialami seseorang setelah mengisap ganja. Björk sendiri mengatakan lagu ini adalah tentang hal-hal yang kadang harus dilakukan oleh seseorang untuk menjaga keseimbangan dalam suatu hubungan yang sudah berjalan cukup lama. Hal-hal yang hanya bisa dilakukan sendirian. Hal-hal yang terkadang tidak pantas, mengerikan, dan bahkan destruktif. Segala hal abnormal yang justru harus dilakukan untuk menjaga kenormalan.
Apapun arti sesungguhnya, lagu ini selalu menyisakan perasaan yang aneh buat saya setiap kali mendengarnya. Perasaan yang merupakan campuran antara sedih, lega, perih, kosong, dan senang yang ganjil. Mungkin jenis perasaan yang sama dengan perasaan ketika kita duduk di bawah pohon yang rimbun setelah kita memutuskan untuk tidak jadi melompat ke jurang setelah teringat hari itu adalah hari pemutaran perdana film yang telah kita tunggu sepanjang tahun. Entahlah.
*Saya ga bawa kamera, jadi minjem foto punya temen saya, Gebi.
Subscribe to:
Posts (Atom)









