Wednesday, May 29, 2013

the awkward truth #8

"People always end up the way they started out. No one ever changes. They think they do but they don't. If you're the depressed type now that's the way you'll always be. If you're the mindless happy type now, that's the way you'll be when you grow up. You might lose some weight, your face may clear up, get a body tan, breast enlargement, a sex change, it makes no difference. Whether you're 13 or 50, you will always be the same."
-Mark Wiener, Palindromes

Tuesday, May 21, 2013

Hyperballad

We live on a mountain
Right at the top
There's a beautiful view
From the top of the mountain
Every morning I walk towards the edge
And throw little things off
Like car-parts, bottles and cutlery
or whatever I find lying around
It's become a habit
A way to start the day

I go through all this
Before you wake me up
So I can feel happier
To be safe up here with you
 

It's real early morning
No one is awake
I'm back at my cliff
Still throwing things off
I listen to the sounds they make
On their way down
I follow with my eyes 'til they crash
I imagine what my body would sound like
Slamming against those rocks
and when it lands
Will my eyes
Be closed or open?

I go through all this
Before you wake me up
So I can feel happier
To be safe up here with you

***

Saya bukan penggemar Björk, jadi hanya tahu beberapa lagunya, dan Hyper-Ballad (atau Hyperballad, saya lebih suka menulisnya begitu) bukanlah salah satunya. Makanya ketika pertama kali mendengarkan Mocca membawakan lagu ini di album Colours, saya tidak tahu kalau itu adalah cover version. Meskipun saya curiga karena sangat tidak biasanya Mocca menulis lirik seganjil dan sekelam itu.

Saya pernah membahas lagu ini bersama pacar saya. Waktu itu dia menganggap liriknya bercerita tentang bunuh diri, sementara saya merasa ada pesan yang lebih samar dalam liriknya, lebih dari sekedar bunuh diri. Tapi karena saya tidak bisa menebak lebih jauh, akhirnya saat itu saya sepakat saja.

Dari semua musisi yang meng-cover lagu ini, dari mulai Yeah Yeah Yeahs, Dirty Projectors, The Twilight Singers, sampai Big Heavy Stuff, menurut saya versi Mocca adalah yang paling pas. Semua musisi yang pernah membawakan lagu ini membawakannya dengan ceria (persis seperti versi aslinya), dan hanya dalam versi Mocca-lah saya mendengarkan kegetiran terselip di dalamnya.

Dua hari yang lalu Mocca manggung di Jogja. Malam itu saya beberapa kali berdoa (dalam arti sebenarnya) agar mereka membawakan Hyperballad. Entah berkat doa saya atau bukan, mereka betulan membawakan lagu itu! Sebelum nyanyi, Arina sempat ngomong begini, "Waktu pertama kali dengerin lagu ini saya gak tahu ini lagunya tentang apa, setelah saya nyanyiin akhirnya saya tahu, ooh begitu toh maksudnya..." Saya dan pacar saya saling bertatapan penuh arti, kemudian kami berusaha mendengarkan musik dan liriknya sekhusyuk mungkin.

Di tengah-tengah lagu pacar saya dengan semangatnya bilang kalau dia akhirnya tahu artinya. Menurutnya lagu itu bercerita tentang seseorang yang harus melewati berbagai fase yang melelahkan sekaligus mengerikan untuk bisa bahagia bersama seseorang yang dicintainya. Dan tidak bisa tidak, dia harus melewati semua fase itu dulu. Bukan pilihan, tapi keharusan. Semacam harus melewati badai super ganas dulu sebelum bisa mencapai perairan yang tenang menuju gugusan pulau berpasir putih yang hangat. Menurut saya itu agak klise.

Akhirnya saya melakukan perbuatan khas masyarakat modern ketika penasaran dengan sesuatu: googling! Ada banyak interpretasi tentang lagu ini di internet. Ada yang mengatakan lagu ini bercerita tentang hubungan vertikal antara manusia dengan Tuhan dan alam semesta, ada yang mengartikan "gunung" dalam liriknya sebagai simbol dari ego manusia, bahkan ada yang menghubungkannya dengan keadaan high yang dialami seseorang setelah mengisap ganja. Björk sendiri mengatakan lagu ini adalah tentang hal-hal yang kadang harus dilakukan oleh seseorang untuk menjaga keseimbangan dalam suatu hubungan yang sudah berjalan cukup lama. Hal-hal yang hanya bisa dilakukan sendirian. Hal-hal yang terkadang tidak pantas, mengerikan, dan bahkan destruktif. Segala hal abnormal yang justru harus dilakukan untuk menjaga kenormalan.

Apapun arti sesungguhnya, lagu ini selalu menyisakan perasaan yang aneh buat saya setiap kali mendengarnya. Perasaan yang merupakan campuran antara sedih, lega, perih, kosong, dan senang yang ganjil. Mungkin jenis perasaan yang sama dengan perasaan ketika kita duduk di bawah pohon yang rimbun setelah kita memutuskan untuk tidak jadi melompat ke jurang setelah teringat hari itu adalah hari pemutaran perdana film yang telah kita tunggu sepanjang tahun. Entahlah. 
*Saya ga bawa kamera, jadi minjem foto punya temen saya, Gebi.

Monday, April 22, 2013

My Top 6 Woody Allen Films

Perkenalan pertama saya dengan Woody Allen adalah ketika beberapa tahun yang lalu mas-mas penjaga Universal (rental film) merekomendasikan Cassandra's Dream waktu saya nanya, "judul apa yang paling pas buat mulai ngonsumsi film-filmnya Woody Allen?" Rekomendasi yang salah, karena menurut saya film itu jelek banget, bikin saya kapok buat nonton filmnya yang lain.

Baru beberapa tahun kemudian saya ditakdirkan untuk nonton filmnya yang "benar", Midnight in Paris, di acara nonton bareng di perpustakaan seorang kawan. Setelah malam itu saya bertekad untuk berburu film-filmnya yang lain. Sebuah tekad yang tak pernah saya sesali, karena sekarang saya benar-benar jatuh cinta pada Woody Allen.

Dari sekitar 40-an judul film (atau sekitar 70-an judul jika serial TV dan film TV ikut dihitung) yang ditulis dan/atau disutradarainya, saat ini baru ada 25 judul yang saya centang di akun icheckmovies saya. Maka sebenarnya kurang pas jika saya membuat daftar semacam ini, karena saya belum menonton semuanya. Tapi berhubung saya selo, inilah 6 film Woody Allen terbaik menurut saya (sejauh ini):

6. Oedipus Wrecks, dalam New York Stories (1989)
New York Stories adalah proyek film keroyokan yang dibuat oleh Francis Ford Coppola, Martin Scorsese, dan Woody Allen. Oedipus Wrecks, segmen yang ditulis dan disutradarai oleh Woody Allen adalah film pertama yang benar-benar membuat saya jatuh cinta padanya, sekaligus mengenalkan saya pada karakter neurotic yang selalu diperankan oleh Woody Allen sendiri yang muncul pada sebagian besar filmnya. Ceritanya tentang Sheldon, laki-laki neurotic yang suatu hari pergi ke pertunjukan sulap bersama ibu dan pacarnya. Si ibu diminta masuk ke dalam kotak ajaib oleh si pesulap di atas panggung, kemudian hilang secara misterius. Bahkan si pesulap pun tidak tahu ke mana perginya. Besoknya si ibu muncul sebagai bayangan raksasa di langit. Yang pertama muncul dalam kepala saya ketika melihat adegan itu adalah, "WTF? Cerita apaan nih?" Tapi lama-lama saya mulai menikmatinya, tertawa sepanjang film, dan tersenyum puas di akhir cerita. Besoknya saya nonton ulang, dan yakin kalau Woody Allen tu jenius.

5. Husbands and Wives (1992)
Banyak film yang membuat orang menjadi apatis terhadap hubungan romantis setelah menontonnya, tapi saya yakin tidak ada yang efeknya sebesar film ini. Dunia Husbands and Wives berputar di antara dua pasangan yang berteman sangat dekat, Gabe-Judy dan Jack-Sally. Di suatu hari yang cerah, tanpa tedeng aling-aling, Jack dan Sally tiba-tiba memutuskan untuk berpisah. Sebuah keputusan yang mengguncang dunia milik mereka berempat, karena berbagai masalah yang selama ini dipendam dengan rapi tiba-tiba keluar secara serempak. Ditambah dengan hadirnya tokoh-tokoh yang membuat pertanyaan-pertanyaan semacam "apakah aku bahagia menikah dengannya?" semakin sering berdengung di kepala. Dari tema dan cerita yang sederhana ini Woody Allen seolah ingin berkata bahwa kegelisahan yang dirasakan oleh pasangan ketika menjalani kehidupan pasca-pernikahan adalah hal yang wajar, atau bahkan sebuah keniscayaan. Kenapa saya memasukkan film pesimistis ini ke dalam daftar ini? Sederhana, karena mungkin ini adalah film paling jujur yang pernah saya tonton.

4. Match Point (2005)
Woody Allen pernah ditanya, dari semua film yang pernah dia buat, mana yang paling disukainya. The Purple Rose of Cairo, Bullets Over Broadway, dan Vicky Cristina Barcelona adalah beberapa di antaranya. Tapi konon, dari semuanya yang paling dia suka adalah Match Point. Film ini adalah satu dari sebagian kecil film Woody Allen yang bernuansa gelap, serius, sekaligus satir di waktu yang sama. Keserakahan dan ketidakpuasan (atau meminjam istilah Woody Allen: chronic dissatisfaction) yang membayangi kepala manusia menjadi tema yang kuat di sini. Bercerita tentang seorang petenis profesional yang hijrah ke London, menjadi pelatih pribadi, kemudian jatuh cinta pada tunangan temannya sendiri. Di awal film, ada analogi tentang bola tenis yang tepat menyentuh net ketika dipukul. Apakah bola itu kemudian akan jatuh ke sisi lawan atau malah kembali ke sisi si pemukul sangat bergantung pada keberuntungan. Di akhir film, analogi itu diterjemahkan dengan begitu apik! Film ini punya cerita dan dialog yang kuat. Akting para pemainnya juga bagus, terutama Scarlett Johansson. Tapi tetap saja, menurut saya bagian terbaik dari film ini adalah endingnya, sebuah twist yang merupakan muara dari segala kekacauan dan konflik dari tokoh-tokoh di dalamnya.

3. Sweet and Lowdown (1999)
Saya suka banget aktingnya Sean Penn di sini. Bahkan secara pribadi, saya menganggap aktingnya di I Am Sam yang fantastis itu masih kalah membekas dibanding aktingnya di sini. Sean Penn berperan sebagai Emmet Ray, seorang gitaris legendaris yang hidup pada tahun 1930-an. Emmet Ray menganggap dirinya adalah gitaris terhebat nomor dua di dunia. Nomor satunya adalah seorang gipsi dari Prancis bernama Django Reinhardt (ini tokoh nyata), orang yang mampu membuat Emmet pingsan setiap kali melihatnya bermain gitar. Emmet tidak pernah mau terikat dengan wanita atau hal-hal duniawi lainnya karena menurutnya seniman tidak membutuhkan itu semua. Hal itu yang membuat dirinya menjadi sosok yang arogan, angkuh, dan nyaris tidak memiliki emosi. Tapi perlahan Emmet merasakan perlahan ada yang berubah dalam dirinya setelah dia menjalin hubungan yang intens dengan Hattie, seorang perempuan bisu dengan kecerdasan yang cukup rendah. Yang menarik adalah, dengan skill bermain gitarnya yang tak pernah diragukan oleh siapa pun, Emmet menyadari ada satu yang kurang pada musiknya: kehadiran emosi. Entah mengapa, sosok Emmet Ray mengingatkan saya pada karakter Ian Curtis di film Control.

2. Zelig (1983)
Jika ada film yang membuat saya menyesal kenapa tidak menontonnya saat masih kuliah, itu adalah Zelig!. Dalam sebuah wawancara, Woody Allen pernah melabeli dirinya sebagai "Militant Freudian Atheist", dan film ini menegaskan pernyataan itu. Woody Allen adalah seorang Freudian sejati! Film ini adalah sebuah "dokumenter" tentang tokoh fiktif bernama Leonard Zelig (Woody Allen), seorang laki-laki misterius yang dijuluki sebagai 'manusia bunglon' karena kemampuannya untuk beradaptasi secara instan dengan lingkungannya, termasuk secara fisik. Jika berada di tengah musisi jazz berkulit hitam, dia akan berubah menjadi negro yang jago bermain saksofon. Jika berada di tengah sekumpulan Yahudi bertubuh tambun, dia akan segera berubah menjadi rabbi obesitas. Film ini menjadi menarik ketika hadir tokoh bernama Dr. Eudora Nesbitt, seorang psikiater yang tertarik untuk meneliti kasus si manusia bunglon. Dr. Eudora menggunakan teknik-teknik psikoanalisa dalam psikoterapinya. Melibatkan alam bawah sadar, hipnotis, asosiasi bebas, dll. Sungguh sebuah kuliah psikologi paling menyenangkan yang pernah saya tonton. Jika suatu hari saya jadi dosen psikologi, saya akan bilang begini kepada mahasiswa saya: "Lupakan A Beautiful Mind, lupakan Identity, lupakan Running with Scissors, mulai sekarang kalian saya wajibkan nonton Zelig!"

1. Stardust Memories (1980)
Ini adalah salah satu film favorit saya sepanjang masa! Yang bisa mengalahkan pesonanya di mata saya mungkin hanya Star Wars. Woody Allen selalu bilang bahwa dia sangat mengidolakan Federico Fellini, sutradara jenius asal Itali yang membuat , film yang susah banget saya cerna walau sudah nonton berkali-kali. Stardust Memories bercerita tentang Sandy Bates (yang diperankan oleh... Woody Allen. Siapa lagi?), seorang sutradara yang tidak mau lagi membuat film komedi setelah teman baiknya meninggal. Kematian temannya itu bukan hanya membuatnya sangat down, tapi juga menjadi titik balik dalam hidupnya di mana dia mempertanyakan kembali arti hidupnya dan semua film yang telah dia buat. Berhubung Woody Allen sendiri bilang film ini bisa dibilang semacam tribute kepada , ada banyak referensi dari film itu yang bakal kita temui di sini. Hitam-putih, tokoh utama seorang sutradara, dan visualisasi mimpi serta cuplikan-cuplikan film absurd si sutradara yang kerap dimunculkan adalah beberapa di antaranya. Meskipun Woody Allen dengan rendah hati bilang Stardust Memories tu 4, atau dengan kata lain, tidak sampai setengahnya jika dibandingkan dengan 8½, di mata saya film ini berada di level sempurna.

Friday, April 19, 2013

bus malam

“Anda mau ke mana?” tanya kondektur.
“Ke barat.”
“Tapi bus ini tidak menuju barat.”
“Ya sudah, ke timur saja.”
“Tidak ke timur juga.”
“Utara?”
“Tidak.”
“Selatan?”
Sang kondektur menggeleng.
“Lalu ke mana?” tanyaku.
“Ke atas.”
“Ke atas?”
“Ya, ke atas.”
“Ke arah bukit?”
“Bukan, lebih tinggi lagi."
"Puncak gunung?"
"Jauh lebih tinggi lagi."
"Ke mana sih? Bulan?"
"Ya, tidak jauh lah dari situ."
"Terserah deh. Saya ikut ke mana saja."
"Sudah punya tiket?"
"Belum, tadi saya tidak sempat beli. Bayar di sini saja ya? Berapa harganya?"
"Tidak pakai uang, Tuan."
"Lantas?"
Sang kondektur tersenyum sambil menunjuk dadanya. Pintu tertutup secara otomatis, perlahan bus mulai merangkak. Seketika aku merasa hatiku begitu... damai. Eh bukan, bukan damai, kosong lebih tepatnya.
"Selamat menikmati perjalanan, Tuan..."

Monday, April 8, 2013

Negeri Berdebu III: Epilog?

Sebenarnya masih sangat banyak yang ingin saya ceritakan tentang tanah Arab, tetapi tiba-tiba saya kehilangan mood untuk menuliskannya. Maka untuk menutup rangkaian tulisan tentang Negeri Berdebu yang prematur ini, biarkan foto-foto ini saja yang menggantikan saya bercerita. Salam.


















*Beberapa dari foto di atas juga ada di sini.

Saturday, March 30, 2013

Negeri Berdebu II: Sisi Gelap

"Assalamu'alaikum, brother..."
Saya mencari asal suara itu di antara para peziarah yang sedang melakukan ritual Sya'i.

"Assalamu alaikum, brother..."
Saya menoleh ke belakang. Seorang lelaki berusia 30-an tersenyum kepada saya. Seorang gadis kecil dengan raut sedih berdiri di sampingnya. Ternyata betul, sapaan itu ditujukan kepada saya.

"Walaikum salam."
"Do you speak English?" tanyanya.
"Yes, a little..."

Maka berceritalah dia. Lelaki itu adalah peziarah asal Pakistan. Dia pergi ke Mekkah bersama istri dan anak perempuannya yang kira-kira masih berumur 6 tahun. Dia bercerita bahwa uang mereka hilang dua hari yang lalu. Selama dua hari itu mereka harus meminta belas kasihan kepada peziarah lain untuk berbagi roti karena mereka tidak mampu membeli apa-apa.

Di ujung pembicaraan ia bertanya apakah saya memiliki uang yang bisa diberikan kepada mereka. Saya bilang saya tidak membawa uang, karena saat itu saya memang tidak bawa. Untuk apa membawa uang ketika sedang melakukan ritual berjalan dan berlari-lari kecil di antara dua bukit tempat dulu Hajar mencari air untuk Ismail ini? Saya bilang sebagai gantinya saya akan mendoakannya. Dia mengucapkan terima kasih, dan saya pun kembali berjalan ke bukit Marwah.

Saya tidak tahu cerita lelaki itu benar atau sekedar karangannya saja. Di Indonesia cerita sedih semacam itu kebanyakan hanya alat untuk mendapatkan uang dari mereka yang terlanjur terjebak rasa haru, jadi wajar jika saya menyimpan rasa curiga. Tetapi entah ceritanya benar atau tidak, semoga lelaki dan keluarganya itu hari ini berada dalam keadaan yang baik.

***

Seorang kolega ayah saya bercerita, tempo hari ketika sedang melakukan tawaf, dia merasa seperti dibantu malaikat yang membawanya terbang mendekati Hajar Aswad. Setelah puas menciumi batu yang konon jatuh dari surga itu, kolega ayah saya tersebut ditepuk pundaknya oleh "malaikat" yang tadi membantunya. Dia dimintai uang yang cukup besar. Ternyata yang membantunya bukanlah malaikat, melainkan joki.

Itu kisah nyata, dan memang banyak joki-joki semacam itu yang berkeliaran di sekitar Ka'bah. Mereka seolah berniat membantu para peziarah untuk mendekati dan mencium Hajar Aswad, tetapi setelahnya akan meminta bayaran yang besar. Jika yang terlanjur dibantu menolak membayar, para joki itu lantas akan mengancam dengan memasang raut wajah yang menyeramkan.

Selain perjokian, pencurian juga kerap terjadi di kalangan peziarah. Beberapa tahun yang lalu kakak saya sempat kebingungan di Mekkah karena dompet dan ponselnya dicuri. Kemarin tas yang dibawa ibu saya menyisakan lubang bekas guntingan di bagian bawah. Untung saja tidak ada barang yang hilang. Jika cerita si lelaki Pakistan di atas benar-benar terjadi, maka dia dan keluarganya kemungkinan merupakan korban dari salah satu pencuri yang berkeliaran dengan licin seperti tikus.

Ada lagi kisah tentang pedagang yang tidak jujur, pembawa unta yang suka memeras peziarah di Jabal Rahmah, supir taksi yang kerap mengerjai penumpangnya, dan lain-lain. Kisah-kisah penuh tragedi semacam itu banyak terselip di antara peziarah yang datang ke tanah suci untuk berserah diri. Berserah diri pada Yang Maha Menerima tentu saja, bukan berserah diri pada pencuri, penipu, dan pemeras.

Kemudian saya sadar. Tanah suci, atau apa pun yang memiliki kata suci di belakangnya, letaknya di atas Bumi, tempat segala kemungkinan bisa terjadi. Kesucian ditaburi oleh ketidaksucian-ketidaksucian yang berbaur nyaris lebur di dalamnya. Ketidaksucian bernama sisi gelap manusia.


Wednesday, March 27, 2013

Negeri Berdebu I: Kiblat

Salah satu pertanyaan yang paling sering saya dapat sepulang umroh adalah, "Gimana rasanya liat Ka'bah?" Saya selalu menjawab, "Nanti jawabannya kutulis aja..."

***

Beberapa waktu setelah memasuki Kota Mekkah, bus kami masuk ke dalam terowongan bawah tanah. Guide kami bilang kami sedang berada di bawah kompleks Masjidil Haram. Artinya kamu sudah hampir sampai. Tak lama kemudian bus keluar dari terowongan, berbelok menjauhi Masjidil Haram, dan berhenti tepat di depan hotel kami, sekitar 500 meter dari masjid.

Setelah menaruh barang dan istirahat sekedarnya di kamar, kami kembali turun dan bergegas menuju Masjidil Haram untuk melaksanakan ritual umroh. Saya melangkah ke luar hotel dengan hati-hati, pakaian ihrom yang saya kenakan membuat gerak sedikit terbatasi. Kacamata hitam segera saya pasang untuk melindungi mata dari matahari yang super terik, juga dari debu. Beberapa orang percaya debu yang beterbangan di tanah suci memiliki mukjizat untuk menyembuhkan, tapi saya tidak suka kelilipan.

Saya berjalan perlahan sambil menggandeng keponakan laki-laki saya. Sebentar lagi kami akan melihat Ka'bah. Saya suka dengan tempat-tempat yang dianggap suci, tempat-tempat yang memancarkan atmosfir yang menenangkan sekaligus menyenangkan. Karena itulah saya sangat excited untuk melihat Ka'bah. Bagi beberapa umat Muslim Ka'bah tidak hanya dipandang sebagai bangunan suci, tapi lebih dari itu, ia seperti memiliki "ruh" sendiri.

Tetapi semakin dekat jarak kami dengan Masjidil Haram, saya semakin kecewa. Bayangan saya akan Ka'bah selama ini adalah ia sebagai sebuah entitas suci yang berada di tempat yang tenang, damai, dan berjarak dari kebisingan kota. Citra tersebut ternyata sungguh berbeda dari kenyataannya. Masjidil Haram (dan Ka'bah yang ada di dalamnya) dikelilingi oleh simbol-simbol pembangunan yang sangat jauh dari kesan suci. Gedung-gedung, hotel, mall, alat-alat konstruksi, buldozer-buldozer yang mengupas gunung, para pekerja pembangunan terowongan. Angkuh, dingin, tergesa-gesa, dan bising. Sebuah antitesis sempurna dari kesucian.

Hingga pada akhirnya ketika kami sampai di teras Masjidil Haram, semangat saya untuk melihat Ka'bah hilang sudah. Saya berjalan dengan agak lesu memasuki King Abdul Aziz Gate, pintu utama Masjidil Haram. Samar-samar bangunan hitam itu terlihat oleh saya, tertutupi oleh orang-orang yang beraktivitas di dalam masjid meskipun hari masih pagi. Semakin jelas, semakin terlihat, hingga akhirnya saya menuruni tangga menuju pelataran Ka'bah dan berdiri tepat di depannya.

Untuk beberapa saat saya hanya berdiri terpaku. Jadi inilah benda yang dijadikan arah sholat umat Muslim dari seluruh dunia. Benda yang konon telah ditawafi oleh malaikat selama ribuan tahun sebelum Adam dibuang ke Bumi. Ukurannya lebih kecil dari yang saya kira, dan jujur saja, tidak semegah yang saya bayangkan. Orang-orang dengan berbagai rupa dan warna berjalan mengelilinya dengan khidmat. Sebagian bersujud di depannya. Sebagian lagi menangis sambil melafalkan doa. Yang lain duduk-duduk di tangga sambil memandangnya lekat. Saya membetulkan letak kacamata, dan tanpa alasan yang jelas, saya merasa mata saya basah.

***

Konon, Ismaël Ferroukhi, sutradara dari Le Grand Voyage, tidak menemukan kesulitan yang berarti ketika melakukan syuting untuk film itu di tengah-tengah peziarah yang tengah melakukan serangkaian ritual haji. Dia tidak harus repot-repot meminta para peziarah di sekelilingnya untuk tidak melihat ke arah kamera, karena mereka memang tidak melihatnya. Atau lebih tepatnya, tidak peduli. "Para peziarah itu seperti berada dalam dimensi lain," katanya dalam sebuah wawancara.

Gambaran itu cocok seperti apa yang lihat dan rasakan di sana. Orang-orang yang sedang bertawaf seperti tercerabut dari alam sadarnya. Pusaran manusia yang bergerak melawan arah jarum jam itu seolah tidak lagi bersifat sebagai kumpulan individu-individu, tetapi telah menjadi satu kesatuan yang solid, di mana masing-masing individu di dalamnya terdorong untuk melepaskan atribut ke-aku-an.

Di internet ada banyak sekali artikel-artikel yang membahas "kehebatan" Ka'bah. Dari yang menganggapnya sebagai pusat Bumi sampai yang membahas perihal Neil Armstrong yang melihat bayangannya dari Bulan. Saya tidak percaya dengan teori-teori semacam itu. Tapi saya percaya Ka'bah menyimpan energi yang sangat besar. Energi yang dibawa oleh jutaan peziarah dari seluruh dunia yang tak henti datang setiap tahunnya.

Berbagai macam energi dan emosi yang dibawa oleh para peziarah diserap oleh Ka'bah dan lingkungan fisik di sekitarnya. Energi yang datang dari rasa haru, gembira, pengharapan, serta penyerahan diri. Kumpulan energi yang "memabukkan" itu kemudian dipantulkan kembali ke arah peziarah yang mengelilinginya. Itulah kenapa para peziarah  seperti berada pada dimensi lain ketika berhadapan dengannya. Dan itulah kenapa saya pada akhirnya mengabaikan kesan yang saya dapat dari simbol-simbol peradaban yang berada di sekelilingnya dan hanya berfokus pada bangunan berbentuk kubus itu.

Bangunan yang menjelma lampu, dengan laron-laron berwujud manusia yang tak henti terbang mengelilinginya.